5 Buku yang Harus Anda Baca Sebelum Mati (Tahun Januari-Desember 2017)


Oleh: Gusti Aditya

Desember hampir berakhir, itu tandanya liburan segera tiba. Januari akan segera menyambut Anda dengan segala resolusi-resolusi sampah yang tiap tahun berulang, namun tidak menunjukan perubahan. Begitu juga dengan saya, akhir tahun adalah penanda seberapa rajinnya saya.

Mengapa menjadi tolok ukur sebuah sifat rajin? Karena tahun berganti dan selama 12 bulan akan terlihat berapa banyak buku yang sudah saya baca. Ya, tidak usah saya kasih tahu jumlahnya berapa, namun ada 5 buku selama tahun 2017 ini membuat hidup saya lebih bercahaya dari biasanya.

5. Tuhan Tidak Perlu dibela oleh Gus Dur


Tokoh modern hebat ini adalah salah dua (selain Zakir Naik Cak Nun) yang membuat saya begitu bersemangat belajar Agama Islam. Sebab musabab, ketika saya belajar agama, kebanyakan adalah hal-hal pasti yang "memperdebatkan" pendapat paten adalah sebuah dosa besar. Mereka lantang berteriak "Allahu Akbar", tetapi tidak terbuka akan sebuah pendapat baru. Ada? Ada, namun tidak semua.

Buku pemberian kakak saya inilah yang menjadi jawaban bahwa belajar agama bisa asik. Makan gorengan dan kopi juga bisa. Sebab, buku ini seakan mengajak kita untuk berdiskusi, bukan memaksa pendapat sang penulis kepada pembaca. Topik-topiknya juga relevan dengan polemik yang terjadi belakangan ini di Indonesia. Jadi, tidak ada alasan untuk berkata 'tidak membaca' buku ini.

4. Para Bajingan yang Menyenangkan oleh Phutut E.A.


Jika anda rindu sosok teman humoris yang sedang melucu di kantin SMA dan beberapa humornya garing namun membuat tertawa, buku ini bisa dijadikan pelipurlara kerinduan Anda. Banyak sekali kejadian yang barangkali pernah kita alami sehingga seringkali saya mbatin "mungkin tokoh utama di novel ini adalah saya."

Banyak sekali Bahasa Jawa dan gojek kere khas ABG pinggiran Jogja. Mungkin bagi anda yang tidak paham bahasa Jawa, silakan berpikir dua kali untuk memutuskan membeli buku ini. Namun, apa gunanya berpikir dua kali jika buku yang sedang anda pikirkan tersebut adalah buku yang bagus?

3. Rebel Notes


Buku kumpulan esai yang digarap oleh banyak seniman seperti John Lennon, Kurt Cobain hingga Pablo Picasso sangat layak untuk Anda 'konsumsi'. Stigma bahwa para seniman adalah manusia bodoh dengan baju lusuh akan berguguran ketika Anda memulai membaca lembar demi lembar dalam buku ini.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Katalika dan Octopus ini sangat layak Anda miliki. Terlebih, tidakkah Anda penasaran tentang pikiran-pikiran seksi bin nakal ala idola Anda?

2. A Wrinkle in Time oleh Madeleine L’Engle


Selain Goosebumps, barangkali buku karya Madeleine ini juga menjadi buku “pengantar” saya dalam menuju tahap dewasa. Ketika umur lima, ibu saya sering membacakan sebagai pengganti lagu-lagu Beatles yang kerap dijadikan sebuah lullaby. Itu dulu, kini, sekitar bulan Februari, saya dan Galih Rio sempat mengunjungi bazar buku dan mendapatkan buku ini seharga 5 ribu rupiah.

Semacam nostalgia, namun begitu bermakna ketika saya membaca buku ini laiknya saya belum pernah tahu isi bukunya karena saya sekedar pura-pura tidak tahu.

1.    My Story oleh Steven Gerrard


Buku ini berarti karena diberikan oleh Tresti Wikan pada hari ulangtahun saya. Tebalnya bukan main-main, yakni sekitar 800 halaman. Kecepatan saya dalam menyelesaikannya bukan main-main pula, yakni sekitar 4 jam. Diberikan oleh orang yang sangat berarti, isi bukunya juga tentang sebuah klab yang membentuk watak saya dan akhirnya bisa ditebak, saya menangis.

Saya tidak menemukan kesombongan dalam buku ini. Gerrard sangatlah merendah, saking merendahnya dia bahkan terpeleset dan kartu merah 38 detik menjadi salah satu bahan utama. Lucu, ketika buku biografi pemain lain menyombongkan perjalanan hebat mereka dalam merengkuh berbagai trofi, Gerrad tidak perlu hal itu karena Gerrard memiliki semua itu.

Buku ini laik anda baca, terutama bagi anda yang suka terhadap Liverpool. Bagi yang tidak menggemari Liverpool, saya tak tahu anda harus membaca apa. Mungkin buku mewarnai cocok untuk kalian Namun ada satu buku yang cocok dibaca segala kalangan. Saya menempatkannya lebih agung dari buku apapun juga.

0.    Cerita Bola dari Desa oleh Gusti Aditya Suprihana dan Arif Nur Hafidz

 


Buku terbaik yang pernah ada dalam tata surya jagat raya Indonesia raya saat ini. Menukilkan pengalaman kedua insan manusia dalam proses perkembangan dan kesadaran akan permasalahan dunia sepakbola yang hakiki. Mereka (Ditya dan Apet) tidaklah ndakik-ndakik ketika memaparkan argumennya tentang sepakbola, karena menurut mereka, pangkal kesalahan sepakbola Indonesia dimulai dari DESA!1!1!!

Anda ingin memilikinya? Dengan senang hati saya akan memberikannya kepada anda setelah anda menghubungi whatsapp 089604454123 dengan sedikit mengganti biaya cetak.

Menukilkan Gairah Sepakbola di Kota Saigon

Oleh: Gusti Aditya

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar Hanoi dan Saigon? Barangkali terbesit diingatan ketika sekolah kita mendapatkan materi tentang Perang Indocina 2 antara Vietnam Utara yang digawangi oleh Komunis dengan Vietnam Selatan yang di duduki oleh SEATO. Vietnam Utara menjadikan Hanoi sebagai pusat, sedangkan Saigon dijadikan markas oleh Amrika dkk.

Mari kita singkirkan Perang Vietnam tersebut dan kita bahas lain kali di kolom sejarah dan politik. Kini, ada yang lebih seru di antara hubungan Hanoi dan Saigon (kini bernama Ho Chi Minh City dan untuk selanjutnya saya menggunakan nama HCMC) selain masalah berembel-embel perang. Yaitu sepakbola. Ada sesuatu di antara Hanoi FC dengan Saigon FC. Apa itu? Mari kita mulai.

HCMC bisa disebut lebih ramah dari Hanoi. Transportasi yang masih dibilang wajar dan tidak semrawut. Banyak trotoar yang bersih dan luas. Hanya sesekali saja pengguna motor yang melintas di atas trotoar untuk menghindari lampu lalu-lintas. Perang selama satu dekade pun dirasa berdampak sangat besar, namun dampak tersebut berimbas kepada sesuatu yang positif. Di pusat kota, banyak bendera negara dan partai komunis yang bertebaran, belum lagi baliho-baliho besar yang menampakkan pahlawan mereka, Ho Chi Minh.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 8 juta jiwa, kota ini adalah dalam tahap berbenah. Pembangunan sedang giat-giatnya, serta penggunaan aliran sungai dan kanal yang tergolong padat kadang harus mempertimbangkan faktor cuaca. Di Vietnam, khususnya daerah Selatan, sering mendapat efek buruk dari perubahan cuaca yang cukup ekstrim. Tepat ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di tanah Saigon, hujan deras mengguyur cukup lebat. Nampaknya HCMC ingin memberi salam yang cukup dingin kepada saya.

HCMC adalah kota terbesar di Vietnam dan saya hanya singgah di kota ini selama 3 hari sebelum meneruskan perjalanan ke Barat menuju Angkor. Saya menginap di sekitaran pasar Ben Thanh yang ramainya bukan main. Tentu, pusat perhatian mengenai "bahan tulisan" saya adalah seputar pasar tersebut, paling mentok menuju Istana Reunifikasi. Tidak ada geliat sepakbola yang menjadi pusat perhatian menengok jarak penginapan menuju Stadion Thống Nhất amatlah jauh. Ditambah persediaan uang yang kian cekak.

Di pasar ini menjual banyak pernak-pernik menarik khas Vietnam. Nasib tidak punya uang, ya hanya lihat-lihat saja tidak dosa. Mungkin teman saya yang bernama Axel Kevin jika mengunjungi pasar ini, ketika pulang ke Jogja akan bangkrut total karena jersey KW Vietnam di sini tergolong murah. Ya, walau hanya tim-tim yang berlaga di V.League 1. Ada yang menarik, yaitu logo Saigon FC dengan warna pink sebagai warna latar. Pink? Seperti Hanoi FC, ya?

Benar, di awal kita sempat menyinggung mengenai perang, dan ini ada hal yang lebih menarik ketimbang perang; yaitu tim muda Hanoi FC yang lolos ke Liga 1 dan mengalihkan markas dan menjadi kekuatan yang cukup mengerikan di tanah Saigon--Saigon FC.

Terbesit rasa penasaran saya, mengapa harus pindah markas? Bukankah lokasi adalah faktor yang begitu sakral dalam sebuah tim? Jawabannya adalah sejauh mana tim tersebut ingin berlaga di kasta tertinggi.

Pada mulanya tim yang berdiri pada tahun 2008 ini di bawah naungan sponsor Viettel dan memiliki nama klub yang identik. Pada tahun yang sama, klub berpindah markas ke Thanh Hoa dan namanya berubah menjadi Thanh Hoa FC dan memenangkan gelar Liga 3. Seiring prestasi yang membaik dan diisi oleh amunisi muda, T&T Sports Corporation membeli klub tersebut dan mengganti namanya menjadi Hanoi FC.

Dengan manager yang sama dengan Hanoi T&T, problem pun dimulai ketika tahun 2012 Hanoi FC mendapatkan tempat untuk promosi. Akhirnya, pada awal tahun 2013, pemilik klub pun dipindahkan tangan kepada Nguyễn Giang Đông. Faktor yang muncul selanjutnya adalah, identitas.

Pada tanggal 31 Maret 2016, Hanoi Football Development Joint Stock Company berganti nama menjadi Saigon Football Development Joint Stock Company, yang masih dimiliki oleh pemilik Nguyễn Giang Đông. Pada saat bersamaan, perusahaan tersebut mengirimkan surat resmi ke VFF (PSSI-nya Vietnam). Pada tanggal 4 April 2016, VFF setuju untuk mengganti nama klub menjadi klub sepak bola di Saigon.

Itulah senukil kisah yang tergambar diingatan seorang pemuda yang kebetulan mengunjungi pasar tersebut. Selain sejarah klub Saigon FC, ia mengatakan bahwa sejarah tim-tim di kota ini juga laik menjadi perhatian.

Ternyata oh ternyata, Mas Nguyen (saya tidak tahu namanya) benar dan tidak berbohong bahwa HCMC memiliki banyak tim menengok betapa luasnya kota ini. Đội bóng đá Ngôi sao Gia Định adalah tim sepakbola professional pertama di kota ini, namun bubar pada tahun 1954 karena kalah saing dengan tim-tim baru yang tumbuh menjamur di HCMC. Dan mari kita bahas secara selayang pandang;

Xuân Thành Sài Gòn

Sebenarnya tim ini bukan berbasis di HCMC. Didirikan tahun 1998 di Provinsi Ha Tinh yang letaknya di tengah negara Vietnam. Di tahun 2010, tim ini diakuisisi oleh Xuan Thanh Group dan beranjak menjadi sebuah tim yang dikelola secara profesional. Akademi muda pun dibangun dan juga perekrutan Nguyen Van Sy selaku mantan punggawa timnas sebagai pelatih. Namun semua tidak sesuai ekspetasi di akhir musim.

Namun, semua usaha mereka tidak berhenti begitu saja. Oktober tahun 2010, atau tepatnya di akhir musim, mereka memutuskan memindah markas ke HCMC untuk mengarungi musim 2011. Mereka merubah nama menjadi Saigon Spring Football Club, yang berkompetisi di kasta kedua. Pada tahap ini, klub berkembang dan memenangkan kejuaraan divisi satu, sehingga memiliki hak untuk turut serta mengikuti V.League 1 tahun 2012.

Di akhir tahun 2011 terjadi pergantian nama lagi dikarenakan terjadi pergantian kepemilikan klub. Perusahaan saham Xuan Thanh Sai Gon mengumumkan bahwa mereka telah mengambil alih saham dengan berbagai kesepakatan, di antaranya mengganti nama klub menjadi Xuân Thành Sài Gòn. Tim ini menjelma menjadi kekuatan baru di HCMC, terbukti di musim pertama mereka mengarungi kasta tertinggi, peringkat 3 mereka amankan.

Nahas, di tahun 2013, VFF menonaktifkan klub ini selama musim 2013 lantaran masalah keuangan. Nguyen Duc Thuy telah memutuskan menarik bantuan dana atau berkurang sekitar 45% dari tahun lalu. Klub ini pun dicanangkan untuk berganti nama menjadi Xuan Thanh Cement Saigon. Pihak klub juga sudah meminta bantuan kepada departemen olahraga dan pariwisata kota HCMC namun tidak direspon.

Navibank Saigon

Barangkali tim ini adalah pelopor tim sepakbola militer di distrik 4 Vietnam (ada 9 distrik dan setiap distrik bertanggung jawab atas keamanan di kawasannya). Tim yang pernah bertemu Arema di ajang AFC ini didirikan pada tahun 1998, adalah salah satu tim profesional Tentara Rakyat Vietnam. Tim ini sebenarnya bermarkas di Vinh City, Nghe An.

Pada tanggal 27 Oktober 2009, Komando Distrik Militer 4 memutuskan untuk memindahkan tim tersebut ke HCMC lantaran sebagian saham dibeli oleh Nam Viet Commercial Joint Stock Bank (Navibank). Sebagian tentara yang bergabung di tim ini terpaksa untuk tidak membela di tahun 2010 karena mereka bertugas di distrik 4. Pada tahun 2012, klub mengalami masalah finansial dan dibubarkan.

Thành Phố Hồ Chí Minh

Geliat klub ini sudah terasa sejak musim 1975 di mana perubahan nama terjadi dari Tổng Nha Thương Cảng menjadi Cảng Sài Gòn. Tim ini berpusat pada otoritas pelabuhan, ya tidak dipungkiri bahwa HCMC memiliki port yang begitu besar dan sangat berpengaruh bagi roda perekonomian. Para pemain pun berasal dari buruh pelabuhan dan pada 1 November 1975, tim sepak bola Cảng Sài Gòn resmi didirikan oleh Nguyen Thanh Su, mantan pemain yang bekerja di pelabuhan tersebut.

Di selatan, terdapat beberapa tim kuat yang menjadi saingan tangguh Cảng Sài Gòn. Contohnya adalah Hải Quan yang dikelola oleh Departemen Bea Cukai HCMC. Pada awal 90an, format kompetisi ini berubah dalam hal dana dan subsidi. Banyak tim di Utara yang mengalami kebangkrutan dan memutuskan untuk bubar, namun berbeda dengan tim dengan slogan "Đi trước, về trước" atau "maju kedepan" ini

November 2001 angin segar berhembus di pelabuhan HCMC dan klub ini. Adalah berubah haluannya klub ini yang pengelolaannya menjadi profesional. Tiga tahun berselang, secara resmi mendirikan Southern Steel Football Joint Stock Company - Saigon Port, yang merupakan tuan rumah klub tersebut. Sejak saat itu, klub tersebut membawa nama baru, Southern Steel Club - Saigon Port.

Tahun 2001 gelaran kompetisi dengan format yang baru bertajuk V.League resmi dimulai dan tim ini keluar sebagai pemenang. Namun, terdapat berita kurang mengenakan karena kejuaraan ini tidaklah "juara yang sesungguhnya". Dengan berbagai drama, tim ini kemudian terdegradasi di musim berikutnya dengan gelar juara bertahan yang masih melekat.

Tim ini sempat beberapa kali berganti nama, contohnya di tahun 2008 mereka menggunakan embel-embel nama Vietnam Steel lantaran sponsor. Banyak yang protes karena mereka beranggapan bahwa Saigon Port memiliki sisi magis dalam mengawal sejarah dan prestasi bagi klub maupun bagi kota. Apa daya, sponsor berganti dan panji kebanggaan pun luruh mengikuti kemauan yang tertulis di dalam kontrak.

ꝋꝋꝋ
 
Yang membuat saya tertarik setelah mendengar cerita dari beberapa tim dengan sejarah yang panjang adalah uang mampu merubah segala arah dan kemauan. Bercerminlah di dunia sepakbola kita, ketika tim siluman bermunculan dan menenggelamkan tim dengan penuh sejarah dan gegap gempita di jaman baheula.

Siapa yang peduli dengan tim penuh sejarah? Jika mereka tidak menjual, berdiaplah angkat kaki dari liga teratas yang "penuh dengan gengsi".

Di tempat ini saya mengerti akan satu hal; semua tidak ada yang abadi, kemudian apakah uang adalah wujud tertinggi dari sebuah keabadian? Entahlah, seakan Pasar Ben Thanh berbisik dan mengatakan, "Enyah, kembali ke penginapan dan kemasi barangmu. Phnom Penh akan menyambutmu dan membuatmu semakin 'kaget'."

Bunga Mekar itu adalah Hanoi FC

 Oleh: Gusti Aditya

Vietnam adalah negara yang "gila". Keringnya udara beserta panas dan debu yang mengintai bukanlah pemandangan yang aneh. Kemudian, apa yang membuat negara ini sangat "gila"? Adalah sepakbola-nya. Dengan iklim yang tergolong kering, negara ini malah terkenal dengan timnasnya yang bermain tipikal sprint cepat.

Di sebuah kafe di kawasan Old Town, saya yang duduk termenung tiba-tiba ada penjual jersey keliling yang berkata bahwa harga satuan jersey ini seharga 50000 Dong atau setara 30000 Rupiah. Jersey tersebut berwarna pink dengan logo baru dengan tulisan “HN” yang sebelumnya adalah “T&T”. Ah, Hanoi FC. Dan dalam catatan singkat kali ini, saya akan memperkenalkan sebuah tim ibu kota bernama Hanoi FC atau Hanoi T&T.

Didirikan pada tahun 2006 dan memiliki ambisi yang sama "gila"-nya. Bagi para Bobotoh, barangkali ingat ketika Persib dipukul 4-0 oleh tim yang tergolong sangat muda ketimbang tim kebanggaan Kota Kembang ini. Layaknya timnas Vietnam, kunci kemenangan mereka adalah kecepatan dan Persib pada saat itu tidak bisa mengimbangi permainan tersebut.

Hanoi FC bermarkas di Hàng Đẫy Stadium. Kota Hanoi dan stadiun bagai jarak UGM menuju Mandala Krida, jarak dari Old Town menuju Hàng Đẫy Stadium adalah 30 menit dengan berjalanan kaki. Jarak yang relatif dekat dengan pusat kota dan bisa dibayangkan betapa padatnya kota dengan jumlah sepeda motor mencapai sekitar 5 juta unit ini ketika match day.

Stadion yang dahulunya bernama Hanoi Stadion ini adalah milik dari pemerintah Hanoi. Tidak hanya sepakbola, stadion dengan kapasitas 22.000 ini juga menyelenggarakan berbagai festival kebudayaan. Sama seperti di Indonesia, tiap pagi pelataran stadion digunakan untuk jogging masyarakat Hanoi.

Jean-Eudes Maurice, seorang mantan striker PSG dan pemain timnas Haiti ini juga pernah menggunakan seragam pink-putih kebanggaan Hanoi FC. Serta Gonzalo Damian Marronkle, striker asal Argentina ini berhasil membawa Hanoi FC menjadi kampiun liga pada tahun 2010, 2013 dan 2016. Serta Vietnam Super Cup pada tahun 2010.

Jadi, tidak ada alasan untuk kita tidak mengenal tim yang sedang bermekaran ini. Mari kita mulai.
Banyak yang bertanya, apa yang dimaksud dengan T&T dalam bagian tim ini. T&T di sini bukanlah melambangkan ledakan atau dentuman yang menyeramkan laiknya kata "Dynamo" milik tim MLS Houston Dynamo. Namun, T&T di sini seperti "Red Bulls" dalam tim New York Red Bulls, ya, T&T adalah sponsor tim Hanoi FC yang bergerak pada perusahaan industri, olahraga dan finansial asal Vietnam.

Klub ini memulai debut pada 18 Juni 2006 di bawah naungan sponsor T&T. Di tiga musim awal, tim ini memulai dengan segenap armada lokal dan relatif muda yang dilatih oleh mantan punggawa timnas Vietnam, Trieu Quang Ha. Di sinilah titik sukses mereka, pembinaan pemain muda dan dilatih oleh orang yang faham permasalahan dan perkembangan tim.

Hanoi FC memulai perjalanan mereka di tahun 2007 melalui ajang V.League 2. Di edisi 2007, liga 2 diikuti 16 tim yang dibagi menjadi 3 grub sesuai kawasan bersama empat tim lainnya. Di babak semifinal, Hanoi FC berhasil memukul Dong Tam Long An dengan skor 3-1. Di babak final Hanoi FC kalah adu pinalti 4-2 melawan Quân khu 7 setelah di waktu normal bermain imbang 1-1. Hanoi FC lolos ke V.League 1 bersama Quân Khu 7

Memasuki tahun 2008, tim sadar bahwa pengelolaan uang yang sehat akan berujung kepada kemajuan tim. Hanoi FC mulai melakukan investasi yang cukup fantastis, sekitar 10 miliar VND guna memperkuat armada dengan merekrut kiper tim nasional Duong Hong Son, mantan pemain timnas Pham Nhu Thuan dan Van Si Son. Hanoi FC juga merekrut calon bintang Vietnam yang memperoleh pemain muda terbaik 2 tahun berturut-turut dan punggawa timnas U-23, timnas U-23 Nguyen Thanh Long Giang.

Pada tahun yang sama, Hanoi FC merekrut pemain asing asal Brazil, Cristiano Rocha dan Cassiano Mendes. Permainan mereka terbilang cukup nyetel, terbukti dari 4 laga awal, Hanoi FC sudah masuk 3 besar dan merusak hegemoni tim-tim besar dan juara musim lalu, Becamex Bình Dương.

Baca Juga: CERITA BOLA DARI DESA!!!

Di tahun yang sama, tepatnya pada 9 Maret, kepolisian menggerebek pemuda di Ho Chi Minh City atas dugaan penyalahgunaan narkotika dan 5 pemuda tersebut adalah pemain Hanoi FC. Tak tanggung-tanggung, 1 orang dipecat karena diduga mengajak dan membeli sedangkan sisanya diberikan hukuman pemotongan gaji. Di akhir kompetisi, Hanoi FC meraih posisi ke-8.

Pada musim 2009 Hanoi FC malakukan perombakan besar setelah memperoleh hasil yang mengecawakan di paruh musim dengan berada di zona degradasi. Hanoi FC mengangkat pelatih Nguyen Huu Thang dan ketua baru Nguyen Cong serta merekrut pemain asing anyar, Agostinho. Hasilnya pun di luar ekspetasi, Hanoi FC di akhir musim menduduki peringkat keempat.

Tahun 2010 Hanoi T&T meledak dengan menjuarai Liga Vietnam setelah memperoleh 46 poin dan unggul 1 poin atas Hải Phòng. Ini menjadikan pesta rakyat di Hanoi, pasalnya kota ini sudah 26 tahun tidak mendapatkan title juara, terakhir kali adalah Công an Hà Nội pada tahun 1984. Itu juga menandakan bahwa tim ini akan berlaga di pentas Asia.

Hanoi FC menjalani AFC Cup edisi 2011 di grub G bersama Muangthong United (Thailand), Tampines Rovers (Singapore) dan Victory SC (Maladewa). Hanoi FC hanya menempati peringkat 3 dengan perolehan 8 poin hasil dari 2 kemenangan, 2 hasil imbang dan 2 kekalahan. Di laga home pun mereka hanya mampu memperoleh 4 poin. Di babak ini, Muangthong dan Tampines Rovers berhak melaju ke babak selanjutnya.

Berikutnya, pada tahun 2013, Hanoi FC harus melewati babak kualifikasi terlebih dahulu. Kualifikasi pertama, mereka menang 3-0 melawan Pune (India) dan harus mengakui kekalahannya dari Muangthong United 0-2 di kualifikasi 2. Di tahun 2014, Hanoi FC mencapai babak perempat final. Masuk dalam grub F bersama Arema (Indonesia), Maziya (Maladewa) dan Selangor (Malaysia). Di babak 16 besar mereka menghajar Nay Pyi Tay (Myanmar) dengan skor 4-0 dan di babak perempat final harus mengakui kekuatan Erbil (Iraq).

Pada seri AFC 2015, mereka menekuk Persib (Indonesia) 4-0 dan di babak kualifikasi 2 mereka kalah 7-0 atas FC Seoul (Korea Selatan) 7-0. Pada seri 2016 dan 2017, mereka sedikit tidak beruntung karena harus kalah identik di babak kualifikasi lantaran bertemu tim-tim kuat Asia seperti Kitchee SC (Hongkong dan Pohang Steelers (Korea Selatan).

Patut menjadi contoh tim-tim Indonesia pada umumnya, ketika kita membicarakan sebuah tim yang tergolong ‘muda’ di daratan Vietnam ini. Ketika di awal, mereka sudah serius dalam membangun dengan upaya melibatkan pemain lokal yang tergolong sangat muda serta ditangani oleh pelatih mantan timnas Vietnam yang mengerti apa kelebihan serta kekurangan amunisi Hanoi FC di awal musim hingga mampu promosi ke V.League 1.

Pengelolaan uang yang sehat beserta keseriusan tim yang mendapat kepercayaan sponsor untuk berinvestasi merupakan sebuah keharusan yang dilakukan tim profesional jaman now. Jika pengelolaannya saja ‘hidup segan mati tak mau’, siapa yang mau menanamkan modal dengan sepenuh hati? Yang ada hanyalah orang-orang dengan kepentingan diri sendiri yang ikut campur urusan tim dan malah menghambat kemajuan sebuah tim. Mau belajar dari Hanoi FC, wahai seluruh tim di Indonesia?



Dekat dengan stadion Hàng Đẫy Stadium, sekitar memakan waktu lima menit jalan, terdapat sebuah caffe yang menyajikan kopi Vietnam. Setelah masuk dan memesan, saya duduk di pelataran caffe tersebut. Dengan memejamkan mata dan mengambil napas sedalam-dalamnya kemudian saya keluarkan perlahan. Saya sadar satu hal, Hanoi, sebuah kota cantik dengan tim sepakbola yang digarap begitu serius, laiknya petani bunga tulip yang menyirami setiap hari dengan nyanian cinta dan kelak, di suatu hari, petani tersebut tinggal menikmati hasilnya.

Sebuah Awal: Cerita Bola dari Desa

Oleh: Gusti Aditya

Terdapat candaan yang terus terulang dari hari ke hari, yaitu "rumput sorga telah jatuh ke bumi manusia bernama lapangan SMA Negri 2 Banguntapan". Benar, memang berlebihan, namun jika dibanding sekolah kota, kualitas rumput di sekolah ini memang yang terbaik (karena di SMA kota biasanya tidak ada lapangan rumput). Sebuah prosa yang unik juga menyertai candaan tersebut, yaitu "hanya siswa "terpilih" yang diberi sebuah kesempatan untuk menyicipi rumput sorga tersebut".

Barangkali kata "terpilih" dapat diganti dengan "bandel" atau "ndableg" lantaran terdapat peraturan terkait larangan menginjak rumput selain keperluan pembelajaran. Mengapa "terpilih" sekaligus "bandel"? Ya, karena setiap sore, saya dan teman-teman selalu menjalankan sebuah tradisi sakral berupa menginjak-injak rumput dengan cara menggulirkan sebuah bola di tengah lapangan. Atau nama lainnya adalah sepakbola. Dengan catatan semua guru telah pulang.

Melihat sosok penafsir ruang seperti Steven Gerrard atau insting predator seperti Del Piero di lapangan hijau, tidak sebanding dengan kami yang begitu lihainya mengolah si kulit bundar. Puluhan gol atau assist pun bukan hal yang aneh. Gol-gol indah yang laik mendapatkan Puskas Award pun menjadi pemandangan wajib tanpa diabadikan oleh kamera.

Namun, poin utama bukanlah mencari kemenangan, melainkan nilai apa yang kami dapatkan setelah kami lelah mengadu kemampuan yang ditutup oleh Adzan Magrib bergema. Biasanya kami bergerombol di bawah pohon sembari saling tukar minum. Nah, setelah itu terjadilah obrolan yang barangkali adalah hikmah di balik rusaknya rumput indah sekolah kami tercinta.

Dari lapangan ini, lahirlah sosok Muhammad Arif dalam kehidupan saya. Badannya tidak tinggi-tinggi amat, pun tidak seberat badan saya, namun dia lah yang paling jago di antara kami. Jago bukan hanya seputar teknis dalam lapangan, namun juga penafsiran dan luasnya wawasan dia seputar sepakbola dalam maupun luar negri hingga akar rumput. Jika akar tersebut terdapat serabut, barangkali hingga ujung serabut.

Siapa sangka, dari sebuah desa yang ditutupi tebu seperti ini, hidup manusia seperti Apet (nama akrab dari Arif). Lebatnya tebu tidak menutupi niatnya untuk memahami 'sebenarnya apa yang kurang dalam sepakbola negri ini'. Laiknya syarat menikmati indahnya Stadion Sultan Agung di Bantul, kita harus mampu melewati rimbanya pohon tebu di sekitarnya. Begitu dengan Apet, kita harus melakukan penafsiran berbagai lapis agar mengerti substansi jalan pemikirannya.

Tiga tahun berlalu, rumput sorga telah menjauh dengan cara yang begitu tega, namun saya ingin membangkitkan hal tersebut dengan cara yang berbeda menengok berkumpul di atas rumput sorga dengan keadaan full tim adalah sebuah ketidakmungkinan. Melalui apa? Caranya bagaimana? Saya ingin membuat sebuah kenangan tentang lapangan SMA Negri 2 Banguntapan dengan abadi. Ya, karya tulis. Ketika muncul pertanyaan "dengan siapa pekerjaan ini dilakukan", jawabannya adalah Apet.

Suatu malam kami bertemu di rumah Apet yang hanya berjarak beberapa meter dari stadion kebanggaan Kabupaten Bantul, ditemani rintik hujan di langit yang menetes pelan di teras bumi dan ditambah dua rekan kami yang lainnya, Rifki Murwanto dan Akhid Kurniawan. "Bosan dengan kuliah. Harus ada sesuatu yang berbeda, buat karya, yuk?" Saya membuka pembicaraan.

Jadilah sebuah kesepemahaman di antara kami. Rencananya adalah rangkuman dari apa yang kami bicarakan tiga tahun lalu selepas ibadah main bola. Apa menariknya? Semua masalah ada akarnya, begitu halnya dengan sepakbola. Dan akar dari rumitnya sepakbola Indonesia adalah penataannya dari desa.

Loh, apakah semua permasalahan kami limpahkan kepada desa? Jadi begini, permasalahan itu tidak sepenuhnya salah. Ha? Begini, sepakbola desa adalah sebuah kultur yang kaya dan jarang dikaji. Kebanyakan karya tulis sepakbola berangkat dari hal-hal besar seperti nasionalisme hingga loyalitas, padahal sepakbola desa (tim, kultur dan perangkatnya) adalah pondasi sesungguhnya dari rumitnya sepakbola bangsa ini.

Karya kami berpijak dari hal tersebut (kultur desa), baru kami berbicara manis seputar nasionalisme dan loyalitas. Nah, berangkat dari 2 hal utama, kami bangun sebuah premis baru, yaitu sepakbola dunia sebagai pembanding sepakbola bangsa ini. Mulai dari feminisme, filsafat, politik, taktik hingga sepakbola negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Laos.

Sebenarnya rencana awal adalah membangkitkan kenangan selama kami berdiskusi seputar bola ba'da pelajaran sekolah, menjadi bahasan kultur dan sub kultur tim-tim legendaris macam Persiba, PSIM, PSS, Persis hingga Persebaya. Namun, saya jamin bahwa karya ini tidak ada kalimat saling puji maupun menjatuhkan antara saya dengan Apet satu lembar pun kecuali lembar ucapan terimakasih.

Bagi kami, kenangan berupa foto itu adalah semu, namun karya tulis sifatnya abadi. Jadi, apakah anda bisa menerka bahwa kami sedang merencanakan apa? Ya, sebuah karya yang dapat anda jumpai pada bulan Desember 2018, mepet-mepetnya ya Januari 2018.



Bukan hanya karya tulis, namun juga tersedia gambar menarik.
Versi PDF, tertarik?
Versi PDF, tertarik?
 Akhir kata, bukankah bakat sepakbola selalu dijumpai melalui desa? Apa salahnya kita bangun dahulu sepakbola bangsa dari desa? Semoga karya ini menjawab semua.

Aku Bisa Menciummu Lagi

Ketika Wanita Lain

Siapa yang mau menyatakan perang kepada kehidupan selain dirimu?
Ketika sebagian wanita lain memburu pria berseragam,
Ketika sebagian wanita lain mengendus pria dengan orangtua yang tajir,
Dirimu menyelam ke dalam lumpur
Bersama hal-hal yang kotor dan mengambang di permukaan

Dirimu tidaklah hina,
Malah, engkaulah yang sempurna.
Ketika sebagian wanita lain sibuk bersolek
Ketika sebagian wanita lain lebih memilih membuka instagram
Dirimu malah menyibukan diri dengan setumpuk buku ditambah hangatnya teh buatan ibumu

Apa lagi?
Tidak ada lagi, kecuali satu kata penutup yang pantas untukmu;
Sempurna.

ꝋꝋꝋ

Jika umpamanya adalah pahlawan, mungkin aku pahlawan yang mati dan tak terkenal.
Tetapi, peduli apa aku jika dirimu lah yang mengabadikan namaku dalam pusara.
Membersihkannya setiap hari; menganggap aku adalah manusia; yang terpenting.
Mungkin aku akan menjadi manusia yang lebih bahagia ketimbang Sudirman.
ꝋꝋꝋ

Permintaan Maaf

Maaf, seringkali diriku mengajakmu melihat manusia, bukan hijaunya alam.
Maaf, seringkali diriku mengajakmu makan di emperan ruko yang sudah tutup.
Permintaan maafku, atas dasar hal yang sederhana, tanpa mau memperbaikinya.
Biarlah kita tenggelam dalam pusaran umat manusia,
Melihat si miskin menangis, si kaya tertawa
Aku ingin mendengar “Ternyata ini realitanya” dalam bibir mungil milikmu yang nelangsa itu.

ꝋꝋꝋ

Aku Bisa Menciummu Lagi

Aku bisa menciummu lagi
Setelah sekian lama darahku beku
Berhari-hari hanyalah air yang masuk bersama nasi
Senyummu itu yang paling aku nanti, aku rindu disertai sebuah cumbu

Kita bertukar kabar, menganggap bahwa tidak ada apa-apa
Aku tak ceritakan semua yang sedih, aku tumpahkan semua yang bahagia
Di pengasingan, namaku sudah terpampang,
Jika aku membangkang, dirimu yang menjadi taruhan

Tidak adil, bukan?
Sudahlah, terpenting
Aku bisa menciummu lagi

ꝋꝋꝋ

Nimas

Sayang, ayahmu tidak jahat.
Banyak pria berseragam mencari ayah
Bukan karena ayah jahat,
Bukan karena ayah ini salah
Ayah hanya terlalu berani, nak.

Nimas sayang, ayah pergi dahulu
Ke tempat yang tak menentu
Tidur beralaskan bumi, menghadap matahari
Jogja atau Jakarta, ayah belum tetapkan, nak
Nimas jangan menangis, anak ayah itu berani.

Nimas sayang, ingat pesan ayah.
Jika ada yang mengetuk daun pintu dengan keras;
Jangan dibuka, itu serdadu.
Jika ada yang mengetuk daun pintu di tengah malam;
Itu ayah yang sedang rindu dengan Nimas.