Demi Allah Saya Membelot ke Siti atau Celsi, Syukur-syukur Madrid


Oleh: Gusti Aditya

"Dua puluh lima tahun Premier League di Britania sana sudah berlangsung, Gus. Dan kamu tahu berapa jumlah piala yang dimenangkan Liverpool?" Dumel kawan saya yang sedang kecanduan makan gorengan anget yang disajikan di Bonbin.

"Ya piala apa dulu," Jawab saya santai. Walau saya tahu arah pembicaraan dia adalah ngenyek.

"Lebih rendah dari IPK-ku."

"Bangga amat kamu, Reh. Oh, yang penting ada yang lebih rendah dari nominal IPK 0,5, ya?"

"Tepat! Nol. Alias nihil! Jika ikut mata kuliah Pak Sudar mungkin Liverpool nilainya adalah E. Harus pakai huruf kapital. Jika bisa fontnya berwarna merah," jawab Areh semangat sekali. Saya sih hanya haha-hihi, padahal sudah kemlutuk di dalam hati.

Areh ini anak kemarin sore yang baru faham mengenai dunia persilatan sepakbola. Betapa kerennya, sudah silat, ditambah main bola. Tidak usah dibayangkan, pasti kalian sedang memikirkan Shaolin Soccer? Ketahuan umur kalian sudah sepantasnya untuk menikah, bukan untuk mengerjakan makalah.

Areh ini pendukung sebuah klab asal Manchester. Sayangnya bukan yang warnanya merah, namun ia mendukung yang berwarna telur asin alias City. "City saja sudah dapat dua, Liverpool berapa? Delapan belas? Kamu sudah lahir emangnya?" Itulah kata-kata andalannya.

"Mendukung sebuah klab itu bukan perkara sok setia. Yang penting adalah diri kita yang selalu merasa bahagia. Tujuan kita lihat bola itu apa jika bukan untuk hiburan."

Untung dia sedang nggambleh di depan saya. Coba di depan ayah saya, bisa-bisa digampar tanpa ampun. Ayah saya ini pendukung Manchester merah garis keras, katanya; sepakbola itu agama. Nobar adalah ritual ibadahnya.

Saya dalam titik ini, ada setujunya dengan Ayah. Namun, lebih setuju dengan Areh. Begini;

Jika ayah mengatakan sepakbola sebagai agama, boleh lah. Namun sepertinya kurang relevan jika argumentasi seperti itu digunakan pada jaman sekarang. Remaja ginuk-ginuk yang baru tahu bola seperti Areh tidaklah menempatkan sepakbola sebagai hal yang utama. Itu!

Lalu apa yang utama? Pemain dan piala. Dua hal ini yang bermain begitu signifikan di era sekarang. Jika ayah menganggap MU sebagai agama, ia tidak peduli ketika Cantona yang memutuskan untuk pensiun. Siapa itu Cantona? Hanyalah buih di luasnya samudera United. Ada atau tidak adanya dia, United ya tetaplah United.

Bagaimana dengan Areh? Bagaimana jika Aguero dan Silva hengkang? Beberapa waktu yang lalu, ditinggal Joe Hart saja si Areh sudah ketahuan like fans page Torino di Facebook, bagaimana jika Yaya atau Aguero yang pindah. Bisa-bisa Areh stres lantaran harus memilih mendukung klab mana; apakah klabnya Aguero, atau klab tujuannya Yaya. Syukur-syukur jika mereka satu klab lagi. Jika tidak?

Ayah saya pernah berkata seperti ini; MU peringkat sembilan belas saja tidak masalah, tetapi yang di peringkat dua puluh adalah Liverpool. Ya, perang urat syaraf antara anak dan bapak adalah hal yang lumrah di keluarga saya. Piala? Bahkan sebuah mobil tua mengatakan jika itu hanyalah piala kosong.

Areh? Jangan ditanya. Setiap Nobar dia selalu berada di baris terdepan. Nobar apa? Ya Nobar apa saja; El-Classico hadir, final champion league hadir dan ajang lainnya tidak luput ia memeriahkannya. Pun, ia selalu membawa dua jersey. Katanya sih antisipasi; jika Barca kalah, jersey Madrid sudah siap di tasnya. Begitu juga sebaliknya.

Tetapi dengan berat hati, saya harus setuju satu hal dengan pemikiran manusia seperti Areh. Ia pernah berkata, "Saya sedang membuat sejarah bersama City. Bukan sepertimu yang telah membusuk bersama sejarah yang telah lapuk."

Benar kan? Mendukung Chelsea atau City bukan karena glory hunter, tetapi karena mereka sedang membangun sebuah peradaban baru yang ingin diakui. Reh, maaf, dari pada City yang sejarahnya sudah bisa diprediksi, mending dukung Kendal County FC yang saya tahu setelah searching Wikipedia. Bener-bener dari 0 itu, Reh.

Tapi ya sadar atau tidak, kalian telah mendukung sebuah klab yang telah berjaya di masanya. Iya, kan? Saya pun sadar bahwa Liverpool pernah jadi seperti Barca pada eranya. Menang dan piala adalah hal biasa. Barangkali ada manusia seperti Areh yang dahulu menyukai Liverpool lantaran menangan. Sedangkan ada seorang mahasiswa yang sedang diece lantaran dia pendukung Everton yang kalahan.

Kemudian pendukung Everton tersebut membuat sebuah tulisan berjudul "Demi Allah Saya Membelot ke Liverpool, Syukur-syukur Torino" sambil begadang menunggu Everton melawan Hofenheim dalam babak kualifikasi liga champion.

Tidak usah sok setia, karena semua akan dicap glory hunter pada eranya. Kecuali saya, mungkin saya lahir di jaman yang salah, karena apa untungnya mendukung Liverpool di jaman sekarang?

Mencari Pentingnya Ospek yang Tak Penting

Oleh: Muhammad Arif Nur Hafidz

Ronde pertama kuliah bagi jemaah mahasiswa baru netas dari bangku sekolah akan berhadapan dengan kegiatan riweuh yang bernama ospek atau remehnya sebut saja masa orientasi kampus. Kegiatan yang semisal di kupas lebih dalam, merupakan aktivitas tydack mendydyck yang berusaha di dramatisir menjadi genting oleh para senior.

Esensi ospek yang sudah keluar dari jalur semestinya, justru dalam praktiknya diperparah menjadi kegiatan yang seakan tak punya faedah. Bibit-bibit mahasiswa baru ini dipaksa diminta untuk mengikuti program pengenalan kampus yang tak penting-penting banget itu bagi mereka. Kegiatan yang sesungguhnya lebih banyak dihabiskan dengan mengibas-ngibaskan secarik buku supaya selamat dari panas terik seharian. Selebihnya, ya, sekadar menanti jadwal makan gratis bagi anak kos. Tidak lebih.

Rutinitas yang bagi separuh maba pecinta drama Korea, memandang ospek tak lebih penting dari drama-drama menye ala-ala Oppa dan Ukhti-Ukhti Sarangheo Korea.

Jikalau ada kakak-kakak senior berujar, “Ospek itu wajib dek, untuk lebih kenal dosen, kampus, dan dunia di dalamnya yang akan kalian alami kelak selama kuliah disini”. Jawab saja, “Hasssyyaahh, omong opo mz, rha masyuk blas, uompol!”.

Lagi pula, tanpa berpartisipasi dalam ospek juga anda tentu akan tahu dunia perkuliahan itu sendiri. Tanpa perlu ikut ospek sekali pun. Lha wong nanti ujung-ujungnya juga cuma menghabiskan waktu lebih dari 4 tahun untuk sebats di burjo sekitaran kampus.

Bagi mayoritas jemaah mahasiswa baru, sapaan hingga titel dosen yang perkenalan saja, nanti waktu pulang sudah lupa, apalagi mesti ingat beserta tahu seluk beluk perkuliahan yang belum tentu 4 tahun akan lulus. Bisa-bisa pecah ketuban di tempat kalau sejak dini di dogma dengan celoteh tak bermanfaat macam ini.

Turut tidaknya kala masa orientasi kampus jua tak akan berpengaruh pada derajat titip absen seorang mahasiswa, yang lebih menonjol sih, lebih kepada tingkat intensitas kiriman uang bulanan orang tua yang akan menaikan level kualitas mahasiswa, dalam hal tingkatan “kenal” dunia perkuliahan yang otentik.

Pun di pelbagai lingkungan kampus masih saja menerapkan penggunaan perlengkapan absurd bin nggriseni yang harus dibawa sepanjang periode ospek berlangsung. Yang sepatutnya saya bingung, tujuanya memang semurni susu murni nasional yang sekadar melanjutkan warisan generasi sebelumnya dengan pembodohan atau memang settingan acaranya seperti itu yang tak ada faedahnya? Entah, hanya panitia dan tukang burjo yang tahu.

Lebih jauh, dalam sebagian praktiknya, kegiatan ospek ini agaknya menjelma bak panggung cari jodoh layaknya acara Take Me Out Indonesia. Mahasiswa baru seakan menjadi talent yang hendak diseleksi, dengan para kakak-kakak tingkat ini berperan selayaknya sang pemilih pasangan hidup yang manasuka memilih berdasar kriteria dengan penuh keleluasaan, jika tak suka bisa dengan gampangnya tinggal tekan tombol merah.

Perangai gahar juga seakan menjadi prasyarat yang terpampang di paras senior terhadap maba laki-laki, akan tetapi bakal beralih seratus delapan puluh derajat menjelma jadi kakak tingkat super cool kepada maba wanita. Seraya penuh hasrat kecantol satu diantara banyak mahasiswa baru yang turut ikut ospek sesuai target awal. Kurang lebih, begitu.

ꝋꝋꝋ

Dunia perkuliahan pada prinsipnya lebih menguji mental, kesabaran, ketekunan yang lebih dari ospek, misal ketika dimarahi ibu kos ketika bayar telat uang sewa kamar, rela makan nasi telor yang penuh minyak dan harus di rapel pula, di php dosen yang mendadak membatalkan waktu bimbingan sampai-sampai friksi dengan kakak tingkat demi memenangi hati si cantik kawan satu angkatan. Apa perkara tersebut di kenalkan dalam ospek yang menggambarkan kepingan “nyata” dari dunia perkuliahan itu sendiri? Saya rasa tidak, entah kalau mas anang.

Memahami ospek dari sisi mahasiswa baru dengan kegiatan yang tak banyak memberi manfaat seharusnya para event organizer kampus berfikir ulang tentang jenis kegiatan, kualitas dan kuantitas ospek itu sendiri agar lebih mendapat hasil positif bagi maba, agar kegiatan masa orientasi kampus terasa lebih bermanfaat dengan hasil berupa kekeluargaan, antusiasme, tanpa perpeloncoan, hingga jauh dari hanya sekadar kegiatan hura-hura tak berdaefah.

Percayalah, kuliah itu bukan sekadar tentang pakaian putih, celana kain hitam dengan embel-embel kertas kardus bertuliskan nama, prodi hingga foto culun jaman smp dengan tali rafia klabangan menggantung di leher. Jika terus seperti ini, dibagian manakah manfaat penting ospek yang katanya wajib dan banyak manfaatnya mengenal dunia kampus itu?

Mbok uwes, nek aku mending turu hehehe.

Prenjengan Anak UAD Itu Adalah Goal Kampus Lain

Jika kalian melihat mahasiswa menggunakan korsa, bertuliskan jelas fakultasnya di geger mereka, bisa dipastikan mereka adalah anak UGM. Syukur-syukur tulisannya masih ketutupan tas. Paling parah ya polo hadiah event BEM ia kenakan dengan dalih tidak punya kaos lagi untuk kuliah.

Husnudzon, mungkin mereka (walau tidak semua) berjaga-jaga jika ada yang bertanya "kuliah di mana", mereka tidak kualahan dalam menjawab itu semua. Atau ada maksud yang lain? Ya sudah, nasib dapat kampus bagus. "Bodo amat filsafat, yang penting UGM. Bajingan.".

Coba kita bahas kampus yang lain, karena Jogja tidak melulu UGM, to? Apa, ya? UAD coba.

Tapi memang, sengaja saya memilih UAD. Menurut saya pribadi (dan kalian saya wajibkan mempercayainya), setail anak UAD adalah idaman bagi calon mertua. Anak teknik? STAN? Sepertinya harus sungkem dulu sama prenjengan khas anak UAD.

Bukan melalui riset yang rumit, karena hal ini muncul ketika rutinitas saya berangkat kuliah. Saya selalu melewati 'kompleks' UAD selama seperempat menit (dihitung dengan kendaraan bermotor dengan kecepatan 60 km/jam); kampus 1, 2 dan 5. Betapa luasnya. Mahasiswa UAD pasti boros bensin.

Dengan keterangan kampus satu berada di Jalan Kapas. Dekat dengan Mandala Krida. Kampus dua berada di Jalan Pramuka. Dan terakhir, berada di dekat RSJ. Rumah sakit Jogja lho. Ingat, Jogja, bukan jiwa. Sekali lagi, luasnya UAD.

Lewat bukan berarti saya abai terhadap hal-hal menarik yang saya temui. Mulai dari jajanan di kampus Jalan Pramuka, hingga proyek besar mereka di Ringroad Selatan sudah menjadi santapan saya sehari-hari. Tenan. Semua menarik. Apa lagi polisi yang muncul tiba-tiba di daerah Jalan Kapas yang katanya satu arah, padahal mah....

Nah, setelah hampir dua setengah tahun rutinitas melewati UAD dan kawan saya di sana pun bukan main banyaknya, saya memiliki catatan tersendiri terhadap gaya berpakaian mahasiswa UAD yang tercinta ini. Begini;

Pertama, rombongan ukhti-ukhti sarangheo. Banyak saya temui di kampus jalan Pramuka dan Kapas. Biasanya mereka tidak bergerombol, bersifat nomaden dan mengikuti lajur air. Jiwa mereka adalah modis, namun kebijakan kampus yang menganjurkan berpakaian sopan, jadilah jilbab yang mereka lampiaskan. Ditambah model rok yang super metet.

Jilbab gubet dari satu titik ke titik lainnya. Tidak lupa maskara dan pelembab bibir. Suara tinggi atau mengarah ke cempreng. Hobinya nonton drama Korea, mungkin SNSD menjadi kiblat mereka. Obrolan mereka seputar dunia kosmetik atau gosip bunga kampus yang sedang didekati kumbang kampus.

Dan, yang membuat saya pribadi terganggu, ialah parfum. Karena harum parfum ukhti sarangheo ini sudah tercium dari radius lima kilometer. Lha nek parfum mahal aja ndakpapa, lha ini parfum isi ulang yang biasanya mereka isi di depan Fakultas Hukum UII itu lho. Mumet!

Kedua adalah cowok-cowoknya. Entah kenapa, berani taruhan, 90% cowok UAD biasanya memakai hem kotak-kotak. Ya, pokoknya kebanyakan memakai pakaian berkancing. Tidak ada yang berani memakai kaos. Biasanya ini di kampus Jalan Pramuka.

Tipe yang kedua ini kebanyakan memadukan kemeja monoton dengan sneakers berwarna gelap; hitam, abu atau coklat. Memakai sabuk dengan alasan bajunya kebesaran. Jika ada dosen lewat biasanya bajunya dimasukan sampai udel. Jika ada bribikan biasanya kancingnya dibuka dan di dalamnya memakai kaos bertuliskan "love orange zone" atau "My Trip My Adventure".

Ketiga, anak-anak cowok di kampus Ringroad. Memadukan gaya artsy dan trendy masa kiniy, biasanya mereka lebih suka jeans kinos dan kaos berwarna. Tentunya dikombinasi dengan kemeja. Namun tipe yang satu ini biasanya lebih suka menggunakan jaket.

Jaketnya tentu jaket bomber warna gelap agar supaya terlihat seperti Pak Dhe Jokowi. Atau biasanya korsa. Baik itu hadiah dari event atau keikutsertaan dalam himpunan mahasiswa. Jarang ditemui korsa yang mengatasnamakan kampus atau fakultasnya. Mbuh kenapa, mereka lebih suka dengan korsa himpunan dan organisasi kampus. Jika korsa biasanya dilinting sampai seperempat lengan.

Mereka ngumpul di burjonan. Sering berdiskusi masalah politik, namun lebih sering ngobrol tentang mahasiswa baru yang cantik-cantik. Di burjo cuma beli es teh, tapi bisa memakan waktu sampai tujuh semester lamanya.

Keempat, cewek-cewek kampus 5 memiliki setail yang lebih masyuk. Sama dengan cowoknya, si cewek juga lebih suka memakai jaket. Atau paling enggak ya kemeja yang kebesaran, dalamnya memakai kaos band yang tentunya mereka tidak hafal lagu-lagunya.

Jika jaket bahan jeans, mereka biasanya memakai patch tumbler yang biasanya dijual lima ribu dapat dua di depan Maskam UGM ketika Sunmor. Jeans di kombinasi dengan jilbab model simple dan celananya joger berwarna bladrus atau fit n flare yang sedang diskon di Instagram. Sepatunya ya sneakers kalau enggak ya flat shoes.

Biasanya nongkrong di Kalimilk dekat Pamela. Pesen susu ukuran standar, buka laptop dan nonton film sampai subuh. Namun kategori ini semakin langka karena peraturan kampus mengenai prenjengan semakin ketat. Seketat rok milik ukhti sarangheo tadi. Saya harap akan ada penerusnya di tahun semester yang baru ini.

Kelima, tipe cowok full aksesori. Entah tipe yang satu ini sedang berniaga atau apa, karena di tangannya biasanya terdapat jam tangan dan aksesori seperti gelang yang jumlahnya bukan cuma satu. Jam tangannya mati dan gelang-gelangnya bisa sampai leher saking banyaknya. Golongan ini sulit ditemui lantaran keberadaannya yang seperti mitos.

Keenam, bisa disebut golongan Nobita. Tahu kenapa? Golongan ini sukanya memakai polo. Punya beberapa pasang dan beli di Mirota Kampus seharga dua puluh lima ribu rupiah satu potongnya. Dijuluki Nobita karena pakaiannya itu-itu saja. Seperti tidak pernah ganti karena memiliki polo banyak dengan model yang itu-itu saja. Biasanya anak kos, tersebar di beberapa kampus.

Ketujuh, golongan almamater garis keras. Golongan yang satu ini saya sangat suka karena kebanggaan mereka akan almamater yang warnanya kurang masyuk dengan prenjengan kekinian. Namun golongan ini tetap bangga memakainya. Mungkin karena terpaksa atau karena tugas lapangan.

ꝋꝋꝋ
Barangkali di antara pembaca ada yang tidak setuju karena beberapa golongan yang saya sebut tidak mencerminkan prenjengan kalian. Maka dari itu, tambahan-tambahan teman-teman di kolom komentar akan sangat membantu saya untuk mengembangkan mini riset tulisan ini.

Tujuannya, jika lancar, riset tulisan ini akan saya kembangkan menjadi sebuah skripsi. Jika tidak lancar ya mau bagaimana lagi.

Mau bagaimana pun, tubuhmu adalah otoritasmu. Tidak ada yang berhak untuk membatasi setail teman-teman sekalipun itu sebuah aturan baku. Tingkat kebahagiaan atau keberhasilan sebuah kampus, dapat dilihat dari cara berpakaian mahasiswanya.

Lihat saja anak ISI, jika kalian masuk sana untuk sekedar berkunjung, kalian akan selalu melihat gelak tawa para mahasiswanya, bukan tampang-tampang sumpek karena mau pakai celana pendek saja bakal digelandang ke komdis kampus.

Jadilah mahasiswa yang merdeka, karena mahasiswa UAD di mata saya adalah yang tersempurna di antara yang lebih sempurna.

Surat dari Petinggi Liverpool untuk Mas Coutinho

Oleh: Gusti Aditya

Sebenarnya surat ini bersifat sangat rahasia. Walau tidak serahasia Supersemar ala Mbah Harto yang menggulingkan kedigdayaan Sukarno. Tetapi tetap saja penting bagi setengah umat manusia yang berumur tua karena yang umur muda juga berharap namun sebaliknya.

Yang tua berharap bertahan, yang muda berharap cepat-cepat lepas agar supaya mereka dapat mendali yang lebih banyak.

Mbok plis to, saya tidak nyolong, tapi nguping. Surat ini saya dapatkan ketika saya berkunjung ke Merseyside lantaran tugas negara. Iseng-iseng mau masuk ke Godison malah masuknya ke Anfield karena kedua stadiun ini begitu dekat. Tidak sedekat aku dan dia belakangan ini.

Ketika itu ada pengusaha kaya Amerika dan pemain Brazil yang lagi ngaso di pinggir lapangan. Ndilalah bin tidak ada angin tidak ada hujan, pengusaha kaya itu bilang "Sarangheo oppa tanpa i, tapi 120 juta wajib," Sembari memberikan secarik kertas dan berlari malu-malu kucing.

Naluri saya sebagai wartawan terpacu. Saya datangi Mas Cou tadi dan bertanya ada apa. Blio menjawab, "Ane masih cinta gan sama ini klab walau klab cuma kasih saya piala premier, itu aja titlenya Asia. Duh dek. Tapi pernyataan nomor 10 pemilik klab membuat saya degdegan. Read more...."

Tanpa tedeng aling-aling, Mas Cou menyodori saya surat tadi dan dia berlari sambil menangis.  Nah suratnya buru-buru saya salin sebelum saya mengejar Mas Cou untuk menyimpan surat ini baik-baik. Berbunyi seperti ini;

Untuk Mas Cou,

Tidak terasa sudah beberapa tahun kita bersama, namun tidak satu pun piala yang kita rangkul dan banggakan.

Pertama kali jumpa, saya melihat Mas Cou masih kriwil unyu macam kobokan warteg alias pacarnya mbak London Biru Islan. Tetapi, belakangan ini Mas sudah makin kece, pun dengan olah bola yang mas miliki.

Setali tiga uang dengan pencapaian Mas Cou, hirarki bola pun tercipta. Mulai dari awal Mas bermain di klab simbah macam Internazionale 6 stanzas milik komunis, kemudian klab bapak-bapak seperti Liverpool dan akhirnya Mas dicintai para dedek gemas yang merengek kala idolanya pindah ke Paris.

Mas Cou yang juga ndak kalah gemes, mungkin mas tahu respon para Kopite yang tidak rela jika mas pergi. Namun, tradisi selama saya memimpin, jika harga sudah oke, sekali pun Steven Gerrard tetap harus minggat.

Ndak percaya? Torres sama Suarez sudah merasakannya, Mas. Walau katanya itu keinginan mereka, tetapi sebenarnya sudah ada dana yang membuat saya nyengir kuda.

Pun, dahulu Torres dan Suarez sudah saya beri surat cinta macam ini. Sekali pun Jürgen Klopp kowar-kowar ngekeep Mas Cou, jika saya sudah mantuk-mantuk ya Mas harus manut. Jangankan Jurgen Klopp, Jurgen Habermas pun saya berani.

Mas Cou yang suka R satu plus kotak, saya tahu klab ini adalah tradisi. Bukan musiman macam klab yang mengincar mas belakangan ini. Saya juga tahu jika mas sering menangis tat kala gema You Will Never Walk Alone berkumandang. Tetapi klab yang menjadi destinasi mas selanjutnya ndak kalah gemes lho, Mas.

Jika di sini bilang "Wah Cou class is permanent!" Jika di sana, "Mas Cou ganteng bwanget. Dede suka anju." Hakul yakin mas bakal betah.

Lebih yakin jika klab dapat kucuran dana untuk beli ratusan pemain yang bakal flop di musim selanjutnya!

SALAM, MSG, PEMILIK KLAB
YNWA

Begitu isinya. Seharusnya judulnya saya ganti: SURAT MENDEBARKAN UNTUK MAS COUTINHO, NOMOR 10 BUAT ANDA NGACENG. Tetapi saya sadar jika tulisan saya ini yang baca bukan cuma kaum berpenis saja.

Ya sudah. Next year our year, ya to?

Salah Jurusan

 
Oleh: Muhammad Arif Nur Hafidz

Hal yang paling menohok seorang lulusan sekolah paling buncit adalah pertanyaan ajaib “Mau kuliah atau lanjut kerja? Mau ambil jurusan apa?”, dengan nadanya yang sok asik. Ajaibnya, pertanyaan ini selalu terulang di tengah obrolan. Yang bingung, ya, yang menjawab. Lha wong jawabannya belum mengalir di otaknya saat itu.

Paling jamak, ya, akan menjawab senada, “Hehe, masih bingung, belum punya pandangan mau ambil apa”. Receh, namun jika di generalisasi, berjibun persoalannya begitu. Sedikit di jumpai kasus siswa dengan jawaban tanpa pemrosesan macam, “Saya mantap akan memilih jurusan teknik karena saya ingin menjadi engineer muda!”. Kalau pun ada, agaknya dia hendak menjadi mahasiswa teladan: “telat lulus dan wisudaan”.

Luntang-lantung, lulus sekolah, ya, yang terbayang sekadar libur panjang, bebas, hingga kegiatan mbatang di atas kasur seharian. Rutinitas setiap pekan, tanpa kegalauan macam anak lulusan sekolah favorit yang setiap hari bersiap dengan lembaran soal, sembari lebih meneguhan pilihan jurusan yang bakal di pilih.

Rutinitas yang alhasil mengancam di tampuk perjalanan menjelang hari pemilihan jodoh (jurusan), lamun tak tahu benar tidaknya, dia adalah jodoh yang selama ini dicari atau bukan. Hanya bermodal hanpdhone merk anu, searching sana searching sini, tak menemui kejelasan. Hingga mencoba sok berlagak tanya dengan guru yang sejatinya tak tahu apa yang hendak ditanyakan. Begitu terus-menerus hingga akhirnya ladang gandum sudah terserang alien jahat.

Mujur andaikata yang di temui jodohnya sudah jelas, berkat masa pendekatan yang lama (sebut saja proses kepo dengan orang yang sudah ambil jurusan yang di pilih), menimbang apakah dia yang terbaik (dengan membandingkan jurusan lain yang akan di pilih sesuai bakat, passion, dll), dan yang paling penting siap tidaknya menjadi mahasiswa yang katanya jam tidurnya akan menyusut, patut menjadi orang yang berkembang lantaran sudah menjadi mahasiswa dan yang paling umum sih cita-cita menjadi mahasiswa berprestasi, berprestasi untuk tidak titip absen lebih tepatnya.

Kegalauan yang sejak kemarin singgah sejenak, kini kian lama lebih acap datang, entah dari mana asalnya, mendadak lebih sering mampir. Di tengah keragu-raguan, akhirnya tersaring satu diantara dua pilihan asal-asalan yang mbuh ah benar atau tidak, yang terpenting “jalani dulu”, sesal belakangan. Mudah bukan? Hanya di minta memilih kenapa harus pakai bingung.

Dalam prosesnya, “jalani dulu” yang kalau tidak klop, tidak semua mahasiswa baru, dapat langsung berucap “kita udahan aja ya, aku mau sama yang lain (pindah jurusan), yang lebih bisa buat aku nyaman”. Biasanya sih yang model beginian tidak kuat berkat selalu mendapatkan oleh-oleh berupa revisian dosen, hingga ujungnya tak lama pulang kampung lalu ternak lele, untung-untung ada yang langsung menikah dengan wanita yang dijanjikan akan di nikahi ketika lulus, namun nyatanya lebih cepat.

Ya, yang harus prihatin, ya, yang tetap terjerumus dalam dunia kelam (sebut saja revisian, laporan, rutinitas titip absen, dll), mau tidak mau harus mau untuk konsisten dalam ritual-ritual kemahasiswaan untuk menambah deret panjang nama belakang. Entah, nyaman atau tidak yang terpenting pulang kampung dengan tambahan gelar di ujung nama belakang. Entah, ketika di tanya “eh, bisa ngerjain ini tidak?”, dengan senyum simpul sembari membuka aplikasi browser, searching kemudian.

Proses-proses yang di lalui yang hanya waton mlaku tanpa di imbangi dengan proses benar dalam jalur kemahasiswaan yang ujungnya telat sadar dari pingsan setelah mengetahui kalau merasa salah jurusan, tidak lama akan muncul pikiran “mending nikah” lalu menimang anak-anak lucu sembari menatap istri cantik setiap mengurai rambut di pagi hari. Nikmat mana lagi yang ingin engkau dustakan daripada lembaran kertas revisian yang semakin menumpuk.

Selain itu, paling-paling yang masih tetap lanjut mengejar deadline lulus kilat, mikir mau nulis judul skripsi saja sudah bingung, ditambah di tolak terus oleh dosen, yang niatnya mau lulus cepat akhirnya berfikir “ntar dulu deh, nikmatin dulu jadi mahasiswa”, begitu seterusnya hingga surat peringatan sudah sampai di kamar kosan.

Mahasiswa yang di awal rapi, buku tebal tak pernah lupa di bawa dengan tas segede gaban, rambut klimis nan wangi, makin kesini kian kumal. Jarang mandi, seperti sudah kebiasaan berkat telat sadar bahwa jurusan yang di pilih bukan pilihan yang di dambakan. Yang lanjut, ya, paling niatnya cuma yang penting lulus, masalah ilmu sama mau kerja apa pikir belakangan. Hal umum yang ditemui.

Ujungnya, ya, lulus dengan gelar namun tak banyak memberi dampak positif bagi bangsa dan tetangga. Tak ada bedanya dengan masa lulus sekolah di tingkat akhir, luntang-lantung tak punya tujuan jelas dalam hidup. Memilih jurusan kuliah tak semudah memilih jurusan kereta prameks yang dapat di pilih online, membayar, naik kemudian selesai. Prosesnya tidak semudah itu, ada pribadi yang ditempa, untuk berkembang menjadi mahasiswa kreatif penuh karya, kritis dan yang berkualitas untuk kemajuan bangsa.

Kalau memilih jurusan kuliah saja masih bimbang, lebih baik piknik dulu dengan memilih jurusan Jogja-Solo agar segera tercerahkan setelah makan Richesee.

Baca tulisan lainnya tentang KULIAH dan karya dari Muhammad Arif lainnya.