Wednesday, August 17, 2016

Kereta Pembawa Kabar Merdeka

Oleh: Gusti Aditya

Misi hari ini sangat mudah. Ya, menculik dia. Sukarno versi wanita.

Tak ada mandat secara langsung dari dia, namun hanya pesan tersirat khas anak muda jaman sekarang. Menegok jadwal kuliah yang longgar, yasudah, mari saya bawa anda menuju Rengasdengklok versi saya dan dia.

01:15 siang, Stasiun Lempuyangan:
"Aku ditemani kedua rekanku. Sahabatku, bahkan sudah aku anggap menjadi saudaraku. Asal kalian tahu saja, jangan ganggu mereka, soalnya mereka sudah berpacaran."

02.55 agak sore. Stasiun Purwosari:
"Dia berkata bahwa aku turun di stasiun ini. Ternyata hanya sebuah lelucon. Aku lelah, namun aku masih sanggu tertawa. Untung dia bercanda melalui pesan singkat, jika saat itu ia berada di sampingku, mungkin ia sudah tinggal nama saja. Benar! Nama yang terukir indah di impulse otak busukku.

02:56 agak sedikit mulai sore. Mencari halte BST menuju Stasiun Solobalapan:
"Di kotaku, Jogja, halte trans dijaga oleh seorang operator. Berbeda dengan di kota ini, anda tinggal duduk manis di halte. Jujur, aku bingung. Namun segera aku lupakan setelah melihat tatapan hangat dan senyuman sejuk Warga Solo."

03.45 sore, Stasiun Solobalapan. Entah balapan dengan siapa:
"Menunggu itu hal yang sulit. Ketika menunggu dia, entah mengapa yang ada hanya rasa senang. Mungkin aku saat itu sedang tidak merasa menunggu."

04.15 sore, masih di Stasiun Solobalapan:
"Aku sedang mengupil. Aku bentuk menjadi lingkaran. Aku leletkan di bawah kursi tunggu. Kelak kursi tersebut akan diduduki oleh orang -orang penting lainnya, selain aku. Percayalah."

05.30 sore menjelang Magrib, dia datang:
"Mungkin anda mengira bahwa kata-kata mendayu khas gadis Jogja yang akan terucap, nyatanya tidak. Malah yang ia katakan lebih mengiris ketimbang kasus sianida di ruang sidang selama berbulan-bulan. Ya, ia mengataka: 'Mana powerbank?!'"

05.59 surup hampir malam:
"Di dalam ruang tunggu. Biasanya bosan. Kali ini terasa menyenangkan. Karena kami membahas monyet yang doyan makan kentang di Jurug dan UNS."

06:01 malam:
"Dia hafal jadwal kereta. Aku curiga, jika dia seorang masinis."

06:11 malam, masih di ruang tunggu:
"Ada pasangan tua yang sudah renta duduk di depan kami. Memang sih, di ruang tunggu tersebut hanya ada 2 pasangan: pasangan tua tersebut dan pasangan muda (kami). Aku menunjuk pasangan tua tersebut, ia juga melihat mereka, lalu aku berkata, "Kelak kita akan seperti itu. Tapi aku menjadi yang wanita saja," Ia tertawa.

06:16 malam, aku tak mau diam:
"Aku bercerita tentang Peristiwa Rengasdengklok kepadanya. Dia hanya diam. Mungkin bosan. Aku bersandiwara dan berlagak seperti anggota persiapan kemerdekaan. Aku ambil kertas dan menuliskan kurang lebih seperti ini:

Proklamasi,
Kami (nama dia) dan (nama saya), menyatakan dengan ini akan menaiki kereta bersama,

Hal-hal yang mengenai gangguan monyet-monyet nakal, akan diselesaikan dengan penuh cinta dalam tempo selama-lamanya.

Perbatasan Solo-Jogja
16 Agustus 2016

Presiden dan pacarnya presiden

Dia bilang apa yang aku lakukan ini norak. Setidaknya ia tersenyum dan menyimpan kertas proklamasi itu. Namun belum ditanda tangani. Aku menyuruh dia menanda tangani esok hari jam 10 pagi."

06:30 malam, menunggu kereta:
"Orang-orang hanya terdiam seakan bosan menunggu datangnya kereta. Tidak begitu dengan kami, kami banyak bercerita tentang semua hal. Mulai dari dia yang suka melihat monyet, hingga aku yang sedang tidak percaya diri karena monyet-monyet tersebut."

07:30 malam, kereta datang:
"Kami masuk kereta. Duduk di depan mbak-mbak yang sibuk ngerumpi tingkahku terhadap dia. Yasudah, aku mengajak dia untuk berganti tempat duduk. Bukan karena malu, tetapi karena takut mbak-mbak tersebut naksir aku."

07:45 malam, kereta berangkat:
"Aku takut. Keretanya sangat cepat. Dia santai-santai saja, ya, karena dia seorang masinis."

07:46 malam, kereta bergerak cepat:
"Aku melihat dia sibuk dengan tasnya. Aku yakin, dia panik karena aku menyembunyikan dua tiket kereta kami di tas mahalku.

07:55 malam, dingin dan petugas tiket datang:
"Aku mengeluarkan tiket. Dan dia hanya diam. Mungkin ia sedikit marah. Namun aku beri satu tiket yang telah dilubangi oleh petugas. Ia memegang tiket yang aku beri, namun hanya diam. Aku keluarkan dompetku, aku bilang, "tiketku aku masukan ke dompetku. Aku yakin, kamu bakal melakukan hal sama seperti apa yang aku lakukan." Ia diam. Lalu cepat-cepat memasukan tiket tersebut di tasnya."

08:10 malam, ia ngantuk:
"Ia menunduk dan memeluk tasnya. Aku tenggerkan lengan ku di kepalanya yang menunduk. Ia diam saja. Lalu terbangun. Aku bilang, "kita sudah sampai Bandung," ia tidak kaget, malah tersenyum.

08:30 malam, aku dan dia terus bercandaan:
"Anda tidak boleh tau banyak. Ini sedikit rahasia. Kapan-kapan aku ceritakan."

08:45 malam, sudah memasuki daerah Klaten:
"Di depan kami ada seseorang bapak-bapak yang bermain Plane Tycoon (aku hafal theme songnya) dan ibu-ibu beralis tebal yang sedang terlelap. Namun aku tetap mengajak ia bercandaan. Mungkin orang lain bilang, "ceweknya disantet pakai apa tuh.""

08:50 malam, aku khawatir, ayahnya mencemaskan anak sulungnya yang sedang aku culik:
"Aku sedang berusaha untuk mendaratkan kepalanya di pundakku. Kalian pasti tahulah aku akan berhasil atau tidak."

09:00 malam, sudah sampai Prambanan:
"Ia bersorak karena hampir sampai. Namun aku menyusun sebuah metode: waktu berlalu cepat, karena ia menikmatinya. Jangan pura-pura senang, sayang."

09:10 malam, sudah sampai Maguo:
"Aku bertanya pada dia, "Tadi di Stasiun Prambanan tidak ada Candi. Sekarang di Stasiun Maguo, tidak ada orang bermain bola," Ia mengalihkan wajah dariku. Aku yakin, ia sedang tersenyum."

09:20 malam, sudah sampai Stasiun Lempuyangan:
"Tidak ada hal spesial. Aku hanya bilang, "Salam buat ayahmu. Terimakasih telah membuat kamu," kami tertawa dan mendapat tatapan sinis dari penumpang lain. Sejenak aku menganggap penumpang lain adalah Tentara Jepang. Santai, aku punya Sukarno versi wanita."

09:33 malam, penitipan motor:
"Misi penculikan: selesai dengan sukses. Aku berbisik pada Bella (motorku): suatu saat akan aku kenalkan kamu dengan dia, Bell."

Apakah anda menganggap apa yang aku tuliskan ini hanya sebagian imajinasiku? Terserah. Yang terpenting adalah ia saat ini sedang membaca tulisan ini sembari tersenyum manis.

Aku senang hari ini berhasil menculik dia. Menghabiskan setengah hari bersamanya. Semoga dia juga merasakan hal yang sama. Maaf tidak bisa memberimu permata. Aku hanya sanggup memberimu rasa malu karena segala tingkah lakuku yang sulit diterima akal dan logika.

Semoga kamu menanda tangani teks proklamasiku dan menyimpan tiket kita.

Mybllshtprspctv®

Sunday, August 7, 2016

Pemuda Desa Ingin Kuliah

Oleh: Gusti Aditya

Ribuan orang berdatangan di tangga gedung yang menjadi icon kampus ini. Kamera-kamera mahal pun terlihat sibuk mengawasi delapan ribu Gadjah Mada Muda yang lihai menggerakkan pom-pomnya. Namun yang saya lakukan hanya satu, yaitu membayangkan adik-adik kelas SMA saya yang sedang berselebrasi di antara ribuan peserta lain.

Bukan masalah embel-embel percintaan, pencitraan, geng-gengan dalam sekolah, atau pun organisasi yang mengikat dalam SMA, namun hanya satu hal yang membuat saya membayangkan mereka, yaitu perjuangan mereka untuk memakai almamater paling sederhana di Indonesia. Ya, almamater karung goni. Almamater Universitas Gadjah Mada ini.

Jalur pertama dalam perjuangan masuk sebuah universitas dengan Balairung sebagai gedung paling indahnya, adalah hal yang cukup mustahil. Bukan bermaksud menghina almamater berwarna ungu milik SMA saya, namun ini adalah sebuah realita yang harus segera dienyahkan, fakta yang harus segera digugurkan, serta mitos yang harus ditenggelamkan.

Bukan berarti SMA saya adalah SMA yang terbelakang. Akan saya tempeleng moncong anda jika memiliki paradigma seperti hal di atas. SMA saya ini bukan SMA 'sunyi-senyap', namun SMA saya ini sedang dalam tahap mengepakan sayap. Diusia yang terbilang 'muda' dalam ukuran sekolah, prestasi yang diperoleh pun terbilang sangat memuaskan. Seakan sedang dalam tahap sempurna untuk menjadi yang tersempurna.

Di balik gemerlapnya langkah sempurna tersebut, pasti selalu ada perjuangan yang harus ditempuh. Ibarat suatu perang, jika ingin menang, pasti selalu ada serdadu yang mati terkena parang. Ibarat seri animasi Dora the Explorer, harus ada Peta sebagai penunjuk arah yang pintar.

Dalam kesempatan yang berbahagia kali ini, saya ingin menuliskan sebuah kisah para pemuda desa yang menjadi serdadu dan menjadi penunjuk arah berupa peta untuk para adik-adiknya. Untuk mempersingkat karakter, mari kita mulai,

Berlatarkan sawah dan kebun singkong yang di tetesi embun setiap pagi, terdapat sebuah sekolah yang berdiri kokoh dan bahkan belum genap menginjak usia 20 dalam hidupnya. Pernah menyandang status sebagai 'SMA Kota', namun kini hanyalah sebagai pelengkap di tingkat kotamadya. Apakah yang terjadi dengan para penghuninya?

Jadi begini, ibarat sebuah tim sepakbola, sekolah ini tak bisa di dianalogikan menjadi Chelsea yang mendapatkan suntikan dana luar biasa dari saudagar minyak asal Rusia. Ataupun Man. City dengan kucuran dana dari juragan minyak asal Saudi. Tanpa mengurangi rasa hormat, Utpala dapat di sandingkan dengan Leicester City dengan semangat dan strategi yang mereka miliki.

Pepohonan yang lebat tak membuat langkah penghuni sekolah ini  terhambat. Menengok filosofi yang dimiliki pohon lebat, malah membuat semangat yang kami miliki kian mencuat. Filosofi tersebut berbunyi seperti ini: pohon yang berada di hutan hujan, persaingan untuk tumbuh dan berkembang semakin sengit, karena sumber cahaya hanya didapatkan oleh pohon yang tertinggi.

Berbagai paradigma yang menyesatkan terus saja bergentayangan. Mulai dari 'SMA desa mau kuliah di kota? Hahaha' hingga 'Lupakan. Itu percuma' adalah makanan pokok bagi kami. Paradigma menyesatkan tersebut bahkan terus saja menjadi andalan dari tahun ke tahun. Hal ini berdampak dengan sedikitnya lulusan Utpala yang berada di Kampus Kerakyatan.

Bagi penghuni Utpala yang lolos di Universitas Gadjah Mada, dapat saya kategori kan sebagai murid yang bandel. Bagaimana tidak bandel, sudah dicekoki mindset dan paradigma seperti itu, tetap saja mendaftar dan mencoba peruntungannya. Ibarat acara TV, UGM seperti acara kuis yang dapat mengadu nasib mereka. Namun, secara pribadi, istilah 'keberuntungan' cukup nggateli di telinga saya.

Lolos tentu bukan tanpa halangan. Secara pribadi saya melawan kata-kata yang dilontarkan guru saya yang berujar bahwa jurusan yang saya pilih adalah 'jurusan wong edan'. Bahkan teman saya mengadu keyakinan dengan temannya sendiri yang berucap "kamu di kelas jarang rangking. Jangan mimpi!" Kepadanya.

Berat bukan? Ternyata tidak. Sekolah di desa dengan tokoh-tokoh Marhaen sebagai periasnya membuat karakter kami cukup unik. Ketekunan petani dan keuletan para pembuat bata yang setiap hari kami lihat, seakan meresap melalui pori-pori kulit dan merasuki sumsum di setiap tulang di tubuh ini. Belum lagi role model di Utpala yang menggambarkan sikap pantang menyerah dan disiplin tinggi, ya, siapa lagi jika bukan guru-guru di Utpala.

Saya hanya dapat menggelengkan kepala kepada rekan-rekan yang menyerah terlalu awal. Bahkan dapat dikatakan menyerah sebelum bertanding. Mereka menggambarkan selama tiga tahun sekolah di Utpala, mereka tidak mendapatkan apa-apa! Tidak ada pelajaran yang mereka ambil dari setiap peristiwa dan kegagalan yang dilaluinya. Padahal, selembar daun yang jatuh di Utpala, terdapat pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Kita bersekolah di desa bukan berarti mental kita menjadi tempe. Jika mereka yang melabeli kita mental tempe, setidaknya dapat kita olah tempe tersebut menjadi sayur tempe, sambal tempe, keripik tempe atau olahan tempe lainnya. Hal tersebut yang menggambarkan bahwa penduduk desa merupakan sumber daya potensial penduduk kota. Bakal mati kelaparan penduduk kota jika tak ada penduduk desa.

Namun bukan berarti bahwa kita orang desa yang udik. Hanya faktor demografi saja yang membuat sekolah kita mendapatkan julukan 'desa'. Untuk keseluruhan, metode dan fasilitas setara dengan sekolah kota lainnya. Ibarat perang, kita sedang diasingkan untuk menentukan strategi yang akan digunakan selanjutnya.

Jangan pernah malu untuk melangkah maju. Kita tak akan pernah bisa  memutar waktu (kecuali anda seorang time traveler). Sekolah kota ataupun desa, jika berusaha ekstra, pasti akan mendapatkan gelar juara. Untuk anak sekolah desa yang ingin menembus studi di Kampus Biru, kuncinya ada 4: belajar, berusaha berdoa, dan restu orang tua.

Sudah, tugas adik-adik sekarang hanyalah belajar, namun jangan lupa dengan dunia rekreasi kalian. Jadikan kakak-kakakmu ini sebagai contoh buruk. Kami masih malas dalam belajar, meragukan kapasitas diri, hingga kurangnya motivasi. Semoga hanya kami yang merasakan betapa sulitnya menembus kampus ini, jangan sampai adik-adik Utpala diberikan perjuangan ekstra seperti kami. Semoga kami saja yang merasakan, adik-adik jangan sampai.

Gusti Aditya, BADUGAMA15, di balik rindangnya pepohonan Banguntapan Dua.

Sunday, July 24, 2016

Pasar Kangen Untuk Orang yang Tidak Kangen


Oleh: Gusti Aditya

Berdiam diri di keramaian adalah bukanlah hobi saya yang sesungguhnya. Namun mau bagaimana lagi, saya sedang diselimuti rasa kangen, maka pasar inilah yang menjadi destinasi selanjutnya setelah bernostalgia dengan Pokémon Go.

Setelah berhasil memutari pasar ini dan membeli sebuah buku komik buto ijo, maka clingak-clinguk dan embuh harus melakukan apa yang terjadi selanjutnya. Kemudian terbesit dipikiran saya, bahwa saya memilih meneliti tingkah laku manusia yang mengunjungi pasar ini.

Lucu memang, sekitar lebih dari setengah pengunjung, menghadiri pasar kangen dengan raut wajah yang tidak kangen. Kasarannya mereka hanya numpang mampir atau sekedar update sosial media yang berada di hand phone yang sedang mereka genggam. Ada yang berfoto hingga sibuk jajan dan akhirnya...memfoto jajanan tersebut.

Apakah tindakan tersebut salah? Sebenarnya tindakan tersebut tidaklah sepenuhnya salah. Saya berasumsi bahwa dunia digital dan dunia maya yang sedang digandrungi anak muda era milenium tidak bisa dilawan dengan mudah. Bahkan adanya pasar ini, secara tidak langsung, bertujuan untuk mengundang manusia milenium untuk mencicipi segala hal yang berada di tempo dulu.

Apakah saya adalah manusia yang paling sempurna untuk mengunjungi pasar ini? Nein! Saya sebenarnya adalah produk antara zaman 90 dan milenium (mungkin anda juga). Lahir di era reformasi dan bayaknya aksi demo, membuat selera saya agak kuno. Bagaimana tidak, saat remaja lain asik mengoleksi iTunes Justin Bieber, saya malah kegirangan ketika mendapatkan vinyl salah satu band britballadrock, Queen, Sheer Heart Attack dari saudara saya. Jadi, pasar kangen adalah suatu dimensi yang saya tembus beberapa puluh tahun sebelum saya lahir.

Kembali kepada para wajah milenium. Saya melihat bahwa pasar ini secara gamblang mendoktrin bahwa 'tempoe doeloe' adalah nomor 'satoe'. Mereka secara tidak sengaja dijejeli lantunan jemari lentik Jimmy Hendrix hingga uniknya kerajinan wayang kardus yang sangat nyentrik.

Tidak ada salahnya dong jika tempat ini menjadi destinasi foto anak milenium? Saya rasa fine-fine saja. Saran saya sih, jika ingin mengunjungi tempat ini, kantungi dulu lah gadgets yang anda bawa. Rasakan indahnya Jogja tempo dulu. Jogja yang gagah dan Jogja yang dipenuhi bel sepeda. Karena pasar kangen hanya untuk orang yang kangen. Namun, sah-sah saja jika hanya sekedar hunting foto selfie (selfie lho ya. Bukan foto untuk jurnalistik) untuk mengisi kolom-kolom sampah di sosial media anda.

Jadi, dapat saya simpulkan bahwa pasar ini adalah tempat untuk manusia yang tidak kangen. Ya, setidaknya para manusia milenium dapat merasakan apa yang ayah dan ibunya rasakan di masa lalu. Tentunya, sembari check in di Path.

Mybllshtprspctv®

Saturday, July 16, 2016

Pokémon Go BERBAHAYA!!

Oleh: Gusti Aditya

"Lo ke mana aja, sih? Di chat gak bales terus. Mati, ya?" Ucap salah satu wanita yang sedang free call denganku. Aku balas saja dengan enteng, "Aku dari Masjid oi, santai," aku tahu ia hendak menjawab apa dan bagaimana ekspresinya, "HAH?! LO TOBAT?!" Nah, iyakan. *ala Amezing Vidio.

Banyak para remaja yang biasanya ke Masjid setiap seminggu sekali (Juma'tan), kini rutin hampir setiap hari (jika PokéBall habis). Entah hal ini termasuk perbuatan yang mendatangkan pahala atau malah memupuk dosa. Ah, yang penting Gotcha! Gak nding, urusan akhirat nomer satu. Nomer dua ya Pikachu.

Mungkin banyak di antara kalian yang memiliki kasus serupa atau mirip-mirip dengan apa yang aku alami. Mulai dari kasus unik hingga aib sejak Niantic Inc menggarap game keduanya yang berjudul Pokémon Go. Menurutku Niantic Inc sangatlah cerdas tentang marketing. Banyak para jomblo bapuk yang kesulitan mencari kesibukan, kini memiliki alasan sibuk untuk berpetualang.

Sayang sungguh disayang, di balik superiornya Pokémon Go, tentu ada titik minor yang membawa congor para haters mengebor. Ada berita buruk. Benar-benar buruk. Adalah aku harus mengangguk setuju dengan congor yang sedang mengebor tersebut. Bagaimana tidak? Setiap argumen yang keluar, sungguh membuat hatiku terenyuh. Mulai dari hal intelijen, hingga Pikachu yang berada di Kawah Ijen.

Di sini aku tak ingin memperkeruh suasana, namun hanya ingin membutekan segala hal yang ada. Aku coba mengeluarkan argumen-argumen baru yang tentunya mendukung para haters Pokémon Go. Saya memohon maaf kepada para trainer Pokémon Go di seluruh dunia, Tim Mystic Yogyakarta, dan kamu yang aku cinta. Mari,

Pertama adalah, POKÉMON GO MEMBUAT KITA MEMNGINGAT MASA MUDA. Hiii~ dampak negatif yang satu ini sungguh mengerikan. Di samping kita mengingat kembali jika memiliki cem-ceman Pokémon yang kita puja sejak kecil, mimpi kita untuk berburu dan meramu Pokémon bakal terwujud. Bagaimana? Serem kan Pokémon Go? Dampak negatifnya itu lho. Medeni, Dap.

Ada lagi. Kita juga bakal mengingat kembali acara TV minggu pagi tahun 90an. Nah, tentunya, hadirnya Pokémon Go bakal menimbulkan animo permintaan masyarakat untuk memutar kembali serial-serial kartun seperti Pokémon, Digimon, Yu-Gi-Oh!, dan lainnya. Tentu saja hal ini bakal mengusik acara-acara mendidik seperti acara masak berlabelkan musik, joget dangdut asik-asik, hingga gosip yang mengulik kehidupan para artis berotak sikit (sebagian).

Kedua adalah POKÉMON GO MEMUNCULKAN PARA PENGUSAHA MUDA. Wuihhh bahaya bukan main, kan? Bagaimana jadinya jika kekayaan Harry Tanoe digeser oleh anak ingusan yang gemar bermain Pokémon? Bisa jadi anak tersebut membuat chanel TV dan memutar lagu-lagu partainya yang membakar semangat para generasi muda. Nama partainya bisa PERGEOT, PERKACHU, atau PINSIRDO. Terserahlah, karepmu. Marilah seluruh Pokémon yang ada, ulurkan ekormu ke depan. Wah repot.

Kok anak ingusan tersebut bisa kaya? Gini lho, gini: rumahku di daerah Bantul. Pinggir Kota Jogja. Bayangkan saja, sekomplek kira-kira ada sekitar sepuluh anak yang bermain game ini. Belum lagi komplek sebelah. Dan asal teman-teman tahu, PokéStop dan Gym hanya ada di depan rumahku dalam radius 3 kilometer. Jika aku membuat sebuah warkop kecil-kecilan dan BC di BBM "Lure gratis di jam 8.00-Kemeng. Asal pada jajan minimal 25k". Phe, Dap? Jutawan dalam sehari, kan. Apakah bahaya? Bahaya dong. Kok bisa? Pokoknya bahaya!

Alasan ketiga mengenai KESEHATAN. Kulit teman-teman dijamin menjadi menghitam karena sering mengejar ONIX di GSP siang-siang meteteng. Lalu bakal mengeluarkan keringat dan tentunya bau badanmu itu lho, dikondisikan. Kesehatan anda tentu akan menjadi lemah, capai, lunglai, lemas, letih, lesu, asu, dan lain-lain. Lebih parahnya, berat badan teman-teman yang overload akan mulai mengering dan menampakkan tulang-tulang yang menjulang. Serem ya Pokémon Go.

Last but not least, TEMAN-TEMAN YANG ANSOS, TERPAKSA AKAN KELUAR DAN MENCARI TEMAN. Ini yang paling menyeramkan, Dap. Bisa dibayangin, kan, anda punya teman jarang keluar rumah, tiba-tiba menghampirimu yang lagi tengtengcrit di cakruk sambil galer. Lebih seremnya, dia berkata "Main Pokémon Go? Tim apa? Valor? Wah sama. Di sana ada Gym nganggur. Serang, yuk?" Wihhh emang bahaya ini game.

Well, di media sosial belakangan ini muncul stigma "game itu kita yang memainkan, bukan kita yang dipermainkan". Setuju! Jika boleh saya akan memberikan jempol untuk yang membuat kalimat tersebut. Emm, tapi, bukankah hal dasar dari sebuah game itu adalah memberi reduksi bagi sebuah hal yang bernama 'jenuh'? Jujur, aku bosan dengan segala hal yang berkembang selama ini: game-game bajakan atas nama kartun terkenal, mbak-mbak serigala yang lagi dribel, hingga anak-anak muda yang berjoget ala orang menjemur pakaian. Kami rindu bermain keluar, tayangan TV bermutu, dan kawan-kawan lama yang begitu hangat. Itu saja.

Tentu, ada efek negatif yang game ini timbulkan dengan melihat munculnya beberapa pemberitaan yang tidak mengenakkan. But, game ini adalah penawar untuk kami, para generasi gundu, di tengah terjangan benda elektronik yang kian maju. Apakah yang kami lakukan ini lucu? Tentu! Karena kami rindu era sembilan puluh.

Yuk kita main game secara bijak. Jika sedang di jalan, ya sudah fokus berkendara. Ajak teman-teman saja jika ingin berburu Pokémon. Dijamin lebih asik dan seru. Oh iya, jika ingin ngobrol-ngobrol cantik atau ingin menggugurkan pendapatku, monggo, di line saja. Id: gustiaditiaa.

Saya gila, ini tulisan ngawur, jika anda menanggapi, ya anda lebih gila dari saya. Tetapi bukankah hal gila lebih mengasyikan dari sebuah hal-hal yang spaneng? Enggak, ya? Yauwes.

Hmm, ini yang terakhir. Judul tulisan ngawur ini lebih baik aku ganti saja menjadi: "Pokémon Go BERBAHAYA!! Bagi yang Merasa Dibahayakan". Wes, rampung.

Mybllshtprspctv®

Tuesday, July 12, 2016

Bunga yang Terus Berwarna Jingga



Oleh: Gusti Aditya

Hingga kapan pun, bunga ini tetap berwarna jingga. Akan aku mulai,

Engkau terus melemparkan kalimat kenangan dengan penuh nada tanda riang. Aku hanya sanggup menggeleng, bukan karena aku sombong dan angkuh, namun pada saat itu adalah sebuah titik di mana aku hendak melangkah untuk menghapus segala yang ada. Engkau goreskan sebuah cerita yang sangat berarti dalam kehidupanku. Engkau memberi pelajaran yang mampu membuatku berdiri tegak hingga kini. Ya, itu benar.

Sudahlah sudah. Aku sudah hendak melangkah kedepan. Melangkah abaikan segala sesuatu yang dapat mengembalikan luka. Dapat mencapai sebuah momentum di mana itu adalah sebuah duka di masa lalu yang terus mengiris pelan dan perlahan hingga kini. Hendaknya sebuah pahlawan besar jua memiliki rasa sakit di masa lalunya. Entah apa jadinya jika aku berdiskusi dengan Bung Karno, lalu aku singgung masalah Ende. Kurang lebih bisa muncul dua jawaban: ia bercerita dengan selencer State Express 555 di tangan kirinya atau aku mendapat bogem mentah menggunakan tongkat di tangan kanannya.

Dunia itu berputar dan entah kapan berhentinya. Begitu pula kehidupan yang di lalui oleh manusia. Jika manusia telah dilahirkan di dunia, mungkin malaikat hanya bisa mentertawakan sembari berkata "Kasian nian dia, di lahirkan di tempat penuh amarah. Hahhahhah," Ya. Eh, tidak nding. Aku hanya bergurau. Namun jika berbicara tentang dunia yang berputar, aku serius. Ya, setidaknya sejauh ini sains berkata bahwa dunia itu berputar. Mungkin esok ada sekumpulan orang pandai nan dermawan yang berkata bahwa dunia itu tidak berputar, namun 'menggelinding'.

Beberapa hari kita lewati. Siang dan malam kita lalui. Hanya satu hal yang aku rasakan: ngantuk, dap. Aku sangat berjaya saat Bulan Puasa. Tidur hanya tiga jam sehari pun aku sanggup dan aku pun mampu. Entahlah ini permainan Tuhan yang bagaimana lagi, namun aku sungguh didera kantuk yang luar biasa. Suatu saat aku pasti akan berkata jika kantuk adalah sebuah mesin yang dapat mematikan kenangan seseorang.

Beberapa tahun berpisah lalu dipertemukan kembali bukanlah hal yang mudah. Beberapa dilema muncul bergantian bak petani miskin yang mengais sembako kepada tuan tanah. Beberapa perkataan yang terlontar pun berlandaskan azas tidak adanya kepentingan dan terkesan mentah. Atau terkesan hanya untuk meredam canggung yang menyelimuti segala kebersamaan ini.

Niat menulis tulisan ini muncul ketika laptop tuaku memutar lagu Neck Deep yang berjudul December versi akustik. Aku tak pandai berbahasa Inggris dan aku pun tak mampu mengintepretasikan lagu tersebut dengan lancar, namun entah mengapa, saat lagu ini mengalun, terlontar lah kalimat demi kalimat dengan begitu deras. Jika kamu membaca tulisan ini, tak ada salahnya untuk mendengarkan lagu yang aku sebutkan tersebut.

Ini merupakan keresahan yang berpijak. Tidak seperti tulisan sampahku yang sebelum-sebelumnya yang sama sekali tidak berpijak. Ngambang lah kasarannya. Ada sebuah kausalitas antara diriku dengan dirinya yang dipertemukan secara mendadak. Hipotesis pun belum dapat aku ramu dan aku jabarkan dengan gamblang. Aku terdiam di akhir tulisan ini. Mungkin hanya beberapa kalimat ini yang dapat aku utarakan:

Bertahun-tahun kita tak tak bertemu. Hanya sanggup meredam sebuah rindu. Aku terkesan seperti menjauhimu atau apa pun pradugamu terhadapku. Yang jelas hanya satu, kita sekarang telah bertukar kontak kartu, lalu kapan kita akan memulai sebuah pesan tanda rindu?

Mybllshtprspctv®