[Buku] Download Novel Seri Animorphs 1-Tamat


Oleh: Bima Astungkara

Tidak terasa sudah sepuluh tahun sejak Gramedia hanya mencetak seri yang ke-29 dan otomatis saya berhenti membaca buku ini bersama perasaan yang tak menentu. Saya menunggu penjelasan rasional dari pihak Gramedia, mungkin akan mencetak ulang dengan kemasan yang lebih apik. Eee yang saya dapat malah penjelasan unik nan antik, menurut kabar angin, edisinya dihentikan karena banyak buku-buku baru yang juga bagus buat dibaca.

E-book yang ditawarkan sebenarnya kumpulan pribadi Gusti Aditya yang ia koleksi dari tahun 2012. Ia hanya mengkoleksi, namun belum pernah membacanya, sedangkan saya tidak pernah mengkoleksi, namun sudah membaca seri 1-29. Itu pun kala saya menginjakan kaki di SMP N 16 Yogyakarta, sama seperti Gusti.

Gusti memberikan kesempatan bagi saya untuk menulis sebuah pembuka, suatu kehormatan memang.

Novel ini adalah salah satu dari ribuan novel favorit saya sejak kecil. Barangkali novel ini adalah pembentuk karakter saya di dewasa ini. Saya jadi mengingat gagasan Aristoteles yang mengatakan animal rationale. Meski tidak sekompleks manusia, binatang tetaplah memiliki pikiran. Dia bisa merasa, bisa membuat perencanaan dan sebagainya.

Animorphs mengajak kita terbang menaiki angin termal di dalam tubuh seekor Elang, dengan tatapan mata lasernya yang bisa melihat kutu rambut sejauh 300 meter. Atau menjadi seekor Kelelawar yang bisa melihat dunia didalam kegelapan dengan memancarkan suara ultrasonic. Atau menjadi seekor celurut yang selalu dihantui rasa takut dan kewaspadaan. Melalui apa? Ya, melalui perubahan wujud manusia menjadi hewan.

Animorphs adalah Novel ringan yang dibuat secara berseri. Setiap seri memakai sudut pandang salah satu tokoh Animorphs secara bergantian sehingga kita juga diajak mengenal lebih dekat kepribadian masing-masing tokoh beserta permasalahan hidupnya. Di awal Novel, selalu ada perkenalan terlebih dahulu sehingga kita tidak akan bingung tentang siapa yang berperan di seri itu. Setiap seri biasanya menyelesaikan satu misi.

 
Baiklah, saya tak ingin menjelaskan lebih detail lagi karena nanti ceritanya menjadi mudah ditebak. Akhir kata, saya Bima Astungkara, selamat membaca dan AWAS!!! Tetap waspada dan jangan sampai anda bertransformasi menjadi tengu!

Silahkan download melalui surel di bawah ini, selamat bernostalgia!
>>>Download Novel Seri Animorphs 1-Tamat<<<

Mybllshtprspctv®

Njoto: Merdunya Electone Merah

Kiri D. N. Aidit, kanan Njoto
Oleh: Gusti Aditya

Ia berbeda dengan orang Indonesia haluan kiri pada umumnya. Ia sangat necis dan ia pun pandai bermain alat-alat musik seperti biola, saksofon dan elektone. Ia pula menggemari menikmati simfoni musik, menonton teater dan membuat puisi yang bahasannya tak melulu "pro rakyat" yang menggelorakan "semangat perjuangan".

Ia tak menghapuskan film yang diadaptasi dari novel karya Ernest Hemingway yang berjudul The Old Man and the Sea dari otaknya, meskipun film tersebut diharamkan oleh PartaiKomunis Indonesia. Ia menghayati Marxisme-Leninisme, mempelajari semuanya hingga akar-akar paling rinci, namun dia tak memusuhi relasi produksi yang dihasilkan oleh kapitalisme seutuhnya. Ya, ialah Njoto.

Kehidupan Awal Lek Njot

Njoto yang namanya nyaris tak tercium dalam buku-buku sejarah untuk umum. Lelaki blasteran Solo-Jember ini lahir pada 17 Januari 1927 di rumah kakeknya. Sejak lahir, pembawaan Njoto serius seperti bapaknya. Ya, bapaknya yang menanamkan hobi Njoto membaca buku dan menjauhi keluyuran.

Saat bersekolah di HIS, Njoto tinggal di rumah kakek dan nenek dari pihak ibu yang tinggal di Kampung Tempean, Jember. Sepulang sekolah, Njoto adalah anak biasa yang hobi bersepeda dan bermain bola bersama teman-temannya. Waktu belajar Njoto kecil dimulai pukul 5 sore hingga 8 malam. Njoto kecil tumbuh dengan cita-cita menjadi seorang jurnalis. Njoto juga tak menyukai struktur sosial di suasana feodal Jawa pada saat itu.

Setamat HIS, Njoto melanjutkan studi di MULO, semacam sekolah menengah pertama di Jember, ia masuk tanpa tes. Setelah Jepang menduduki daerah ini, MULO yang menjadi tempat belajar Njoto ditutup. Sang bapak lalu mengirim Njoto ke MULO yang dibuka jepang di Solo. Dan Njoto tinggal di rumah kakek pihak bapaknya.

Njoto pandai bergaul dan tetap merendah karena bersekolah dengan menggunakan sepeda. Bakat tulis menulis Njoto pun sangat menonjol. Suatu ketika Njoto membuat karangan mengenai para pejudi sepakbola yang kecewa pertandingan dibatalkan karena hujan deras. Njoto pula pandai dalam bermusik, ia membentuk grub putri. Adiknya, Windarti, juga ikut serta dengan Njoto yang memainkan petikan gitar.

Meski Njoto tidak pernah menimbah ilmu di Universitas atau belajar di luar negeri, tetapi pengetahuan Njoto luas sekali, terutama di bidang politik, filsafat, dan kebudayaan. Berbeda dengan kebanyakan orator, Njoto selalu berpidato dengan beretika dan menggunakan penjelasan rasional serta retorika yang mengikat.

Berkenalan dengan Marxist

 
Njoto muda, sejak bersekolah MULO, buku koleksinya ada yang setebal telapak tangan. Buku-buku yang dekat dengan Njoto tak lain dan tak bukan berkenaan dengan Marx, Lenin dan Stalin serta tokoh revolusioner lainnya. Buku-buku ini disantap oleh Njoto setelah ia belajar. Tak ada yang mengarahkan, kemauannya lah yang mengantarkan.

Namun, Njoto mengenal Marxist jauh sebelum ia mekar. Dilansir dari Tempo, sebelum ia ke Solo, rumahnya kerap didatangi tamu eks Digulis-aktivis gerakan politik yang dibuang Belanda ke Boven Digul, Papua. Pada masa itu Jepang melarang keras bahasan politik, oleh sebab itu Njoto terkesan diam tak pernah berdiskusi politik.

Setelah ia naik kelas dua di MULO, Njoto pamit pulang ke rumahnya di Jember. Setelah itu dia tak pernah kembali lagi. Usut punya usut, ia pergi ke Surabaya yang kala itu terbakar oleh api revolusi perjuangan. Hingga muncul lah sepucuk kabar bahwa Njoto menjadi anggota KNIP di Jogja, wakil PKI di Banyuwangi. Di kota ini, satu tahun kemudian, dia bertemu dengan Aidit.

Trio Kwek-Kwek dari Jogja: Aidit-Lukman-Njoto

Biarlah buku-buku berkata bahwa mereka adalah The Three Musketeers, namun saya lebih enak menyebut mereka Trio Kwek-Kwek dari Jogja karena Aidit dan Lukman bertemu di Menteng 31 sejak 1943, kemudian tinggal di Jogja. Sedangkan Dipa Nusantara Aidit dan Lukman bertemu Njoto satu tahun kemudian di Jogja.

Saat KNIP bersidang di Malang pada tahun 1947, serta Aidit ditetapkan menjadi Ketua Fraksi PKI, sementara Njoto memimpin Badan Pekerja KNIP, sejak itulah trio ini akrab. Setahun kemudian, mereka masuk Komisi Penterjemah PKI untuk menerjemahkan Manifes Partai Komunis karya Karl Marx danFriedrich Engels.

Hingga pecahlah geger Madiun, 19 September 1948. Partai kalang kabut, trio ini datang bak trisula maut menjadi tulang punggung partai. Mereka bahkan dapat membuat PKI lebih besar dan menyingkirkan para senior seperti Tan Malaka, Wikana, Alimin dan Ngadiman. Ditambah mereka mengambil alih kemudi partai secara keseluruhan.

Trio ini ditangkap dan dibawa menuju Jakarta dengan cara yang berbeda. Aidit berhasil lolos karena tak ada yang megenalinya, Lukman dan Njoto dibawa ke Jakarta dengan papan kayu bertuliskan "PKI". Di Jakarta mereka limbung, banyak kadernya yang gugur di Madiun dan tak ada tempat bernaung, namun mereka tetap menggodog orientasi partai. Trio ini diam-diam memperluas jaringan PKI di Jakarta dengan membentuk Order Seksi Comite di tingkat kecamatan.

Alergi komunisme mulai nampak. Mereka kesulitan karena setiap kabinet merasa "sakit" akan komunisme. Di situasi terjepit, Aidit dan Lukman malah nekat menerbitkan Bintang Merah pada 15 Agustus 1950. Di mana Njoto? Ia bergabung setahun kemudian. Dan dua tahun kemudian, Aidit-Lukman-Njoto, secara berurutan menjadi Sekjen, Wakil Sekjen I dan Wakil Sekjen II.

Njoto dan Estetika dalam Darahnya

Njoto juga pernah menulis mengenai peringatan kematian Beethoven. Di zaman baru, koran terbitan milik Lekra, ada upaya penteorisasian aktivitas kesenian rakyat, salah satunya, penteorisasian musik alu—semacam pertunjukan memukul alu di dalam lesung.

Di Lekra, organisasi kebudayaan tempat Njoto berkecimpung, S. Antaguna menyatakan bahwa Njoto tidak pernah memaksakan Lekra harus memeluk realisme sosialis. Dalam rapat-rapat Lekra, Njoto lebih banyak diam. Baru kalau ada yang kurang disetujui, dia akan berbicara. Lekra akan menerima semua struktur dan gaya, asalkan itu berpihak kepada perjuangan rakyat. Njoto sangat menyadari bahwa setiap seniman punya jati diri dan ide masing-masing (Merdeka.com).

Njoto Seorang Marhaenisme Sejati

Di Istana Tampaksiring, Bali, Presiden Soekarno nampak gelisah. Njoto, seorang penulis pidato Si Bung yang biasanya penuh gelora itu tak diketahui entah di mana. Penulis pidato Bung Karno yang lain, Soebandrio dan Ruslan Abdoelgani sejak 1960 mulai jarang dipakai.

Wakil Perdana Mentri Soebandrio kemudian memberitahu Bung Karno bahwa Njoto sedang di Amsterdam sedang negosiasi pembelian pesawat terbang Fokker. Sebelumnya ia berkeliling Afrika, karena Konferensi Asia Afrika ke-2 batal karena di Aljazair terjadi kudeta. Setelah dari Belanda ia ke Rusia, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Partai Komunis, Njoto langsung pulang tatkala mengetahui Soekarno mencarinya. Padahal saat itu dia sedang bersama D. N. Aidit.

Kedua tokoh ini saling mengagumi. Soekarno adalah pendiri PNI yang sedang meredup pamornya, sedangkan Njoto tokoh PKI yang di mana partai tersebut sedang berjaya. Bung Karno menyukainya karena Njoto adalah pentolan PKI yang "liberal", pragmatis dan tidak dogmatis.

Kedekatannya tak hanya dalam rangka urusan kerja saja, tetapi menyangkut hal-hal pribadi. Njoto yang selalu tampil rapi dan dandy, selain itu Njoto menyukai musik jazz, bisa memainkan beberapa alat musik dan menyukai puisi dan seni rupa, menjadi daya tarik tersendiri. Jika aktivis politik dan pejabat lain disebut 'Bung', maka Njoto malah dipanggil dengan sebutan 'Dik'.

Dalam pidatonya di Palembang tahun 1964, Njoto orang pertama yang mencetuskan Soekarnoisme. Kawan sekaligus lawan Bung Karno khawatir jika dia panglima tertinggi itu jatuh ke pelukan PKI, apalagi Si Bung telah mencetuskan NASAKOM. Sebaliknya, kubu PKI terutama D. N. Aidit-menyangka Njoto telah dipakai Soekarno untuk menggembosi PKI. 

Njoto memang tampak serius dengan istilah baru yang sedang ia bangun. Ia menyebutkan bahwa Marxisme tidak lah seksi bagi para petani di Indonesia dan borjuis kecil yang ingin digarap PKI menjadi basis masa ideologinya. Menurut Njoto, Sukarnoisme dianggap lebih jelas dan orangnya pada saat itu juga masih hidup.

Sikap Njoto inilah yang membuat para pemimpin PKI kehilangan kepercaayan kepadanya. Aidit sampai menerbitkan harian Kebudajaan Baru sebagai pesaing Harian Rakjat. Akhirnya Aidit melepaskan Njoto dari jabatan Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda PKI. Dilansir dari Tempo, menurut Joesoef Isak, alas an utama skorsing ini adalah alasan wanita[1].

Skorsing inilah yang mendorong Bung Karno mendorong Njoto untuk membuat suatu partai baru bernama “Partai Rakyat Indonesia” dengan asas Sukarnoisme. Bung Karno menganggap bahwa Sukarnoisme adalah penyempurnaan dari Marhaenisme. Tetapi ide tersebut tak pernah kesampaian karena kedua kubu keburu pecah. Badan Pendukung Sukarnoisme menyerang sikap Njoto dan PKI di Harian Merdeka. Njoto menangkisnya di Harian Rakjat. Hingga akhirnya Bung Karno turun tangan untuk menghentikan polemik dengan melarang istilah Sukarnoisme lagi.

Hingga puncaknya pada tahun 1965 di Bulan September saat senja kala kekuasaan Pemimpin Besar Revolusi hamper mencapai ujungnya. Di mana rakyat menyaksikan perubahan nasib dan arah zaman yang bergejolak.

Gelora Tahun 1965

Njoto mengeluarkan secarik kertas sedari tangannya saat diadakan suatu pertemuan. Mentri Koordinator Pertahanan Keamanan Jendral Abdul Haris Nasution tak ada. Ketua Comite Central PKI D. N. Aidit juga tak nampak. Sedangkan Panglima Kostrad Mayor Jendral Soeharto justru muncul. Njoto berkata, “PKI tidak bertanggung jawab atas peristiwa G30S, kejadian tersebut adalah masalah internal Angkatan Darat.”
“Peristiwa ini hanyalah een rimpeltje in de ocean…” –Presiden Soekarno.
ꝋꝋꝋ

pagi sebelum rapat, M H. Lukman, Mentri Negara dan Wakil Ketua I Comite Central PKI, menjemput Njoto di Menteng. Pada saat insiden penculikan dan pembunuhan terjadi enam hari sebelumnya, Njoto sedang berada di Medan ikut kunjungan kerja Wakil Perdana Mentri I Soebandrio. Njoto mengaku tidak mengetahui masalah tersebut dan bertanya-tanya kepada Lukman prihal masalah tersebut.

Dalam bukunya John Roosa yang berjudul Dalih Pembunuhan Massal, menuliskan bahwa Pemimpin Redaksi Harian Rakjat tersebut sudah lama dijauhkan dari pengambilan keputusan penting did alam politburo PKI. Sumber lain menyebutkan jika Njoto lebih condong pada poros komunis Uni Soviet, bertentangan dengan Aidit yang merapat pada poros Peking.

Menurut Njoto, G30S hanyalah puncak dari konflik internal di TNI AD sendiri. Ia juga mempertanyakan dasar logika G30S, apakah premis Letkol Untung tentang adanya Dewan Jendral membenarkan adanya suatu coup d’etat? Ujarnya. Bahkan dalam suatu pleido menjelaskan bahwa partai tidak pernah memberikan dukungan atau pun membahas gerakan ini.

Ada satu hal yang menyebutkan jika Njoto tidak terlibat dalam G30S, yaitu hasil diskusi Tempo dengan Joesoef Isak, yang notabene adalah kawan dekat Njoto, mengatakan bahwa sejak tahun 1964, Njoto sudah diberhentikan dari semua jabatan fungsional di partainya. Ini diperkuat dengan pledoi Sudisman, Sekertaris Jendral PKI, Sudisman menilai Aidit sudah menyeret partai pada petualangan atau avonturisme.

Permainan Musik Terakhir Dik Njoto

Kematian Njoto pun simpang siur. Kabarnya tanggal 16 Desember 1965, Njoto pulang mengikuti sidang kabinet di Istana Negara. Di sekitar Menteng, mobilnya dicegat. Njoto dipukul kemudian dibawa pergi tentara. Diduga dia langsung ditembak mati.

Njoto, elektone-mu masih terdengar, walau ragamu entah ke mana.


_______________________________________________________

Keterangan:
  • HIS: Hollandsch-Inlandsche School. adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914. Seiring dengan diberlakukannya Politik Etis.
  • MULO: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs. Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti "Pendidikan Dasar Lebih Luas".
  • KNIP: Komite Nasional Indonesia Pusat yang dibentuk berdasarkan Pasal IV, Aturan Peralihan, Undang-Undang Dasar 1945 dan dilantik serta mulai bertugas sejak tanggal 29 Agustus 1945 sampai dengan Februari 1950. KNIP merupakan Badan Pembantu Presiden, yang keanggotaannya terdiri dari pemuka-pemuka masyarakat dari berbagai golongan dan daerah-daerah termasuk mantan Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Catatan Kaki:

                [1] Aidit yang anti poligami, menetapkan aturan skorsing bagi siapa saja (anggota PKI) yang ketahuan selingkuh.

Referensi:

Seri tempo. 2010. Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara. Jakarta: KPJ

Njoto. 2003. Marxistme: Ilmu dan Amalnya. Jakarta: Teplok Press

Firdausi, Fadrik Aziz. 2017. Njoto; Biografi Pemikiran 1951-1965. Jogja: Marjin Kiri.

Mybllshtprspctv®

Ayo Pindah Planet: Alien, Exoplanet dan Kapitalisme Global


Oleh: Gusti Aditya

Manusia adalah hewan yang berpikir, begitu menurut Aristoteles. Pemikiran manusia terkesan dinamis dan mengikuti perkembangan jaman. Berbagai hal telah manusia jelajahi menggunakan pemikirannya. Mulai dari ilmu-ilmu humaniora hingga ilmu-ilmu eksakta, telah masuk dalam lingkup pemikirannya. Hingga astronomi pun menjadi bagian paling seksi untuk dikembangkan. Namun, terdapat dua pertanyaan besar yang belum terpecahkan oleh umat manusia, yakni 'apakah ada makhluk lain di luar Bumi?' dan 'apakah kita bisa hidup di luar Bumi?'.

Menjawab persoalan nomor satu, teoritikal fisika asal Inggris, Stephen Hawking, memiliki pandangan yang cukup berani. Hawking dengan perhitungan otak matematisnya, nampaknya yakin bahwa alien yang mempunyai kecerdasan jauh melampui manusia benar-benar ada. Bahkan keberadaan mereka bukan saja menghuni di planet-planet, bisa saja di sebuah bintang, atau melayang di ruang hampa alam semesta.

Beralih ke Einstein. Dalam dokumen berjudul Relationships With Inhabitants of Celestial Bodies, yang menunjukkan bahwa pemikiran Einstein yang mengesahkan bahwa alien itu eksis. Ia menyebut UFO sebagai astroplanes, kemudian menyimpulkan bahwa kehadiran UFO tersebut di langit bumi mungkin saja adalah bentuk tanggapan dari makhluk angkasa luar akan tindakan gegabah pengujian senjata atom yang dilakukan manusia di bumi. Menurutnya, bagaimanapun kehadiran UFO di langit Bumi sudah diakui oleh militer.

NASA bersama lembaga lain telah menemukan tujuh exoplanet yang menggemparkan dunia. Seluruhnya hampir mirip dengan bumi secara ukuran. Lebih dari itu, tiga di antaranya kemungkinan memiliki air dan bisa mendukung adanya kehidupan. Sekaligus di sini NASA telah membahas pertanyaan pertama kita dalam situsnya yang menjadi prioritas utama dalam ilmu pengetahuan. Dengan ditemukannya exoplanet yang mungkin habitable tersebut dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Di samping itu, kemungkinan menemukan 'alien' akan membantu mengurangi dahaga manusia akan memahami rahasia kehidupan.

Cepat atau lambat, bencana seperti asteroid nuklir bisa menghapus kita semua dari bumi. Tetapi jika kita menyebar untuk tinggal di planet lain, membangun koloni disana maka masa depan kita akan aman,” -Stephen Hawking

Sudahlah, lebih baik kita jangan berlarut-larut dalam pertanyaan pertama. Mari kita bahas pertanyaan kedua yang belakangan ini sedang hangat-hangatnya, apakah kita bisa hidup di planet lain?

Hal ini mungkin benar serta pertanyaan kedua cukup mudah untuk dijawab. Namun, coba kita berpikir lebih mendalam akan pertanyaan kedua ini. Penemuan habitable planet mungkin saja bisa jadi cara meninggalkan bumi yang sudah di ambang katastrope ini. Contohnya saja isu katastrope yang dalam medio satu abad ini menjadi perbincangan serius, ya, pemanasan global.

Planet-planet di luar tata surya kita mungkin bisa jadi cara mudah untuk melarikan diri. Memang, saat ini kita tidak punya kendaraan untuk pergi ke sana. Jarak planet-planet itu sekitar 40 tahun cahaya. Tidak perlu dihitung karena itu sangatlah jauh dan belum ada alat yang sanggup mencapai. Namun, andaikan kita punya kendaraan ke sana. Mungkinkah planet itu bisa untuk kita tinggali? 

Kita beranjak dalam sebuah film yang berjudul Elysium. Dalam film tersebut, diceritakan Bumi pada tahun 2154 telah begitu hancur dan berbahaya untuk ditinggali. Orang-orang kaya hidup di suatu satelit buatan berbentuk seperti cincin yang penuh fasilitas dan kenyamanan. Sedangkan orang-orang miskin hidup di bumi yang sudah tak layak, bahkan untuk dihuni sekali pun. Masyarakat terbagi menjadi dua kelas dengan distingsi yang tajam. 

Kita telah melupakan pertanyaan pertama dan kedua. Saya sudah menganggap bahwa kedua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan “Ya”. Permasalahan lebih kompleks pun muncul, apakah masa depan kita tak jauh berbeda dengan apa yang ada di film Elysium? Orang-orang kaya atau Kaum Marxist menyebutnya dengan borjuis, pergi menuju planet baru dan hidup nyaman dengan segala fasilitas di dalamnya. Sedangkan orang-orang proletar, hidup di bumi yang katastrofik yang begitu memilukan ini.

Peter Sloterdijk, filsuf Jerman kontemporer, menjelaskan bahwa kapitalisme global justru menbangun eksklusivitas. Ia menjelaskan bahwa dalam kapitalisme mutakhir ada yang namanya world interior. Secara sederhana, Slavoj Žižek menginterpretasi teks Sloterdijk dan menjelaskan dalam Trouble in Paradise bahwa world interior itu "bangunan dan ekspansi...yang batasannya tak terlihat namun tak tertembus dari luar". Konsekuensinya adalah kapitalisme global, atau globalisasi, tidak hanya membuka ruang kesenjangan seluas-luasnya. Namun, ia juga menciptakan suatu globe yang memisahkan Yang Dalam dan Yang Luar. Siapa Yang Dalam? Tentu para pemenang globalisasi, atau mudahnya para kapitalis atau borjuis. Sedang Yang Luar ya siapa lagi kalau bukan prolerariat. 

Menariknya, yang pertama adalah bahwa kita tidak sendiri di galaksi ini, kedua adalah kita dapat melakukan perjalanan ke luar angkasa yang berjarak beribu-ribu tahun cahaya jika perkembangan teknologi semakin berkembang dan yang ketiga adalah apakah anda termasuk orang yang beruntung untuk diajak berpindah planet atau malah anda yang ditinggal di Bumi yang kian membusuk ini?

Mybllshtprspctv®

Sajak Anak Komunis


Oleh: Gusti Aditya                      

Buk, aku ijin melangkahkan kakiku
Aku ijin menyelami dunia yang baru
Apakah Ibuk masih berbicara selembut dahulu?
Menyuruhku mandi ketika Magrib hendak datang?
Setelah aku berkata menolak dan mengelak

Buk, anakmu ini sudah besar
Tak bisa dibohongi mana yang benar dan mana yang bersandiwara
Aku tahu mana yang terlibat dan mana yang menjadi korban “sesungguhnya”
Iya, Buk, iya, aku tahu aku keturunan kaum yang disalahkan
Kakek pernah digantung di hadapan ibuk. Aku tak menutupi itu

Buk, bahkan anakmu lebih mengagumi sosok Malaka ketimbang para tentara
Ia bapak bangsa yang kehilangan kehormatannya
Ia direnggut apa pun yang ia punya. Aku sudah membaca semua
Lalu ibuk kira selama kuliah aku mendapatkan apa?
Aku bukan tipikal mahasiswa yang mengincar IPK di atas tiga koma lima
Aku bahkan lebih suka belajar apa yang tidak aku dapatkan di ruang kuliah

Ibuk sedih? Maafkan anakmu ini
Kita adalah manusia merdeka, Buk
Semakin Ibuk menyembunyikan semua, semua malah akan kentara, Buk
Perjuangan bukanlah melulu dengan bambu runcing dan darah yang mengalir
Mencapai “merdeka” bukanlah perkara mudah nan sepele
Lebih dari itu, semua akan menjadi lumbung haru
Harus banyak yang aku korbankan untuk mencapai arti kata “merdeka”
Termasuk melepas kepercayaan Ibuk kepadaku.

Tahap baca telah anakmu lalui, Buk
Begitu juga dengan tahap menulis
Goresan pena anakmu telah menyebabkan banyak pihak kelimpungan
Mereka marah, bahkan mereka sadar akan kesalahan, namun tetap marah
Mereka marah dengan cara yang penuh komedi
Ah, Ibuk, kau harus tahu itu
Lalu, kapan aku harus melangkah dalam tahap melawan, Buk?

Pada suatu hari yang biasa, anakmu akan mendapatkan apa yang selama ini hilang
Apa yang selama ini membuat Ibuk menangis tiap malam
Bagaimana perlakuan para tetangga yang menganggap kita lebih kotor dari sampah
Aku? Tak usah dipikirkan kekejaman kawanku selama aku duduk di bangku sekolah
Biarlah menjadi legenda yang rapat dan membiru bersama perut mereka yang membusuk
Ibuk, aku berjuang atas namamu walau engkau tak merestuiku
Tekadku sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat

Wajah masam bangsa ini telah lama aku lihat
Mereka lesu, walau mereka tak tahu apa yang selama ini aku alami
Hei kawan, hidupmu jauh lebih baik, nikmatilah!
Ibuku berkata “biarlah. Mereka juga memiliki masalahnya sendiri.”
Aku patuh kepada perkataan Ibuku. Tidak dengan masalah yang itu
“Ibuk, kula nyuwun restu badhe nang kota.”
Ibuku terdiam. Suasana berubah. Dan aku pergi tanpa jawaban.

Aku pergi untuk besua anjing-anjing yang lucu.

Mybllshtprspctv®

[Buku] Resensi #GIRLBOSS Karya Sophia Amoruso



Oleh: Tresti Wikan
No matter where you are in life, you'll save a lot of time by not worrying too much about what other people think about you. The earlier in your life that you can learn that, the easier the rest of it will be. -Sophia Amoruso
Kita adalah seorang wanita dan kodrad seorang wanita adalah menjadi hebat! Tak ada yang dapat membendung kita untuk melangkah, selama itu adalah langkah yang benar. Wanita adalah seorang nahkoda kapal besar, dia bisa mengendalikan arah dan tujuan hidupnya sendiri. Kitalah yang memegang kuasa penuh untuk kapan melaju, kapan terdiam dan kapankah harus berlari.

Seorang #GIRLBOSS adalah seorang yang menghargai kejujuran di atas apa pun juga. Tak ada fisik yang sempurna, tak ada pikiran yang cemerlang dan tak ada pula hati yang bersih ketika seseorang tidak berbuat jujur dari hati nuraninya.

Sophia Amoruso adalah founder, direktur utama sekaligus direktur kreatif Nasty Gal. Dia membangun pondasi bisnisnya sendiri hanya dalam waktu singkat, yaitu tujuh tahun dan semua itu dilakukannya sebelum berusia 30 tahun. Dia tidak berasal dari keluarga kaya atau bersekolah di sekolah elit dan tidak ada orang dewasa yang menasehatinya apa yang harus dilakukannya. Ia seakan "buta" sejak kecil.

Dalam buku ini, banyak pesan moral yang didapat bahwa hidup ini tidaklah mudah. Sophia putus sekolah, tak punya tempat tinggal tetap, mencuri, siswa yang biasa saja bahkan cenderung kurang pandai dan pegawai yang malas. Dia selalu berada dalam masalah sejak dia kecil. Lantas apakah ia menyerah? Tidak.

Ia tipikal seorang yang sangat menikmati pekerjaannya karena passion yang dipilihnya. Dimulai dari MySpace dan menjadi modal utamanya dalam berbisnis online, menjual baju dan buku yang dahulu ia curi. Ia menjalani semuanya mulai dari nol dan tanpa bergantung kepada siapa pun. Dia pun tidak berhutang untuk mengembangkan usaha yang dirintisnya ini.

Di antara banyaknya buku pemasaran yang bersampul pria bersetelan jas, buku ini seakan membawa arah yang berbeda. Buku ini bukan hanya sekedar buku autobiografi yang begitu feminis, tapi juga buku self help dan leadership yang sangat menginspirasi.

Jika anda melihat buku dengan sampul seorang wanita berpakaian terusan hitam berpotongan leher sangat rendah, ambillah! Karena buku ini dapat merubah pola pikir anda. Girl power! 

Mybllshtprspctv®