Wednesday, January 18, 2017

Ho Chi Minh, Cerita Fiksi dan Pengasingan

Oleh: Gusti Aditya

Aku tertangkap di Hoi An. Semua bergerak dengan cepat hingga aku tersungkur di tanah dan ditangkap tentara organisasi.

"Sudah tertangkap basah kamu hingga di tanah Vietnam," ujar salah satu tentara organisasi. "Mulutmu harimaumu," ujarnya lagi.

"Tulisanku adalah pikiranku. Kau hanya babu tanpa mengerti apa maksud dan tujuan tuanmu," aku menjawab. Mereka terdiam.

"Kawanmu telah kami buang ke Digoel."

"Bodoh! Arief Saifudin tentu akan membakar semangat para tawanan di Digoel. Kalian mau membuangku ke mana? Ende? Atau Moncongloe? Yang pasti kalian membuangku jauh dari semangat para manusia pemberontak, kan?!"

•••

Aku disergap karena membuat surat terbuka untuk sebuah organisasi yang bergerak monoton beberapa waktu yang lalu. Aku membakar kenyamanan mereka yang berdiri kokoh di singgasananya. Mereka kebakaran jenggot dan membuangku ke tanah Komunis ini.

Entah mengapa mereka malah mencecariku dengan beberapa pertanyaan, salah satu di antaranya adalah aku telah melakukan apa untuk tanah kelahiranku tersebut? Bahkan aku yang hanya berpartnerkan bersama temanku tersebut lebih progresif ketimbang mereka yang berjumlah puluhan.

Malang memang, partnerku yang bernama Arief Saifudin ditendang ke Digoel, aku dibuang ke Ho Chi Min. Aku sadar mengapa aku tak dibuang ke Digoel. Mereka mungkin tahu, apa yang akan Gus Ditya lakukan kepada ribuan manusia di Digoel yang lapar akan perjuangan. Di Ho Chi Min, aku tak mengenal siapa pun, namun aku pastikan, aku tak akan tinggal diam!

•••

Pagi itu aku dibawa menggunakan mobil dari Hoi An menuju Da Nang. Semua terdiam, aku hanya menatap jalan hingga tak aku sadari aku sudah sampai stasiun di Kota Da Nang.

Setelah itu aku dibawa menggunakan kereta dari Da Nang menuju Ho Chi Min. Aku hanya diam, mereka tak mengajakku berbicara atau sekedar menghinaku. Aku tahu mereka, mereka hanya berani di belakang saja.

Perjalanan nampak lancar selama enambelas jam. Sesampainya aku di Ho Chi Min. Aku dibuang begitu saja tanpa berbekalkan arah dan tujuan. Hanya Tuhan tempatku berserah.

•••

Ho Chi Min adalah kota terbesar di negara ini dan terletak dekat delta Sungai Mekong. Dahulu kota ini bernama Prey Nokor, dan saat itu kota ini merupakan pelabuhan utama Nagara Kamboja, yang kemudian ditaklukkan oleh bangsa Vietnam pada abad ke-16. Namanya kemudian berubah menjadi Saigon hingga berakhirnya perang Vietnam, dan dijadikan ibu kota koloni Perancis Cochinchina, dan ibu kota Vietnam Selatan dari 1954 hingga 1975. Pada 1975, Saigon digabungkan dengan provinsi Gia Định di sekitarnya dan diubah namanya menjadi Kota Ho Chi Minh (meskipun nama Saigon masih sering digunakan).

Apa arti dari Ho Chi Minh? Itulah pertanyaan yang berputar di kepalaku. Aku ingin bertanya namun aku tak bisa berbahasa Vietnam. Aku hanya bisa berjalan lurus dan melihat sebuah patung besar di sekitaran pusat kota. Walau jauh dan tak terlihat jelas wajah patung tersebut, aku dapat merasakan semangatnya. Tangan kanannya mengepal dan semangatnya nampak membara.

Hingga sampailah aku di sebuah perpustakaan kota. Aku masukan key word 'Ho Chi Minh'. Ah...betapa terkejutnya aku, semua berbahasa tiếng Việt atau bahasa asli Vietnam. Aku tak jadi membaca buku dan hanya duduk sembari melihat kendaraan yag berlalu-lalang sembari membunyikan klaksonnya.

"Nak?" Betapa terkejutnya aku ketika ada seorang kakek tua yang menyapaku. Wajahnya nampak seperti orang Vietnam asli namun begitu fasih berbahasa Inggris.

"Oh, iya, ada yang bisa saya bantu, Kek?" Jawabku sopan.

"Dibuang memang sulit," kakek tersebut duduk di sampingku. Dia melihat burung dara yang berterbangan di tengah taman perpustakaan. "Belum lagi ini bukan negaramu. Sulit?"

Aku tertegun karena kakek ini tahu bahwa aku sedang diasingkan. Aku hanya mengangguk dan melihat dia. "Kota ini begitu ramai," dia berkata lagi.

"Dahulu bagaimana, Kek?" Jawabku pelan dan membuka pembicaraan.

"Apakah kau tahu siapa Ho Chi Minh?"

"Maksud kakek? Siapa? Apakah Ho Chi Minh nama orang?" Aku melihat kakek tersebut dan kakek itu masih melihat sekumpulan burung dara yang bergerak lincah.

"Ya, tentu. Dia adalah proklamator Bangsa Vietnam. Sekaligus menjadi Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954 - 1969). Ho Chi Minh sebenarnya bernama Nguyễn Sinh Cung, yang juga biasanya dikenal sebagai Nguyễn Tất Thành, Nguyễn Ái Quốc, Lý Thụy, Hồ Quang dan akrab dipanggil Bác Hồ (paman Hồ) di Vietnam.

"Minh terlahir dari keluarga miskin tapi berjiwa patriotis. Minh dan keluarganya serta rakyat Vietnam berjuang keras untuk membebaskan Vietnam dari penjajahan yang ada saat itu dibawah kekuasaan Prancis."

"Bukankah dahulu Vietnam belum mucul? Maksudku masih bergabung dengan beberapa negara?" Aku bertanya.

"Benar. Pada saat itu, dibawah kekuasaan Prancis, Vietnam tergabung bersama Kamboja dan Laos yang membentuk zona Indochina."

"Lalu? Bagaimana latar belakang masa mudanya? Apakah berpengaruh kepada masa depan dunia politiknya?"

"Di usianya yang masih sangat muda, 18 tahun, dia memulai perjuangannya dengan menjadi seorang koki di sebuah kapal angkutan barang. Lewat pekerjaan inilah yang memberikan dia kesempatan untuk berkunjung ke beberapa negara yang pada akhirnya mengantarkan dia sampai ke Rusia..."

"Dahulu Uni Soviet." Aku menyela.

"Benar. Untuk mempelajari ideologi komunis."

"Menarik. Apakah dia mengadaptasi semua pemikiran Marxisme-Leninisme atau hmm.....bagaimana?"

"Lihat poster itu!" Kakek itu menunjukan sebuah poster yang di dalamnya berisikan sekumpulan warga yang menatap ke arah yang sama. "Spanduk tersebut berartikan hidup, bertarung, belajar dan ikut contoh moral Ho Chi Minh."

"Keren. Ho Chi Minh bak nabi di negeri penuh semangat ini."

"Hahaha itu berlebihan," kakek tersebut nampak malu, entah mengapa.

"Hmm...kultus individu juga, Kek, barangkali. Hehe..." Kakek itu kemudian bermuka masam dan wajahnya bertekuk kecewa. "Lalu bagaimana penekanan konkretnya, Kek?" Aku berpura-pura bertanya agar suasana kembali cair.

"Penenakan Pemikiran Ho Chi Minh biasanya dibangun dari pernyataan politik dan tingkah laku Ho Chi Minh." Lanjutnya sambil melihatku.

"Jadi, pmikiran Ho Chi Minh adalah sebuah ideologi yang mengadaptasi Marxisme-Leninisme kepada kondisi sosial, politik, dan ekonomi spesifik dari bangsa Vietnam?"

"Iya. Tepat sekali. Di mana itu merupakan penyangga filsafat politik dari Partai Komunis Vietnam (PKV). Sejak 1991, pemikiran tersebut telah muncul bersama dengan Marxisme-Leninisme sebagai masukkan dalam kurikulum instruksi fundamental untuk para PNS di Vietnam."

"Aku berada di kota yang tepat," ujarku.

"Ini adalah sebuah iklim yang pas untuk para bajingan muda sepertimu," kakek itu tersenyum melihatku. "Ikuti aku."

Kakek itu berjalan menuju patung penuh semangat itu. Langkah kakek tersebut begitu gagah meskipun usia tak mampu ia sembunyikan. Aku mengikuti di sampingnya.

"Kau berasal dari Indonesia, Nak?"

"Iya, Kek. Bagaimana bisa tahu?" Tanyaku.

"Ho Chi Minh sudah mengenal manusia-manusia hebat dari Indonesia," ia bercerita sembari berjalan pelan. "Ho Chi Minh pernah bertemu dengan Alimin. Kau pasti tahu, Nak, siapakah Alimin dan bagaimana jasanya untuk negerimu."

"Tentu. Hanya manusia bodoh yang melupakan jasa pahlawannya. Alimin adalah manusia hebat. Bahkan beliau adalah tokoh penting dengan predikat pahlawan nasional, yang kemudian terkubur karena ideologi komunis yang mereka anut. Bangsat!"

"Hahaha. Alimin pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern (Komunis Internasional). Alimin tidak lama di sana karena bertemu dengan Ho Chi Minh dan diajak ke Kanton, sekarang Guangzhou.

"Kemudian di situ mereka bertemu. Pada saat itu mereka terlibat secara ilegal untuk mendidik kader-kader komunis di Vietnam, Laos, dan Kamboja untuk melawan penjajah dan merebut kemerdekaan dari jajahan Perancis."

"Niat yang mulia," jawabku. "Maaf sebelumnya, apakah Ho Chi Minh bengis?"

"Hahaha. Bahkan dia tak bisa melihat darah, Nak. Dia juga pernah menulis surat kepada  orang Vietnam dan orang Perancis serta saudara-sadaranya orang-orang di seluruh dunia. Terdapat kalimat Orang Vietnam akan menerima dengan senang hati kedatangan orang Perancis di bumi Vietnam dan bekerja di Vietnam. Pemerintah Vietnam akan melindungi orang Perancis di Vietnam, melindungi keuntungannya, melindungi harta bendanya dan melindungi kebudayaannya."

"Pemimpin yang sungguh menginspirasi. Aku berani bersumpah bahwa Stalin, Mao Tse Tung dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya tidak akan bisa menulis surat seperti itu," jawabku sembari mengikuti langkahnya yang pelan. "Oh iya, terdapat percampuran budaya antara Prancis dan Vietnam kala itu. Bagaimana Ho Chi Minh menyikapi itu, Kek?"

"Ho Chi Minh banyak membaca buku-buku tulisan Tolstoy, Anatole France, Emile Zola, Roman Rolland dan lain-lain serta bergaul dengan orang-orang yang beraliran anarkis. Banyak yang menyamakan dia dengan Gandhi."

"Gandhi? Mengapa?"

"Hahaha. Gandhi sudah sarjana sejak usia 20, sedangkan Ho Chi Minh masih menjadi jongos di kapal. Angkatan tahun mereka juga berbeda. Sekalipun kedua orang itu mempunyai perbedaan yang besar tetapi potret keduanya ketika tinggal di negeri barat sangat mirip. Walaupun keduanya berpakaian cara barat tetapi mereka bersikap ketimuran dalam potretnya. Mereka ingin menjadi seperti orang barat tetapi tidak bisa."

"Hahaha," aku terpekik saat kakek tersebut bercerita dengan santai dan tanpa berpikir. Semua seperti tanpa beban. "Mereka seperti menjadi sadar dan mengetahui, bahwa kebudayaan merekalah kebudayaan yang baik."

"Benar," kakek itu nampak lebih bersemangat. Semua orang di taman tersebut sedang melihatku. Mungkin mereka bingung mengapa aku berjalan pelan dan mengikuti seorang kakek tua berpakaian katun ini.

"Oh iya, Kek. Bukanlah komunis itu menolak perbedaan kelas, ya? Nah, bagaimana pandangan Ho Chi Minh mengenai masyarakat utopia?"

"Ho Chi Minh berfikir, karena kejujuran orang menjadi miskin. Jadi sampai akhir hidupnya, Ho Chi Minh tidak suka kemewahan. Sampai akhir hidupnya Ho Chi Minh hanya memiliki dua helai pakaian terbuat dari katun. Sekarang ini di Vietnam banyak terdapat buku-buku sejarah untuk diajarkan di sekolah-sekolah. Sebagian besar isi buku sejarah itu adalah sejarah tentang kemiskinan Ho Chi Minh. Tentang kepahlawanannya hanya ditulis sedikit saja."

"Katun? Seperti baju kakek ini, ya? Hmm sungguh tokoh yang patut dipelajari. Baik semangat dan perjuangannya."

"Inilah Ho Chi Minh," kakek tersebut melebarkan tangannya. Aku terkejut karena patung besar yang sejak pertama aku lihat saat aku dibuang di kota ini adalah tokoh revolusi bangsa ini. Aku tertegun dan melangkah maju.

"Nak, bersikap revolusioner tidaklah salah. Bahkan itu adalah hal yang wajar seperti gejolak darah muda yang engkau miliki. Namun engkau jangan sampai melukai musuhmu sekecil apa pun lukanya. Jika iya, kelak, luka itu akan berbalik mengenaimu. Cintai musuhmu, maka engkau akan mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya."

Aku terlalu asyik menikmati patung tersebut dan melupakan hadirnya kakek tersebut yang telah banyak memberikan arti perjuangan. "Kek, terimakasih atas semuanya. Jika boleh tahu, nama kakek siapa?" Aku bertanya namun mataku tak lepas dari patung gagah tersebut.

"Panggil saja Paman Hồ," aku terkejut ketika mendengar jawaban dari kakek tersebut. Aku langsung berbalik untuk melihatnya, namun ia sudah tak ada di tempat.

•••

Aku berpijak di kota ini, dibuang dan diasingkan. Hanya bisa mendengarkan hiruk pikuknya kota ditemani bunyi klakson di seluruh penjuru kota. Namun semangat yang dialirkan oleh Ho Chi Minh rasanya sudah menyebar di penjuru negeri bintang emas ini. Andai Indonesia dapat menghargai para pahlawannya.

Terimakasih Paman Hồ

__________________

Referensi:

Trung, Thai Quang. 1990. Faksionalisme dan kepemimpinan kolektif di Vietnam::studi tentang warisan Ho Chi Minh. Jakarta: LP3ES.

http://www.theglobal-review.com/

Mybllshtprspctv®

Eksistensi manusia dan Telaah Cinta Sejati melalui Lirik Lagu Karya Freddie Mercury

Oleh: Gusti Aditya

Pagi ini sebuah lagu dari Band Ballad Rock asal Inggris mengalun pelan di pelataran hotel tempatku menginap. Entah mengapa lagu ini tak ada matinya. Bahkan dapat dibilang lagu ini selalu aku dengar ketika aku belum lahir. Ayahku selalu memutar lagu ini ketika masa berpacaran dengan ibuku. Bahkan tetap mengalun saat aku berada dikandungan ibuku. Lagu tersebut berjudul Love of My Life karya band kenamaan asal Britania Raya, Queen.

Mendengarkan lagu-lagu dari Queen yang bertemakan tentang cinta, seakan aku bisa merasakan bagaimana pria jaman 80an memperlakukan wanitanya dengan indah dan berkelas. Bagaimana puisi lebih utama ketimbang sebuah permata atau lagu-lagu romantis yang diberikan kepada pasangannya yang dapat membuat tersenyum dan sebagai media peleburan rindunya.

Lagu-lagu dari Queen memang tak lepas dari sentuhan sang vokalis yang bernama Freddie Mercury. Bagaimana pria kelahiran Tanzania ini bisa menghembuskan napas yang kental di setiap lagu-lagu Queen tanpa merendahkan anggota Queen yang lain.

Farrokh Bulsara atau yang lebih akrab disapa Freddie Mercury ini lahir di Stone Town, Zanzibar - sekarang termasuk wilayah Tanzania, Afrika Timur, 5 September 1946 – meninggal di London, Inggris, Britania Raya, 24 November 1991 pada umur 45 tahun. Pria ini dikenal sebagai seorang vokalis yang atraktif dan memiliki vokal yang kuat, yaitu mencapai 4 oktaf.

Di sini kita tak akan membahas kontrofersi yang beliau lahirkan atau agama apa yang beliau anut. Melainkan kita akan membahas telaah cinta sejati menurut pria kenamaan yang berhasil menciptakan mahakarya besar berjudul Bohemian Rhapsody.

Seorang pemikir Mazhab Frankfurt Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Art Of Loving” menegaskan pentingnya relevansi cinta untuk menjadi solusi bagi masyarakat kapitalis modern yang telah terdisintegrasi oleh ketimpangan sosial. Menurut Fromm, teori apapun tentang cinta harus mulai dengan teori tentang manusia, tentang eksistensi manusia. Cinta adalah jawaban bagi problem eksistensi manusia yang berasal secara alamiah dari kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan meninggalkan penjara kesepian.

Bagaimana cinta menurut sosok Freddie Mercury? Apakah beliau memiliki teori tersendiri mengenai eksistensi manusia?

Nampaknya jawaban tersebut dapat diperoleh melalui lagu karya beliau yang berjudul You Take My Breath Away dalam album A Day at the Races yang dirilis tahun 1976. Dalam lagu ini Mercury menyampaikan bahwa manusia ada jika ada yang mencintai. Manusia akan berarti jika dihargai oleh pasangan, dicantai selayaknya pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara.

Every time you make a move
You destroy my mind
And the way you touch
I lose control and shiver deep inside
You take my breath away

Cinta sejati menurut Mercury ialah cinta yang mampu meledakan energi kita. Cinta mampu membuat hal-hal konyol yang di luar logika kita namun menurut mereka yang sedang merasakan cinta, hal itu adalah wajar. Cinta sejati pula yang mampu membuat seseorang tersebut mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Uniknya, Mercury tidak hanya ubek menuliskan lagu prihal cinta kepada wanita semata. Mercury sangat peka pada problematika manusia dan masyarakat pada zamannya. Saat dunia dilanda resesi ekonomi yang akut dan pengangguran merebak luas, kelaparan yang terjadi di berbagai belahan dunia, keseimbangan sosial terganggu karena ulah manusia, dan lainnya. Mercury menampilkan seluruh realitas itu. Bahkan Mercury juga menyentil mengenai cintanya kepada seorang pria. Lah?

Mary Austin lah wanita yang beruntung itu. Barangkali wanita ini tiap malamnya selalu dinyanyikan lagu-lagu romantis karya Mercury di rooftop kontrakan mereka sembari ditemani bintang-bintang indah atau bahkan saat mereka bercinta, lagu-lagu Mercury lah yang menemani setiap peluh mereka yang bercampur. Semua terkesan erotis dibalut suasana yang begitu romantis. Sampai akhirnya Freddie mengaku bahwa ia lebih tertarik kepada laki-laki ketimbang perempuan. Walaupun secara badaniah ia tertarik kepada laki-laki, jiwa dan hatinya hanya cinta kepada Mary.

Mercury nampaknya sangat memegang erat apa yang ia katakan melalui karya-karya briliannya. Mercury memegang erat apa yang dinamakan cinta sejati yang sudah lama ia goreskan melalui vinyl Queen yang terjual jutaan kopi. Mary kemudian menikah dan memiliki anak. Freddie dengan senang menjadi bapak baptis dari anak itu. Semua nampak bahagia dengan pasangan mereka masing-masing.

Tentu Mercury tak sembarangan merasuki lagu-lagunya dengan lirik cengeng yang tak bermakna. Lihatlah ketika dia menyetubuhi lagu Bohemian Rhapsody dengan sebuah lirik yang terdapat kata Galileo, filsuf zaman pencerahan asal Italia yang berseteru dengan elit gereja. Kemudian ada juga Figaro yang pernah muncul dalam opera olahan Mozart dengan judul Pernikahan Figaro yang merupakan hasil karya seniman Perancis.

Figaro dan Susan merencanakan pernikahan mereka. Restu pernikahan datang dari Almaviva, majikan mereka, penguasa sebuah puri dengan satu syarat. Syarat itu, yang telah berabad-abad mentradisi, adalah Almaviva harus mencicipi keperawanan Susan sebelum gadis itu diserahkan kepada suaminya yang sah, Figaro. Secara simbolik Mercury menunjukan bahwa penguasa itu bisa sangat jahat dan menghalalkan segala cara. Pernikahan Figaro mau tunjukkan kekuasaan itu cenderung korup. Tetapi Figaro berani melawannya dan menang.

Cinta bukan hanya kepada wanita semata. Cinta bisa kita tumbuhkan untuk siapa saja. Menurut Mercury, cinta bisa kita alirkan kepada musuh yang sedang berseteru. Hal ini terjadi dalam konteks kata Bismillah dan Beelzebub harus dilihat bukan dalam kesejajaran, tetapi sebagai kekuatan yang saling bertentangan. Sangat jelas dalam lirik disebutkan bahwa Beelzebub menyuruh iblis menyingkirkanku, dengan Bismillah si tokoh menegaskan ia akan pergi.

Mercury adalah manusia cinta seribu drama. Bisa saja lirik yang ia alirkan tersebut tak bermakna atau bisa saja tak pernah memiliki arti yang tunggal dan pasti, selalu multiinterperetasi. Ah, Freddie Mercury, bahkan iblis pun juga bisa jatuh cinta kepadamu hanya karena keindahan lirik dalam sebuah lagu yang engkau hembuskan.

Mybllshtprspctv®

Thursday, January 12, 2017

Hoi An, Kota Tua dengan Sangkar Besi di Sekitarnya

Oleh: Gusti Aditya

Betapa senangnya ketika kereta berhenti di Da Nang. Sebuah kota besar di negara Vietnam yang terletak di sebelah Timur. kota yang pernah menjadi ibukota provinsi ini nampak sedang dalam tahap pembangunan yang luar biasa pesat. Hotel-hotel cantik nan berkilauan dan pusat-pusat perbelanjaan yang baru tumbuh seakan menambah kesan bahwa kota ini akan mengambil hati para wisatawan yang berkunjung ke Negara Komunis ini.

Alih-alih akan lama singgah di kota ini, saya dan rombongan malah dibawa mlipir menuju sebuah tempat antah berantah nan tak bertuan. Kami dibawa dengan bus selama 30 menit menuju sebuah tempat yang sepi dan tenang. Tak ada bunyi klakson yang biasa kami dengar ketika berada di Ha Noi.

Menikmati Kota Da Nang hanya menjelajahi kulitnya saja, namun kami diberi kesempatan untuk menikmati pemandangan, ilmu, sejarah hingga peliknya kota wisata yang bertajuk Hoi An: The Ancient Town.

Hoi An dan Da Nang ibarat simbiosis mutualisme. Akses ke Hoi An sangat bergantung dengan keberadaan kota Da Nang, sekitar 30 km di utaranya. Kota Da Nang memiliki satu-satunya bandara dan stasiun kereta api yang paling dekat. Da Nang pun sama membutuhkannya dengan Hoi An. Dengan adanya Hoi An, pendapatan kota ini tiap tahunnya mengalami pertumbuhan akibat laju wisatawan yang memilih akses menuju kota terbesar ketiga di Vietnam ini.

Selain simbiosis mutualisme, nampakya simbiosis parasitisme lebih dahulu menampakki dua kota ini. Dulunya, Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan ini didatangi bangsa Portugis dan Jepang. Namun sayang, keberadaannya sebagai pelabuhan utama terkikis oleh letak Da Nang yang lebih strategis dan pengendapan di pelabuhan Hoi An.

Ada berbagai pilihan akses dari Da Nang menuju Hoi An. Bisa menggunakan taksi seharga 400.000 Dong. Ada alternatif lain yaitu menggunakan bus kota dengan harga yang berbeda antara penduduk asli dan turis. Penduduk asli dikenakan 8.000 Dong, sedangkan turis 40.000 Dong.

Hoi An terletak di Provinsi Quảng Nam dengan penduduknya sekitar 120,000 jiwa. Dengan luas sekitar 60 km2, Hoi An diangkat sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO karena memiliki sebuah sudut yang bernama Old Town yang begitu cantik. Jika diibaratkan seorang wanita, mungkin sudah banyak pria yang jatuh cinta dengan Old Town.

Kota ini sangat cocok bagi para penikmat sejarah. Anda bisa merasakan hadirnya seorang pedagang yang melewati pelabuhan, buruh kapal yang sedang bersiap berlayar, tentara kolonial yang singgah dan hendak bernegosiasi dengan petani rempah hingga ada kapal besar yang menampung rempah-rempah yang hendak dikirim ke Eropa. Ah, indah.

Sekarang berbeda. Kapal-kapal yang berjejeran hanya digunakan sebagai tempat berjualan makanan. Mulai dari Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat, hingga roti Banh Mi, baguette isi daging panggang dan sayuran. Hmm...

Apakah anda pernah melihat film garapan Walt Disney Animation Studios, yang berjudul Tangled? Di mana ada lentera-lentera terang yang berterbangan di seluruh langit. Nah, malam hari di Hoi An juga nampak serupa namun tak sama. Di Hoi An, sungai di Old Town akan dipenuhi dengan floating candles-nya yang begitu menawan.

•••

Bagi saya, mengunjungi tempat wisata tanpa suatu pelajaran yang dibawa pulang adalah suatu hal yang sia-sia. Bahkan saya lebih menyukai melihat sisi yang orang lain hindari saat berkunjung ke tempat wisata.

Begitu halnya dengan kunjungan saya ke Hoi An. Begitu menginjakan kaki di Old Town, ada suatu keanehan yang membuat saya bertanya-tanya. Untuk hanya sekedar mutar-mutar di Old Town, kita diwajibkan untuk membayar?

Kita dikenakan tiket sebesar 120.000 Dong untuk satu orang. Dengan tiket tersebut kita bisa menikmati 5 tempat berbayar secara acak. Tempat-tempat yang dikenakan harga khusus tersebut adalah Japanese Covered Bridge, Assembly Halls, Old Houses, Communal Houses dan Museums.

Lalu saya bertanya-tanya, bagaimana jika hanya sekedar tetenguk dan menikmati pelabuhan tuanya saja? Sayang, tetap harus membayar. Ibarat kita ke Candi Borobudur, hanya melihat dari kejauhan saja kita harus membayar.

Kami pun bertanya tiket tersebut aliran dananya kemana. Petugas tiket menjawab bahwa aliran dana akan diserahkan untuk dana perawatan kota. It's fine, bagaimana dana yang kami keluarkan tidak salah sasaran. Dan dana yang dikeluarkan turut membantu berdiri kokohnya situs kuno ini.

Bertanya-tanya kepada para turis lain pun nampaknya menjadi hal yang asyik. Seorang pria jangkung dan masih muda asal Rumania berpendapat jika hal ini terlalu mahal hanya untuk menikmati sebuah kota. Terlebih dia tak tertarik untuk masuk 5 spot berbayar yang tersebut di atas.

Seorang pria tua asal Iran berpendapat lain. Dia berpendapat jika tiket masuk tak seberapa dengan keindahan yang tersaji di dalamnya. Alih-alih dia mengira bahwa harga tiket masuk dan 5 spot tersebut terjual terpisah, ternyata itu menjadi satu paket yang membuat dia senang.

Hal unik lainnya pun terjadi. Malam hari gelombang bule berdatangan untuk menikmati indahnya kota tua ini. Namun penjaga tiket yang tadi siang berjaga dengan pakaian tradisional tersebut tak ada di tempat. Semua bule hilir mudik tanpa penjagaan dan tak diharuskan menunjukan tiket masuk.

•••

Ingin melihat indahnya peleburan budaya antara Cina, Jepang, Vietnam dan India dengan begitu apik? Atau anda adalah traveler yang gemar mengabadikan momen melalui seni foto grafi? Atau anda adalah seorang penikmat sejarah yang ingin melihat kokohnya sejarah hidup yang masih bergerak dengan begitu dinamis dan memikat?

Hoi An siap menyambut anda dengan sebuah sangkar besi yang masih menjadi ribuan misteri yang belum terpecahkan hingga kini.

Mybllshtprspctv®

Wednesday, January 11, 2017

Surat Untuk OSIS SMAku di Tahunku

Post ini awalnya saya posting di Line, namun karena banyaknya yang 'menentang' agar postnya dihapus, maka lebih afdol jika saya posting saja di blog saya agar abadi.

Revolusi dimulai dari bawah! Selamat membaca.

•••

Assalamualaikum,

Ini saya, bekas anggota kalian.

Di sini saya ndak akan tanya apa sih gunanya kalian selama meraih masa jabatan kalian dahulu. Itu malah membuat kalian pusing sendiri untuk menjawabnya yha khan?

Saya menulis ini juga bukan karena saya memutuskan keluar di tengah jalan sewaktu menjabat di organisasi kalian beberapa tahun yang lalu. Tak ada unsur sakit hati dan balas dendam atau apa pun.

•••

Pagi itu entah dikarenakan angin apa, saya mendaftar menjadi anggota. Bayangan dari SMP, bahwasannya menjadi anggota OSIS adalah idaman setiap manusia di muka bumi ini.

Menengok pengertiannya yang menurut saya pribadi OSIS itu adalah sebuah organisasi yang menjadi wadah bagi para siswanya untuk berlatih berorganisasi dengan baik, cakap dan tepat guna. Terlebih kegunaan dari organisasi ini sebagai tempat kehidupan berkelompok siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Wangun kan? Bagaimana kita menjadi sebuah motor pergerakan, kita berlatih menjadi lebih hebat dan kita menjadi pribadi yang lebih dikenal adek kelas yang semledot-semledot.

Beberapa bulan bergabung, lha kok malah gini? Lha kok cuma menjadi ajang adu kumpul yang goal-nya hanya acara MOS, musik-musikan dan beberapa acara ndak jelas yang menggelitik kopok di kuping saya?

Belum lagi selama pelaksaannya, yang kerja ya kerja, yang bisa ngomong ya cuma duduk manis, muter lagu dan menjadi MC yang pada saat itu dicap sebagai 'tugas maha mega berat' karena harus tampil dan berbicara di depan publik.

Tanpa berpikir panjang, kurang lebih mengemban masa jabatan selama enam bulan, saya memutuskan keluar saja dengan cara yang tidak hormat dari keorganisasian tersebut. Hinanya saya.

•••

Boleh jujur? Organisasi ini malah yang terlemah jika dibandingkan dengan yang lain. Ibarat pohon, organisasi ini adalah batang, sementara organisasi lainnya adalah ranting. Mengapa lemah?

Apakah ada tidak lanjut dari orang-orang hebat yang pada saat sesi wawancara menjawab bahwa 'ingin memajukan sekolah' setelah dia lulus? Kumpul-kumpul terakhir dari setiap tahun angkatan pun tak berbekas 'gunanya untuk apa' kumpul-kumpul tersebut.

Sebagai agen perubahan di lingkungan sekolah pun mereka gagal. Tak ada inovasi brilian yang mereka sajikan dengan aktual. Official account Line@ pun setelah saya tanya-tanya adminnya siapa, ternyata bukan dari anggota OSIS. Malah jika saya melihat kontennya, bahkan lebih bermanfaat dari akun twitter OSIS yang membahas mengenai event, event dan event saja.

Setelah mereka lulus, di mana mereka? Mana janji suci mereka yang mau memajukan SMA? Apakah terhenti setelah masa jabatan telah habis? Jika seperti itu, mereka sama hinanya dengan saya yang memutuskan keluar di tengah jalan.

Pulang ke SMA, malah ada hal yang membuat saya tertegun dan geleng-geleng. Sekolah Adiwiyata yang memasang AC untuk kepentingan tertentu. Saya langsung bertanya kepada salah satu guru, "Apa ada siswa yang protes mengenai ini? Jika belum, saya yang protes. Karena Adiwiyata adalah gelar yang berhasil susah payah didapatkan pada waktu angkatan saya". Ternyata belum ada. Alumni hanya sambi lalu tersenyum dan membangga-banggakan karena sekolahnya telah berkembang.

•••

Lantas adanya latihan dasar kepemimpinan yang berjalan monoton dari tahun ke tahun itu untuk apa? Apakah ndak ada niatan mencontoh SMA yang lain yang alumni anggota OSISnya begitu kuat hingga menjadi sebuah keluarga besar yang menyangga beratnya beban sekolah? Atau hanya bekerja selama dua periode lalu udah? Apa bedanya kalian dengan menstruasi yang dialami oleh kaum hawa?

Apakah satu-satunya kebanggaan kalian adalah kalimat "tahun saya menjabat, sekolah saya menang dalam ajang lomba joget Gangbang Sytle ala-ala Koreya"?  Atau kalau gak ya "angkatan saya berhasil mendatangkan Dodyit Mulyantho"? Keren.

Kalian ngambek? Setidaknya Ki Hajar Dewantara pernah menyulut api kepada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melalui tulisannya di surat kabar De Expres pimpinan Douwes kala itu.

•••

Halo OSIS BADU angkatan tahun ini. Kalian sudah membaca kabar kawan-kawan kalian dari SMAN 13 Depok? Mereka hebat, ya? Sedari SMA sudah bisa berpikiran tajam mengenai ketidak adilan. Kalian gimana? Masih sibuk ngurus class meet nanti bakalan ngadain lomba kasti atau voli? Atau malah sibuk bakal datengin Sri Kecirit atau NDY AK47?

Adek-adek ndak protes po mengenai ruang terbuka hijau BADU yang kian keropos? Atau pembangunan yang 'asal ndeleh' di lingkungan sekolah? Hmm pohon-pohon indah punya BADU kita kian habis di potong untuk pembangunan lho, dek.

Ayo dek bangun. Kita buka mengenai masalah-masalah yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Saya faham betul kalian tahap belajar berorganisasi, namun apakah salah jika kita mengejar ketertinggalan kita dari SMA lain?

Mengutip dari postingan Mas JOSU, "Pendidikan mu masih sedang tidak baik baik sadja dab. Sudah saatnya nalar pendidikan kritis siswa/siswi SLTA di Jogja direproduksi kembali. Dalam Student Movement bergolak vertikal melawan tirani kecil dari rezim sekolah masing-masing."

Jangan menjadi organisasi sunyi senyap seperti para pendahulumu, dek.

Saturday, January 7, 2017

Hanoi, Dua Sisi Mata Uang

Oleh: Gusti Aditya

Tiba-tiba seseorang merebut sandalku dan menjahit sisinya walau masih terlihat kokoh. Aku hanya bingung melihat dia dan berulang kali aku mengatakan "Aku tak mempunyai uang untuk membayar jasa anda". Namun seolah mereka tak mengerti Bahasa Inggris, rekan satunya malah mengajakku membahas mengenai semi final piala AFF 2016 yang baru saja dihelat kemarin.

Dengan paksa aku mengambil sandal dan tiba-tiba orang tersebut mengacungkan pisau tepat di pergelangan lenganku. Aku balas tatap dia dan akhirnya dia melepaskan tanganku dan mengendurkan pisaunya.

•••

Pembuka di atas bukanlah cuplikan adegan film action seperti yang diperankan oleh Jackie Chan atau Bruce Lee. Dua alenia di atas merupakan kejadian sungguhan yang aku alami di Ibu Kota Negara Vietnam ini.

Chaos, itu lah kata yang dapat aku sampaikan. Kesan itulah yang dapat aku utarakan hingga aku menulis tulisan ini di hotel tempat kami singgah.

Bunyi klakson di mana-mana. Aku tak tahu, klakson merupakan cara mereka berkomunikasi atau bagaimana. Atau jangan-jangan, klakson adalah salah satu ciri khas dari kota ini? Entahlah aku kurang faham.

Bercerita mengenai lalu lintas, aku sudah kehilangan kata-kata untuk menggambarkannya. Anda bisa saja menunggu selama satu jam hanya untuk menyebrang jalan di sebuah perempatan kecil. Jika anda nekat, ya klakson lah yang akan berbunyi menyambut langkah anda.

Transportasi umum di sini, menurutku pribadi, masih tergolong belum memadai. Misalkan saja bus kota yang rutenya sangat banyak dan petugas tiket yang kurang informatif. Anda bisa mengetahui bus tersebut melaju ke mana jika sudah menaiki bus tersebut. Maka pepatah 'malu bertanya sesat di jalan' sangat cocok diberlakukan di kota ini.

Taksi berargo, taksi biasa, ojek, becak (aku tak tahu namanya) hingga ojek online cukup banyak di sini. Namun aku tak tahu apakah transpirtasi ini ramah terhadap para turis atau tidak menengok banyaknya pendapat mirror yang bersebaran di website tentang pendapat pribadi para penulisnya yang pernah singgah di kota ini.

Kota ini sepertinya tidak ramah untuk para pedestrian. Para pengguna motor banyak yang menerobos terotoar hanya untuk mempersingkat waktu. Menerobos lampu lalu lintas aku rasa bukanlah hal biasa. Anehnya, semrawutnya kota ini, aku sangat jarang melihat kecelakaan. Seakan para pengendara motor di kota ini memiliki skill tingkat dewa dalam berkendara.

Tanpa helm dan spion pun tak masalah. Bebas anda mau berkendara menggunakan helm maupun tidak. Polisi ada, tilang pun pasti ada dong? Tapi aku bingung, yang ditilang itu yang seperti apa? Atau jangan-jangan yang ditilang malah yang patuh? Entah.

Kota ini tergolong kota padat. Menurut data resmi yang dilaporkan pada 2015, ada 5,5 juta kendaraan teregistrasi. Jika tidak dihentikan hanya tinggal menunggu waktu sampai populasinya menyamai 7,7 juta jumlah penduduk.

Terlepas dari semua, Hanoi memiliki keindahan di balik chaosnya keadaan kota. Aku lebih menyoroti makanannya. Pho, makanan yang sudah terkenal seantero dunia. Sebenarnya ini hanyalah mie beras yang khas dari Vietnam. Yang membuatnya enak adalah dihidangkan saat panas ditambah irisan daging babi yang menggoda lidah anda. Menurutku pribadi, mungkin letak kenikmatannya ada di kuahnya yang terbuat dari kaldu sapi.

Apa lagi ya yang bagus dari Hanoi...hmmm mungkin objek wisatanya seperti Hoàn Kiếm Lake, Ho Chi Minh Mausoleum, Văn Miếu - Quốc Tử Giám, Hanoi, Vietnam Museum of Ethnology, Hỏa Lò Prison, West Lake, St. Joseph's Cathedral, Hanoi, One Pillar Pagoda, Ho Chi Minh Museum, Trấn Quốc Pagoda, Hanoi Opera House, Vietnam Fine Arts Museum, Vietnam Military History Museum, National Museum of Vietnamese History, Vietnam Museum of Revolution, Trúc Bạch Lake, Quán Thánh Temple, dan yang paling aku suka adalah Lenin Park.

Terakhir...ingin mengunjungi Hanoi? Hati-hati. Karena anda bisa bergidig karena ngeri dan kagum secara bersamaan.

Mybllshtprspctv®