Masa Renaissance di Italia

Sumber Gambar: www.historia.ro
Oleh: Galih Rio Pratama

Tidak banyak orang yang sangat mengetahui, kecuali para sejarawan bahwa Eropa umumnya dan Italia khususnya menjadi modern seperti dewasa ini, sebenarnya telah dimulai sejak zaman Renaissance. Jika zaman Renaissance dimulai sekitar abad ke-14 maka untuk menghasilkan Eropa modern seperti dewasa ini diperlukan kurang lebih lima abad. Modernisasi bagaimana pun memerlukan waktu, bisa panjang bisa pendek tergantung dari berbagai faktor. Kalau bangsa Italia khususnya dan bangsa-bangsa Eropa umumnya memerlukan waktu kurang lebih lima abad, maka bangsa Jepang memulai modernisasi sejak zaman Meiji Restorasi hingga menjadi bangsa modern memerlukan waktu kurang lebih satu setengah hingga dua abad. Dan kini bangsa Indonesia sedang memodernisasi diri dengan harapan dapat menjadi bangsa dan negara yang modern dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Mungkinkah itu? Tergantung pada bangsa Indonesia sendiri, bagaimana menyiasatinya dalam dunia, yang semakin kompleks ini.

Kurun waktu abad ke-15 dan abad ke-16 mempunyai arti khusus dalam perkembangan manusia Fropa. Melebihi masa-masa sebelumnya. keinsyafan mengenai kehidupan pada jaman Renaissance mengarahkan perhatian secara lebih kuat pada kepribadian manusia. Pendapat jaman pertengahan mengenai adanya hubungan yang sederajat antara perorangan dengan masyarakat, yang mau tidak mau terikat secara timbal-¬balik, dikalahkan oleh pendapat tentang manusia, yang memandang masyarakat sekedar sebagaialat untuk memperkembangkan dirinya sen¬diri. Perkembangan ini berhubungan dengan rasa percaya pada diri sendiri yang kuat, yang menjiwai manusia pada jaman Renaissance. Rasa kebebasan serta rasa percaya pada diri sendiri, kedua-duanya menimbulkan pendalaman yang hakiki dalam beberapa hal, tetapi juga meng¬akibatkan ketegangan-ketegangan yang tak terkendali, yang semakin lama semakin besar.

Sementara itu, ilmu alam telah menemukan meto¬denya sendiri. dan secara berangsur-angsur melepaskan diri dari filsafat. Akan tetapi, karena usaha melepaskan diri ini filsafat justru mengalami pu¬kulan-balik, yang menimbulkan perenungan secara lebih mendalam mengenai hakekatnya sendiri. Filsafat melepaskan ikatannya dengan teologi. Secara demikian berhadapan dengan teologi, filsafat juga mere¬nungkan lebih lanjut sifatnya sendiri. Suatu telaah yang diperbaruhi mengenai filsafat jaman kuno memberikan sumbangannya bagi pere¬nungan tersebut. Meskipun terdapat semua faktor tadi, namun abad abad Renaissance tidak secara langsung dapat dipetik manfaatnya bagi perkembangan filsafat. Baru pada abad ke-17 suatu perasaan kuat mengenai kehidupan yang terdapat pada kurun waktu ini memperoleh pengungkapannya yang memadai di biding filsafat.

Dalam pembahasan singkat tentang Renaissance dan modernisasi maka pertama-tama ingin dijawab pertanyaan mengapa Renaissance bermula di Italia dan mengapa Florentia begitu penting peranannya. Dari pembahasan tersebut akan dilanjutkan sedikit banyak tentang ciri-ciri khasnya, para tokoh dan dampaknya bagi masa berikutnya.

Meninggalkan Abad Pertengahan

Perkembangan penting yang kita sebut Renaissance sebenarnya dimulai di Italia pada awal abad ke 14, ketika Dante dengan Divina Comedia¬-nya, atau Gionto dengan lukisan-lukisannya meninggalkan ciri-ciri dan tradisi seni sastra dan seni lukis masa itu. Para seniman abad ke-14 mulai menggambarkan orang-orang tampak seperti sungguh-sungguh hidup, lukisan mereka merupakan rekaman tentang benda-benda dan alam yang sebenarnya sehingga mereka yang melihatnya seakan berhadapan dengan benda atau orang yang sesungguhnya. Para seniman dari sastrawan secara bebas mengekspresikan apa saja yang mereka pikirkan dan mereka kehendaki tanpa man terikat pada norma-norma.

Pada abad ke-14, berkat keuntungan perdagangan bagian Utara Italia dan industri manufakturnya maka kota-kota besar Italia menjadi pelindung bagi para seniman dari berbagai alisan dan bidang seni. Florentia atau Firenze misalnya mulai membangun katedral besar dengan arsitektur baru, yaitu Gereja Santa Maria de Fiore. Orang-orang Italia-lah yang mempelopori banyak hal yang kemudian menjadi standar gaga hidup kapitalis Eropa rnasa itu seperti pembentukan perkongsian dagang, perusahaan dagang, asuransi angkutan laut, perbankan, giro, wesel, dan lain-lain.

Pada Abad Pertengahan segala bentuk kehidupan ini kelihatan tenang, damai dan sakral, tetapi di dalamnya bergejolak rasa tidak puas, hidup tertekan karena beban berat yang ditimpakan oleh gerej a dan pejabat feodal baik secara moral maupun fisik. Ketenangan dan stabilitas yang terwujud karena rasa takut, ketaatan buta terhadap gereja yang mengusai segala aspek kehidupan manusia zaman itu. Segalanya tergantung dan ditentukan oleh gereja. Setelah Perang Salib usai, secara pelan-pelan muncul gerakan reformasi untuk kembali ke suasana zaman klasik (Yunani dan Romawi) di mana manusia mempunyai kebebasan dan keberanian untuk mengekspresikan diri karena tidak terikat secara ketat oleh berbagai norma keagamaan saat itu. Orang mendambakan lahirnya kembali semangat kebebasan, rasionalisme, dan antroposentrisme, itulah esensi Renaissance. Sejak gerakan itu dikumandangkan oleh kaum humanis maka Italia mulai masuk era baru yaitu era modernisme.

Pelopor untuk kembali ke suasana semangat Yunani-Romawi klasik ini justru orang-orang yang biasanya menentang perubahan, yaitu para ahli hukum, kemudian para sastrawan dan seniman. Para ahli hukum dari kota¬kota Italia Utara seperti Padua, Verona, Milano, dan Firenze pada akhir abad ke-13 menjadi pelopor yang meminati, mendalami, dan menggali kembali kitab-kitab hukum Romawi kuno seperti kitab Digesta dan Codex Romano serta karya-karya besar pemikir Yunani klasik dalam bidang filsafat, sastra, ilmu pengetahuan. Kegairahan mendalami karya-karya klasik ini kemudian memunculkan kelompok orang yang disebut kaum umanista (humanis), yang merasa dirinya  lebih manusiawi justru setelah mendalami dan memahami karya-karya klasik. Gelombang perburuan karya-karya klasik ini sampai-sampai membawa orang tertentu menjadi tergila-gila dan lupa diri.

Kebhinekaan Italia

Italia pada masa Renaissance terpecah belah secara politis menjadi beberapa kerajaan, kecil yang mandiri. Dapat dikatakan semua ini mirip dengan kota pada zaman Yunani kuno. Raja-raja begitu berkuasa dan memanfaatkan ajaran agama sebagai dasar legitimasinya. Sama halnya dengan Kerajaan Kepausan yang teokratis, maka kerajaan-kerajaan Italia juga bernuansa teokrasi Katolik yang feodal. Memang tidak semuanya berbentuk monarki, sebab ada pula yang republik seperti Venesia, namun sebagian besar diperintah oleh raja-raja feodal. Anehnya di Italia ini, pergantian kekuasaan hampir selalu disertai bentrok hingga merenggut nyawa (kecuali kerajaan kepausan) karena para aristokrat saling berebut kekuasaan manakala sang raja yang berkuasa meninggal.

Kesadaran "ke-Italian" hanya dirasakan oleh rakyat Italia sejauh harus menghadapi ancaman yang datang dari Prancis, Spanyol, Austria, dan lain-lain. Pada zaman Renaissance ketika kemakmuran makin meningkat, maka masyarakat menjadi lebih majemuk dan semakin terbagi menjadi banyak kelompok sosial dan ekonomi.

Republik Venesia meskipun kecil wilayahnya merupakan salah satu negara yang paling kaya dan paling sedikit sifat ke-Italia-annya dan sekaligus paling bersifat internasional. Republik ini mengandalkan perekonomiannya pada perdagangan internasional. Di Venesia-lah terjadi pertemuan pedagang internasional dari hampir semua bangsa di dunia, pelabuhan laut internasional yang menghubungkan Benue Afrika, Asia, dan Eropa. Republik pelabuhan ini hanya mempunyai kewarganegaraan kaum konglomerat yang terdiri dari 200 keluarga bangsawan. Mereka ini duduk dalam puncak pemerintahan sebagai Dewan Agung, yang membawahi dan memilih Senat sebagai badan legislatif, memilih badan eksekutif yang disebut Collegio  dan juga memilih doge   beserta keenam anggotanya sebagai penegak hukum.

Jika Venesia terkenal sebagai kota pelabuhan, maka Firenze ibukota Republik Florentine adalah kota pedalaman terbesar yang terkenal karena perbankan, perindustrian, dan perdagangannya. Republik Florentine adalah salah satu republik kaya yang pemerintahan¬nya silih berganti diperebutkan oleh kaum "bangsawan penguasa". Di samping itu, karena terkenal sebagai kota industri dan perdagangan maka Firenze menjadi kota yang menarik banyak pendatang dari luar daerah. Akibat besarnya gelombang pendatang ini, kota sering terganggu dan tidak amen oleh banyaknya penganggur. Di pihak lain kota ini juga menarik kaum budayawan, seniman, dan kaum terpelajar untuk mengadu nasib di bawah perlindungan kaum bangsawan yang kaya raya seperti keluarga Medici, keluarga Cambio, keluarga Artedella Seta, dan lain-lain.

Adat dan Semangat Baru

Abad Pertengahan dicirikan oleh semangat kesetiaan seorang prajurit feodal sebagai sikap kesatria, dan kehidupan iman seorang rahib yang berdasarkan dogma agama Katolik masa itu. Pada zaman Renaissance.

semangat Abad Pertengahan itu mulai memudar diganti semangat borjuis, yaitu semangat mencari kekayaan duniawi dan menikmatinya. Hal ini terjadi dalam keluarga-keluarga yang semula dikungkung oleh semangat pietas yang feodal dan mulai menikmati hidup sebagai pedagang yang materialis. Keluarga-keluarga yang terhormat mulai mengarahkan anak anaknya ke arah kehidupan pribadi yang melibatkan diri dalam urusan urusan kenegaraan. Hal itu dilakukan sebab keterlibatan dalam kehidupan kenegaraan secara dini akan memungkinkan terjaminnya usaha dagang di kemudian hari.

Vittorino dan Guarino adalah sebagian dari para ahli pendidikan Renaissance yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah membuat orang menjadi kaya akan pengetahuan dan membentuk kepribadian dan sikap yang menyenangkan, sehingga siap menyesuaikan diri pada setiap bidang kehidupan. Pendidikan harus mampu membawa orang dapat bekerja dalam masyarakat, memberikan keterampilan yang membuat orang siap dalam berbagai tantangan. Maka tidak mengherankan sekolah-sekolah seperti yang didirikan oleh Vittorio dan Guarino diserbu oleh anak-anak lelaki dari keluarga terpandang di Italia.

Di samping arah dan sifat pendidikan pada zaman Renaissance mulai bergeser ke tujuan-tujuan yang bersifat duniawi, maka aturan-aturan bertingkah laku (regula modestiae) zaman itu mulai ditata kembali menurut tuntutan zamannya. Sebagai misal pada akhir abad ke-13, Fra Bonvincino da Riva menulis buku "Lima Puluh Kesopanan dalam Tata Cara Makan" yang antara lain dikatakan bahwa "orang yang mabuk melakukan tiga kesa¬lahan: ia merugikan badan serta jiwanya, dan anggur yang ia minum hilang percuma".

Dalam bidang kesenian terjadi perubahan yang amat mendasar. Para seniman Italia bergerak dari seni Abad Pertengahan yang tidak realistis serta penuh lambang, bergeser ke suatu seni yang mengungkapkan dunia nyata secara akurat dan naturalis. Gerakan ini dimulai di Firenze dan terus berkembang di kota tersebut. Gerakan itu sendiri mendapatkan sentakan dari tiga angkatan yang menentukan. Angkatan pertama dimulai pada awal abad ke-14 dipelopori oleh Giotto. Angkatan kedua dimulai pada awal abad ke-¬15 yang dipelopori oleh pelukis Masaccio dan pematung Donatello. Dan angkatan ketiga yang menguasai akhir abad ke-15 dan ke-16 dipelopori seniman besar serba bisa Leonardo da Vinci dan Raffaello serta mencapai puncaknya pada diri Michelangelo.

Pendek kata seniman pada abad ke-14 tidak dapat mandiri dan memang tidak boleh mandiri. Sisa-sisa kolektivisme ini masih bercokol sampai awal abad berikutnya. Ciri karya seni masa itu adalah anonim, karena karya seni memang hasil karya kolektif.

Sejalan dengan perkembangan dalam bidang seni maka aliran Humanisme juga berkembang dan mampu memberikan wawasan makin luas kepada para seniman tentang diri manusia. Maka tidak mengherankan pada awal abad ke-15. Baru pada abad ke-15 seniman dipandang seorang profesional, seperti halnya para dokter, bankir, dan pengacara. Seniman mulai terhormat kedudukannya, meskipun banyak orang tua pada umumnya masih belum rela bila anaknya memilih profesi sebagai seniman. Sebagai contoh ayah Michelangelo yang seorang hakim kota Florenze melarang anaknya itu menjadi seniman. Setelah mendapat desakan dan jaminan hidup dari keluarga Medici akan masa depannya, sang ayah mulai membiarkan anaknya memilih jalan hidupnya sebagai seniman.

Firenze dan Keluarga Medici

Berbicara zaman Renaissance di Italia tidak bisa tidak harus berbicara tentang kota Firenze atau Florentia atau Florenze. Kota Firenze di zaman Renaissance orang tidak dapat melepaskan diri dari keluarga Medici atau sebaliknya. Keduanya laksana satu masa uang dengan dua muka yang berbeda peranannya dalam modernisasi Italia. Oleh sebab itu, membicarakan salah satu harus melibatkan yang lain.

1.    Firenze Kota Pelopor

Firenze sebagai kota dagang dan industri terkenal karena menjadi pusat keuangan Italia di masa itu. Sebab dari kota ini para bankir yang jumlahnya cukup banyak tidak Baja mengendalikan Italia tetapi bahkan Eropa. Pada masa itu Firenze sudah dikenal sebagai kota hidup 24 jam, kota tidak tidur, kota ini mempunyai penduduk yang bersemboyan, "per non dormire" ; dan pada bagian lain mereka mengatakan "Florentines ingentis nihil arduit est" (tidak ada yang tidak dapat dikerjakan oleh orang Firenze). Hal ini menjadi salah satu pemacu orang Firenze untuk terus mencari cara bagaimana mengembangkan uang dan bukannya bagaimana menikmati kekayaan dan menikmati dunia ini.

Firenze adalah ibukota Republik Florentia yang pada prinsipnya menganut sistem pemerintahan demokratis, kendati pemerintahannya tidak pernah stabil karena menjadi ajang persaingan antara keluarga-¬keluarga kaya (populograsso) yang wring kale berakhir dengan kekerasan dan kerusuhan. Namun secara umum Florentia diperintah secara demokratis dan memerhatikan kepentingan rakyat pada umumnya.

Dengan keadaan seperti itulah kota Firenze berkembang menjadi kota makmur dan tidak mengherankan melahirkan seniman-seniman besar, para ilmuwan terkenal, sastrawan jenius dan arsitek besar, seperti Leonardo da Vinci, Michelangelo, Niccolo Machiavelli, Giotto, dan lain-lain. Maka juga tidak mengherankan bila Firenze dapat mempertahankan kemasyhuran peranan pentingnya dalam modernisasi Italia selama hampir dua abad. Firenze telah menjadi awal pembaruan berbagai bidang kehidupan rnanusia mulai bidang sumber daya manusia, keuangan, perdagangan, serial, dan budaya. Benih-benih Humanisme yang mengalirkan liberalisme, indivualisme serta rasionalisme mendapat tempat subur untuk arkembang ke seluruh penjuru Eropa.

2.    Keluarga Medici

Menelusuri asal-usul keluarga de Medici ternyata tidaklah mudah, kendati cukup terkenal di zamannya, sebab keluarga ini memang tidak mempunyai darah biru. Sebaliknya ada dugaan kuat keluarga Medici berasal dari keluarga petani kecil, meskipun menurut cerita mereka mempunyai keahlian dalam ilmu pengobatan. Keluarga ini mulai mempunyai nama terhormat dalam masyarakat pada paruh kedua abad ke-14 ketika Averardo de Medici, yang dikenal dengan nama Bicci berhasil dalam usaha wiraswasta ulat sutera, kain lenen, akhirnya menjadi bankir.

Usaha Bicci semakin berkembang ketika anaknya yang bernama Giovanni di Bicci mengembangkan usaha-usaha banknya tidak raja di Italia (Firenze, Roma, Venesia, Milan, dan Pisa), tetapi juga mulai meluas sampai ke Jeneva, Lyons, Avignon, Brugge, dan London. Dan sejak tampilnya Giovanni ini, keluarga Medici namanya terus bersinar cerah dan terlibat dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat termasuk dalam bidang politik ketika dirinya terpilih sebagai gonalonior  di Firenze pada tahun 1421. Dan mulailah keluarga Medici memadukan antara keterampilan bidang ekonomi dengan bidang politik, sebab sambil menjadi penguasa politik sekaligus menjadi raja dalam sektor ekonomi. Maka tidak mengherankan di zaman Renaissance ini antara politik dan ekonomi sulit dipisahkan.

Giovanni mempunyai dua orang anak yaitu Casimo (1389-1464) dan Lorenzo (1394-1440). Dari dua anak ini maka Casimo adalah keturunan keluarga Medici yang paling cemerlang, sebab dialah yang membawa keluarga besar Medici mencapai puncak kejayaannya baik dalam bidang politik, ekonomi bahkan agama. Keturunan selanjutnya tinggal melanjutkan kisah sukses pendahulunya. Bahkan Casimo-lah tokoh utama yang membawa keluarga menjadi pelopor dan pelindung bidang budaya, kesenian, dan ilmu pengetahuan.

Dengan segala usahanya itu keluarga Medici sungguh menjadi keluarga yang amat disegani dan dihormati oleh kawan maupun lawan-lawannya. Jadi, tidak mengherankan ketika Casimo meninggal tahun 1464 rakyat Firenze merasa kehilangan seorang tokoh besar. Firenze berduka karena kehilangan seorang yang penuh bakat, dermawan, humanis, dan kaya raga. Sepeninggal Casimo, keluarga Medici memang masih cemerlang sebab cucunya yang bernama Lorenzo (1449-1492) tampil sebagai diplomat ulung, seniman, dan akhirnya menjadi penguasa Firenze yang masyhur.
___________________________________________________

Referensi:

Adisusilo, Sutarjo. 2013. Sejarah Pemikiran Barat dari Yang Klasik Sampai Yang Modern. Jakarta: Rajawali Pers.

Hadiwijono, Harun. 2002. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Hakim, Atang Abdul, dkk. 2008. Filsafat Umum dari Mitologi Sampai Teofilosofi. Bandung Pustaka Setia.

Soemargono, Soejono. 1992. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yagyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Mybllshtprspctv®

Pemikiran Paul dari Venesia mengenai Logika

Sumber Gambar: Encyclopedia Britannica
Oleh: Galih Rio Pratama

Paul dari Venesia adalah pemikir Italia yang paling penting pada eranya, dan salah satu ahli logika yang paling menonjol dan menarik dari Abad Pertengahan. Teori filosofisnya (berpuncak pada metafisika esensi yang menyatakan keutamaan ontologis dan epistemologis universal atas jenis lain dari makhluk) adalah hasil akhir dan tertinggi tradisi realistis sebelumnya pemikiran. Dia sepenuhnya dikembangkan bentuk baru realisme dimulai oleh Wyclif dan pengikut lulusan Universitas Oxford di dekade terakhir abad ke-14, dan diperbarui serangan ajaran Burley terhadap pandangan nominalistic. Keyakinan metafisis di dasar filosofinya adalah versi asli dari tesis yang paling mendasar dari Duns Scotus (viz univocity keberadaan;. Adanya bentuk yang universal di luar pikiran, yang pada saat yang sama identik dengan dan berbeda dari individu mereka sendiri ; identitas asli dan perbedaan formal antara esensi dan menjadi; “thisness” sebagai prinsip individuasi; perbedaan nyata antara sepuluh kategori). Tapi Paul menempatkan lebih banyak tekanan pada pengandaian ontologis dan doktrin entailments (penurunan logis). Secara bersamaan, ia terbuka untuk pengaruh dari berbagai arah lain, karena ia ditahan di pertimbangan juga posisi penulis seperti Albert Agung, Thomas Aquinas, dan Giles Roma, dan kritis membahas doktrin Nominalists utama dari abad ke-14 , yaitu William Ockham, John Buridan, dan Marsilius dari Inghen, kadang-kadang bermain tesis saling bertentangan satu sama lain. Ini memberikan kontribusi untuk membuat karya-karyanya merangsang dan memperkaya dari sudut pandang sejarah, tetapi juga membuat sulit untuk memahami ide-ide sendiri dalam hubungan dan kesatuan mereka. refleksi ini membantu kita untuk menjelaskan mengapa selama sekitar seratus lima puluh tahun Paul adalah keliru, tapi dengan suara bulat, diyakini menjadi Ockhamist dalam logika dan metafisika dan Averroist dalam psikologi dan epistemologi.

Selayang Pandang Kehidupannya
Paul dari Venesia (Paulus Nicolettus Venetus, Paolo Nicoletti Veneto), O.E.S.A. lahir di Udine, Italia, sekitar 1369. Ia bergabung dengan Ordo Augustinian ketika uasinya hendak menginjak empat belas, ketika ia masuk biara Santo Stefano di Venice. Ia belajar pertama di Padua, namun pada tahun 1390 dia ditugaskan ke Oxford, di mana ia menghabiskan tiga tahun. Ia menjadi Doctor of Arts dan Teologi pada tahun  1405. Ia mengajar di Padua, Siena (1420-1424), dan Perugia (1424-1428), dan kuliah di Bologna (1424). Pada berbagai kesempatan dia memegang posisi kepemimpinan dalam rangka nya (Paus Gregorius XII yang ditunjuk dia Sebelum Jenderal Agustinian Mei 1409) dan menjabat sebagai duta besar dari Republik Venesia. Dia meninggal di Padua pada 15 Juni 1429, ketika sedang  mengomentari De anima (On the Soul) karya Aristoteles.

Paulus menulis banyak filosofis dan teologis risalah (daftar lengkap tulisannya dan panduan untuk naskah yang masih ada di Perreiah 1986; untuk kencan dari karya-karya filsafat utamanya melihat Conti 1996, pp 9-20.), diantaranya: Logica parva (The Small Logic), ca. 1393–95; Logica magna (The Great Logic—LM), ca. 1396–99; Sophismata aurea (Golden Sophisms), ca. 1399; a commentary on Aristotle's Posterior Analytics (In Post.), C.E. 1406; Summa philosophiae naturalis (Summa of Natural Philosophy—SN), C.E. 1408; a commentary on Aristotle's Physics (In Phys.), C.E. 1409; a commentary on Aristotle's On the Soul (In De anima), ca. 1415–20; Quaestio de universalibus (On Universals—QdU), ca. 1420–24; a commentary on Aristotle's Metaphysics (In Metaph.), ca. 1420–24; a commentary on the Ars Vetus, that is, on Porphyry's Isagoge, Aristotle's Categories, and the Liber sex principiorum (Expositio super Universalia Porphyrii et Artem Veterem Aristotelis—In Porph., In Cat., and In Sex pr. respectively), C.E. 1428.

Prihal Logika

Identitas dan Perbedaan


Formulasi Paulus dari teori identitas dan perbedaan merupakan pengembangan lebih lanjut dari Duns Scotus 'dan doktrin Wyclif pada subjek. Master Italia mengakui dua jenis utama dari identitas: Bahan (secundum materiam) dan formal (secundum formam). Ada identitas materi ketika sebab material adalah sama, baik dalam jumlah (itu adalah kasus hal yang sama disebut dengan cara yang berbeda) atau dengan spesies (itu adalah kasus dua benda yang terbuat dari jenis yang sama barang). Ada identitas formal ketika penyebab formal sama. Hal ini terjadi dalam dua cara: jika bentuk yang dipermasalahkan adalah bentuk tunggal dari komposit individu, maka ada benda unik yang dikenal dengan cara yang berbeda; jika bentuk yang dipermasalahkan adalah esensi yang sama dipakai oleh bentuk tunggal, maka ada dua objek yang berbeda milik spesies yang sama atau genus (Dalam Metaph., buku V, tr. 2, chap. 3, fol. 185ra). Sejalan dengan itu, jenis utama dari perbedaan (atau perbedaan) juga dua: material dan formal. Ada perbedaan materi ketika sebab material berbeda, sehingga objek yang dipermasalahkan adalah entitas terpisah. Secara umum, ada perbedaan formal ketika penyebab formal yang berbeda. Hal ini terjadi dalam dua cara: jika sebab material juga berbeda, maka itu adalah kasus khusus dari perbedaan material. Jika penyebab materi adalah sama, maka analisis lebih lanjut diperlukan. Jika penyebab materi adalah sama dengan spesies saja, maka itu adalah hal yang tidak tepat perbedaan formal; tetapi jika penyebab materi adalah sama jumlahnya, maka ada benar perbedaan formal, karena bentuk yang dipermasalahkan memiliki deskripsi yang pasti berbeda tetapi berbagi substrat yang sama keberadaannya, sehingga mereka adalah satu dan hal yang sama dalam kenyataan. Misalnya, ada perbedaan resmi yang tepat dalam kasus dua sifat dari makhluk-mampu-of-tertawa (risibile) dan menjadi berkemampuan-of-learning (disciplinabile), yang dihubungkan bentuk dipakai oleh set yang sama zat individu (Dalam Metaph., buku V, tr. 2, chap. 3, fol. 185rb).

Perbedaan materi adalah kriteria yang diperlukan dan cukup untuk perbedaan nyata, secara tradisional dipahami, sedangkan ada perbedaan resmi jika dan hanya jika ada satu zat dalam jumlah (yaitu identitas materi dalam arti sempit) dan banyaknya prinsip formal dengan deskripsi yang berbeda yang dipakai oleh saya t. Oleh karena itu Paul membalikkan hal pertanyaan dalam kaitannya dengan apa pendekatan sebelumnya yang telah dilakukan. Dengan cara pembedaan resmi Duns Scotus dan John Wyclif telah mencoba untuk menjelaskan bagaimana mungkin untuk membedakan banyak aspek yang berbeda nyata internal untuk substansi individu yang sama (bagian ini adalah dari satu ke banyak). Sebaliknya, Paulus berusaha untuk mengurangi banyaknya ke kesatuan (bagian ini adalah dari banyak ke satu). Apa yang Paulus ingin menjelaskan adalah cara di mana banyak entitas yang berbeda dari jenis tertentu (misalnya dari mode lengkap dan tergantung dari keberadaan) dapat merupakan satu dan substansi yang sama jumlahnya.

Predication

Titik awal teori Paulus predikasi adalah doktrinnya universal. Sama seperti Wyclif dan para pengikutnya (Alyngton, Penbygull, Sharpe, Milverley, Whelpdale, Tarteys), klaim tuan Augustinian yang
  1. Ada universal nyata, yang esensi umum secara alami cenderung untuk hadir dalam dan didasarkan dari banyak individu yang sama.
  2. Kenyataan universal dan individu mereka benar-benar sama dan hanya secara formal yang berbeda.
  3. Predikasi adalah pertama-tama hubungan nyata antara entitas metafisik (QdU, fols. 124ra, 124vb, 127va, 132va).
Tapi analisisnya tentang predikasi berbeda dari orang-orang dari kedua Wyclif dan para pengikutnya. Bahkan, Paul membagi predikasi ke predikasi identik dan predikasi formal dan mendefinisikan mereka dengan cara yang berbeda dari sumber-sumbernya lakukan.

Untuk berbicara tentang predikasi identik itu sudah cukup bahwa bentuk ditandai dengan jangka subjek dari (benar) proposisi dan bentuk ditandai dengan pangsa jangka predikat setidaknya satu dari substrat mereka keberadaan. Ini adalah kasus untuk proposisi seperti ‘Man is (an) animal’ and ‘The universal-man is something white’ (‘Homo in communi est album’). Salah satu berbicara tentang formal predication dalam dua kasus:

1.    Ketika kebenaran dari proposisi itu perlu bahwa bentuk ditandai dengan jangka predikat hadir di semua substrat dari keberadaan bentuk ditandai dengan jangka subjek, dalam kebajikan dari prinsip formal (dibuat jelas dalam proposisi itu sendiri ) yang pada gilirannya langsung hadir di semua substrat dari keberadaan bentuk ditandai dengan jangka subjek. Ini adalah kasus untuk proposisi seperti 'Man secara resmi (sebuah) hewan' dan 'Socrates qua manusia adalah binatang'.
2.    Atau lain ketika predikat proposisi adalah istilah niat kedua, seperti 'spesies' atau 'genus'. Ini adalah kasus untuk proposisi seperti 'Man adalah spesies' dan 'Animal adalah genus' (SN, bagian VI, chap 2, fol 93vab;... QdU, fols 124vb-125rb).

Seperti yang terlihat, predikasi identik extensionally didefinisikan, sedangkan predikasi formal intensionally didefinisikan, karena predikasi resmi memerlukan hubungan modally ditentukan antara subjek-hal dan predikat-hal. Bahkan, predikasi resmi mengandaikan bahwa ada hubungan yang diperlukan antara subjek-hal dan predikat-hal dari proposisi yang diberikan. Untuk alasan ini, Paulus menyangkal bahwa kalimat seperti '(What is) tunggal adalah (what is) yang universal' ( 'Singulare est universale'), yang Wyclif dan pengikutnya diakui sebagai benar, sebenarnya proposisi benar. Untuk Wyclif dan para pengikutnya, kalimat yang dipermasalahkan adalah contoh predikasi oleh esensi. Tapi untuk Paul Venesia, itu adalah contoh dari predikasi formal; tidak ada individu qua individu adalah universal, atau sebaliknya, karena tidak ada niat kedua intensionally dipertimbangkan adalah niat kedua lainnya (QdU, fol 133va;. Dalam Porph, prooem, fol 3RA-b...). Sebagai akibatnya, Paul menulis ulang kalimat sebelumnya dalam bentuk ini: '(What is) tunggal adalah this universal ( 'Singulare est hoc universale'), di mana kehadiran demonstratif 'ini' mengubah jenis predikasi dari formal ke identik . Jadi dikoreksi, kalimat ini benar, karena itu menandakan bahwa entitas tertentu, dalam dirinya sendiri tunggal, adalah substrat dari keberadaan esensi yang universal (QdU, fol. 133va-b).

Akibatnya, Paul membangun sistem campuran, di mana kerja penghubung kalimat filosofis standar ia berurusan dengan dapat memiliki tiga nilai: itu berarti identitas parsial antara subjek-hal dan predikat-hal dalam kasus predikasi identik; itu berarti koneksi yang diperlukan antara bentuk dalam kasus jenis pertama predikasi formal; itu berarti bahwa subjek-hal dalam kebajikan itu sendiri adalah tentu anggota dari kelas tertentu dari objek, yang jangka predikat label proposisi dan mengacu pada, dalam kasus kedua jenis predikasi-yang formal, ketika predikat adalah istilah niat kedua.
___________________________________________________

Penjernihan kata-kata:

Entailment- penurunan logis: hubungan di antara dua preposisi sedemikan sehingga keterangan yang satu dapat diturunkan secara logis dari preposisi lainnya. Dikenal juga sebagai logical implication.

___________________________________________________

Referensi:

Hasil translitisasi sederhana dari https://plato.stanford.edu/entries/paul-venice

Mybllshtprspctv®

Averroisme: Ibn Rusyd Pengkritik Al-Ghazzali

Sumber Gambar: www.annaharkw.com
Oleh: Galih Rio Pratama

“Pemikiran Ibn Rusyd diambil Barat sehingga Barat menjadi maju, sedang pemikiran al-Ghazzali dibawa ke Timur dan karena itu Timur mundur.”

Dalam perkembangan sejarah inteletual suatu gerakan filsafat adalah dipahami sebagai sesuatu yang muncul dan selalu ada yang melatar belakanginya. Oleh karena itu seseorang yang tengah menekuni kajian tentang pemikiran filsafat Arab hendaknya mencari penafsiran yang benar mengenai perkembangan pemikiran tersebut, dan faktor-faktor yang mendorong kemunculannya dengan memperhatikan pengetahuan bangsa Arab masa dahulu yaitu di masa Jahiliyah, serta pada masa kedatangan Islam dan sesudahnya.

Menyusul perkembangan filsafat sebagaimana telah didapati pada aliran-aliran yang matang di tangan al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd dan lainnya. Aliran-aliran itu membuktikan bahwasanya para filosof Muslim membangunnya karena adanya pengaruh yang cukup besar dari filosof Yunani, setelah memahami pendapat para filosof itu melalui gerakan penerjemahan yang muncul sejak zaman kekuasaan Umayyah dan mencapai puncaknya pada zaman Abbasiyah.

Dalam hal ini, orang-orang yang melakukan kajian mendalam dalam hal filsafat Islam, tentu  perlu mengetahui bagaimana latar belakang kemunculan dan pemikiran serta karya-karya tokohnya. Makalah ini akan menjelaskan secara mendalam mengenai filsafat Ibn Rusyd. Filosof  Ibn Rusyd ini mempunyai pengaruh besar pada zamannya ataupun zaman setelahnya. Ia adalah salah satu Tokoh yang paling popular dan dianggap paling berjasa dalam membuka mata barat.

Dalam dunia intelektual barat, tokoh ini lebih dikenal dengan nama averros. Begitu populernya Ibn Rusyd dikalangan barat, sehingga pada tahun 1200-1650 terdapat sebuah gerakan yang disebut viorrisme yang berusaha mengembangkan pemikiran-pemikiran Ibn Rusyd. Dari Ibn Rusydlah mereka mempelajari Fisafat yunani Aristoteles (384-322 SM), karena Ibn Rusyd terkenal sangat konsisten pada filsafat Aristoteles.

Selayang Pandang Ibn Rusyd

Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520H/1126M. Keluarganya terkenal alim dalam ilmu Fiqh. Ayah dan kakeknya pernah menjadi kepala pengadilan di Andalusia. Latar belakang keagamaan inilah yaang memberinya kesempatan untuk meraih kedudukan yang tinggi dalam studi-studi keislaman. Al-Qur’an beserta penafsirannya hadits Nabi, ilmu Fiqh, bahasa adn sastra Arab dipelajarinya secara lisan daei seorang ahli (‘alim). Ia merevisi buku Malikiah, al-muwatta’, yang dipelajarinya bersama ayahnya abu al-Qasim dan dihapalnya. Ia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan. Guru-gurunya dalam ilmu-ilmu tersebut tidak terkenal, tapi secara keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat, sedangkan Seville terkenal karena aktifitas-aktifitas artistiknya.

Ibn Rusyd hidup dalam situasi politik yang sedang berkecamuk. Ia lahir pada masa pemerintahan Al-Murafiah yang digulingkan okeh golongan Almuhadiah di Marrakusy pada tahun 542H/1148M. Gerakan Al-Muhadiah dimulai oleh Ibn Tumart yang menyebut dirinya sebagai al-Mahdi. Ia berupaya meniru golongan Fatimiah, yang mucul seabad sebelumnya dan berhasil mendirikan sebuah kekaisaran di Mesir dalam hal semangat berfilsafat mereka, penafsiran-penafsiran rahasia mereka serta kehebatan mereka dalam bidang astronomi dan astrologi. Ibn Rusyd mengabdi pada mereka yang terkenal dengan semangat berilmu dan berfilsafat mereka.

Dikisahkan bahwasanya ia menulis ulasan mengenai Aristoteles. Salah satu ulasannya yang mengenai tafsir dan mengikuti pola tafsir al-Qur’an. Ia mengutip satu paragraf fari tulisan Aristoteles dan kemudian memberikan penafsirannya. Salah satunya yaitu mengenai metafisika yang telah disunting oleh Bouyges pada tahun 1357H/1938M. Secara keseluruhan nilai ulasan-ulasannya ibn Rusyd bersifat historis kecuali ulasan-ulasan yang mengungkapkan pemikirannya sendiri. Kemudian ia lebih terkenal di Eropa Pertengahan. Ibn Rusyd meninggal pada tahun 595H/1198M.

Karya-karyanya

Karangan Ibn Rusyd meliputi berbagai-bagai ilmu, seperti fiqih, usul, bahasa, kedokteran, astronom politik, akhlak dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah ditulisnya. Buku-bukunya adakalanya merupakan karangan sendiri, atau ulasan atau ringkasan. Karena sangat tinggi penghargaannya terhadap aristoteles, maka tidak mengherankan jik ia memberi perhatiannya yang besar untuk mengulaskan dan meringkaskan filsafat Aristoteles. Buku-buku yang lain yang diulasnya adalah buku Karangan Plato, Iskandar Aphrodisias, Plotinus, Galinus, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Bajjah.

Karya-karya aslinya dari Ibn Rusyd yang penting, yaitu:
  1. Tahafut al-Tahafut (The incoherence of the incoherence = kacau balau yang kacau). Sebuah buku yang sampai ke Eropa, dengan rupa yang lebih terang, daripada buku-bukunya yang pernah dibaca oleh orang Eropa sebelumnya. Dalam buku ini kelihatan jelas pribadinya, sebagai seorang muslim yang saleh dan taat pada agamanya. Buku ini lebih terkenal dalam kalangan filsafat dan ilmu kalam untuk membela filsafat dari serangan al-ghazali dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah.
  2. Kulliyat fit Thib (aturan Umum Kedokteran), terdiri atas 16 jilid.
  3. Mabadiul Falasifah, Pengantar Ilmu Filsafat. Buku ini terdiri dari 12 bab.
  4. Tafsir Urjuza, Kitab Ilmu Pengobatan.
  5. Taslul, Tentang Ilmu kalam.
  6. Kasful Adillah, Sebuah buku Scholastik, buku filsafat dan agama.
  7. Muwafaqatil hikmatiwal Syari’ah, persamaan filafat degan agama.
  8. Bidayatul Mujtahid, perbandingan mazhab dalam fiqh dengan menyeutkan alasan-alasannya masing-masing.
  9. Risalah al-kharaj (tentang perpajakan).
  10. Al-da’awi dan lain sebagianya masih banyak lagi karangan-karangan yang berkontribusi sampai zaman sekarang.
Fase-fase pertumbuhan Averroisme di Eropa:
Gerakan penerjemahan buku-buku Averroes ke dalam bahasa Latin dan Hebrew

Orang pertama yang memperkenalkan pikiran Ibnu Rusyd ke dunia latin adalah Michael Scott (Jerman). Pada tahun 1230 M., ia menerjemahkan buku-buku Ibnu Rusyd terutama buku-buku filsafat untuk dihadiahkan kepada Fredereek II raja Jerman yang tinggal di Balram. Diantara buku terjemahannya ialah “Commentary on the Sky and Nature” merupakan terjemahan “Syarh} al-Nafs”.

Sementara E. Gilson menjelaskan munculnya pengaruh Ibnu Rusyd, permulaannya pasti oleh sebuah teks dari Roger Bacon sesaat setelah tahun 1230 M., dengan babak-babak menentukan yang ditandai dengan penggunaan Albertus Magnus terhadap Ibnu Rusyd secara luas sekitar tahun 1250 M., oleh Thomas Aquinas yang secara eksplisit mengutip Averroes tidak kurang dari 503 kali.

Gerakan penelaahan karya-karya Ibnu Rusyd di Universitas-universitas

Sampai pada masa Ibnu Rusyd, universitas di Eropa baru ada satu wilayah. Wilayah yang telah memiliki universitas, baru Andalusia. Mempunyai satu universitas dan empat belas Akademi yang kemudian berkembang menjadi lima universitas. Barulah pada tahun 1231 M. muncul universitas pertama di luar Andalusia yaitu Universitas Paris, yang dalam perkembangannya kemudian memiliki delapan belas universitas. Pada universitas-universitas tersebut menurut Haskins seperti yang dikutip Zainal Abidin Ahmad dipelajari beberapa pokok ilmu yang merupakan fakultas di universitas tersebut, diantaranya: seni, hukum, kedokteran, dan teologi. Di semua universitas tersebut buku-buku Ibnu Rusyd dipelajari seluas-luasnya, dijadikan mata pelajaran wajib bagi mahasiswa terutama pada perkuliahan falsafah dan teologi.

Sanggahan Ibn Rusyd terhadap Pemikiran Al-Ghazali

Kaqadiman Alam

Mengenai masalah alam qadim, antara kaum teologi dan kaum filosof, memang terdapat perbedaan tentang arti الأحداث dan قديم. Bagi kaum teolog  “al-ihdas” mengandung arti menciptakan dari tiada, sedang kaum filosof kata itu berarti menciptakan dari ‘ada’ sedangkan kata Adam  mempunyai makan ‘tiada’, kata Ibn Rusyd tidak bisa dirubah menjadi wujud (ada).Yang terjadi adalah wujud berubah menjadi wujud dalam bentuk lain.

Demikian juga kaum teolog, qadim mengandung arti sesuatu yang berwujud tanpa sebab. Bagi kaum filosof qadim tidak mesti mengandung arti hanya sesuatu yang berwujud tanpa sebab tetapi boleh juga berarti ‘sesuatu yang berwujud dengan sebab’ dengan kata lain sungguhpun ia disebabkan ia boleh bersifat qadim, yaitu tidak mempunyai permulaan dalam wujud Qadim, dengan demikian, adalah sifat bagi sesuatu yang dalam kejadian kekal, kejadian terus menerus yaitu kejadian yang tidak bermula dan tak berakhir.

Dalam pemikiran al-Ghazali, sewaktu Tuhan menciptakan alam, yang ada hanya Tuhan. Tidak ada sesuatu yang lain disamping Tuhan ketika Ia menciptakan alam. Terhadap pemikiran al -Ghazali tersebut Ibn Rusyd mengajukan bantahannya, bahwa sewaktu Tuhan menciptakan alam sudah ada sesuatu disamping Tuhan. Dari sesuatu yang telah ada dan diciptakan Tuhan, itulah Tuhan menciptakan alam. Untuk memperkuat bantahannya Ibn Rusyd mengemukakan beberapa ayat dalam al-Qur’an.

Dan Dialah yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari dan tahtaNya (pada waktu itu) berada di atas air, agar Ia uji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. QS. Hud: 7.

Ayat tersebut, menurut Ibn Rusyd menjelaskan bahwa sewaktu Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada sesuatu di samping Tuhan, yaitu air.

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa keduanya menjawab: kami datang dengan suka hati. QS. Fushshilat :11.

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa ketika Tuhan menciptakan langit telah ada uap disamping Tuhan. Dalam memberi komentar ayat yang terakhir ini Ibn Rusyd mengatakan: ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa langit diciptakan dari sesuatu. Pendapat kaum teolog tidak sesuai dengan arti lahir ayat mereka dalam hal ini sebenarnya memakai ta’wil. Disini terjadi perbedaan penafsiran ayat. Kaum filosof termasuk Ibn Rusyd mengambil arti lafdzi, sedangkan bagi kaum teolog termasuk al-Ghazali mengambil bentuk pengertian dalam arti ta’wil. Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum bumi dan langit diciptakan, telah ada benda lain, yaitu air dan uap, jadi bukan diciptakan dari tiada, oleh karena itu alam ini dalam arti unsurnya bersih kekal dari zaman lampau yaitu qadim.

Tuhan Tidak Mengetahui Perincian (Juziyat)

Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang di langit dan yang di bumi, baik sebesar zarrah sekalipun adalah suatu hal yang telah digariskan dengan jelas dalam al-Qur’an, sehingga telah merupakan consensus dalam kalangan umat Islam. Hanya bagaimana Tuhan mengetahui hal-hal yang parsial (juziyat) terdapat perbedaan jawaban yang diberikan.Terhadap tuduhan al-Ghazali, bahwa Tuhan tidak mengetahui princian yang ada dalam alam ini, Ibn Rusyd mengatakan bahwa al-Ghazali salah faham, karena tidak pernah kaum filosof mengatakan  yang demikian.

Menurut Ibn Rusyd Tuhan mengetahui sesuatu dengan zat-Nya pengetahuan Tuhan tidak bersifat juz’i maupun bersifat kulli, sebagaimana manusia, pengetahuan Tuhan tidak mungkin sama dengan manusia, karena pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari wujud, sedangkan pengetahuan manusia adalah akibat. Selanjutnya pengetahuan manusia bersifat baharu dan pengetahuan Tuhan bersifat qadim, yaitu semenjak awal Tuhan mengetahui segala hal-hal yang terjadi di alam, sungguh betapun kecilnya. Jadi, bagi Ibn Rusyd bahwa Tuhan tidak mengetahui peristiwa-peristiwa kecil/perincian, artinya Tuhan tidak mengetahui perincian itu dengan ilmu baru, dimana syarat ilmu baru itu dengan kebaharuan peristiwa/perincian tersebut, karena Tuhan menjadi sebab (illat) bagi perincian tersebut, bukan menjadi akibat (musabbab) dari padanya seperti  halnya dengan ilmu baru, ilmu Tuhan bersifat qadim tidak berubah, karena perubahan peristiwa. Ini dimaksudkan untuk menjaga kesucian Tuhan Yang Maha Mengetahui segala-galanya.

Kebangkitan Jasmani Tidak Ada

Dalam kitab Tahafutul Falasifah, al-Ghazali menunjukan kepada  filosof  yang
mengatakan bahwa di akhirat nanti manusia akan dibangkitkan kembali dalam wujud rohani, tidak dalam wujud jasmani. Atas dasar kepercayaan ini, mereka dan para penganut pendapat tersebut dianggap kafir oleh al-Ghazali, karena dalam al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa manusia akan mengalami berbagai kenikmatan jasmani nanti di surga.

Tentang masalah pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tidak menyebut – nyebut hal itu. Semua agama menurut Ibn Rusyd mengakui adanya hidup kedua di akhirat sungguhpun ada perbedaan pendapat mengenai bentuknya. Namun, perlu disadari maksud pokok dari Syari’at adalah menghimbau manusia untuk selalu melakukan perbuatan terpuji dan meninggalkan perbuatan jahat sehingga ajaran yang dibawa oleh agama harus sesuai dengan tanggapan dan pemikiran orang awam. Karena itu, kebangkitan di akhirat harus disampaikan dalam wujud jasmani. Untuk itu, Ibn Rusyd dalam kitabnya “Tahafut al-Tahafut” mengemukakan firman Allah yang maksudnya perumpamaan surga bagi orang-orang muttaqin disisi Allah, sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Dan juga sabda Rasulullah saw.

Di dalammya (surga) terdapat apa yang tidak pernah mata melihat dan telinga mendengar  serta tidak pernah tergores dalam kalbu manusia. Ini berarti kata Ibn Rusyd – bahwa dalam surga, manusia tidak dalam wujud jasad, dan apa yang diajarkan al-Qur’an tentang surga dan isinya harus difahami secara metafora. Demikian pula Ibn Abbas mengatakan bahwa tidak akan dijumpai di akhirat hal-hal yang bersih keduniaan kecuali nama saja, hidup di akhirat lebih tinggi dari hidup di dunia.

Dalam pada itu, Ibn Rusyd juga mengkritik al-Ghazali, karena dalam beberapa tulisannya terjadi kontradiksi. Tulisannya dalam buku Tahafut al Falasifah bertentangan dengan apa yang ia tulis dalam bukunya mengenai tasawuf. Dalam buku Tahafut al Falasifah, al-Ghazali mengatakan tidak ada orang Islam yang berpendapat adanya pembangkitan jasmani, sedangkan dalam buku tentang tasawuf ia menerangkan bahwa dalam pendapat kaum sufi yang ada nanti ialah pembangkitan rohani, bukan pembangkitan jasmani, tak dapat dikafirkan. Apalagi al-Ghazali mendasarkan pengkafirannya pada ijma’ ulama.

Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pertentangan antara Ibn Rusyd (kaum filosof) dengan al-Ghazali (kaum Teolog) berkisa sekitar interprestasi tentang ajaran-ajaran dasar Islam, bukan tentang terima atau tolaknya ajaran-ajaran dasar itu sendiri. Baik Ibn Rusyd (kaum filosof) maupun al-Ghazali (kaum teolog) tetap mengakui Tuhan sebagai pencipta alam diciptakan. Hanya yang menjadi permasalahan ialah, apakah semenjak azal Tuhan menciptakan sehingga alam dengan demikian menjadi qadim, ataukah Tuhan menciptakan tidak semenjak azal, sehingga alam bersifat baru. Kaum filosof (Ibn Rusyd) berpendapat Tuhan menciptakan semenjak qadim sedangkan kaum teolog (al-Ghazali) tidak semenjak qadim. Kedua fihak mengakui adanya hari perhitungan dan yang di permasalahkan adalah apakah yang menghadapi perhitungan itu roh atau tubuh, ataukah hanya roh manusia saja. Menurut kaum filosof ( Ibn Rusyd ) hanya roh, sedangkan menurut kaum teolog (al-Ghazali) tubuh dan roh. Kedua golongan sama-sama mengakui bahwa Tuhan mengetahui perincian (juziyat) dan yang dipersoalkan kaum filosof cara Tuhan mengetahui yang juziyat itu. Jelas kiranya yang terdapat disini hanyalah perbadaan ijtihad, dan perbedaan ijtihad itu lumrah dalam Islam, tidak membawa kepada kekafiran.
   
Hubungan Filsafat dengan Agama

Secara lahiriah hubungan antara agama dan filsafat mustahil bertentangan karena kedua hal ini adalah dua hal yang seiring sejalan, filsafat adalah suatu ilmu yang mengedepankan akal dalam memahami sesuatu dan agama adalah aturan Tuhan yang harus dipahami oleh akal yang dianugrahkan Tuhan kepada manusia untuk menjalankan aturan-Nya. Tentang masalah ini Ibn Rusyd, dalam kitabnya Fashl al-maqal fi ma baina asy-Syar’ah wa al-Hikmah, menjabarkan dan mengkaji aspek-aspek syariat. Ia di awal kitab Manahij al-Adillah fi Aqaid al-Millah juga memaparkan, Syariat terbagi dalam dua bagian, yakni lahir dan batin, dan batin syariat dikhususkan untuk para ulama, sementara mayoritas yang awam hanya diperintahkan untuk mengamalkan lahiriah syariat dan menghindari  berbagai bentuk takwil. Bagi kaum ulama juga tidak dibenarkan mengungkapkan dan menyampaikan hakikat-hakikat yang diperoleh dari jalur penakwilan kepada masyarakat awam. Ibn Rusyd dalam tulisannya berpijak pada perkataan Imam Ali bin Abi Thalib  “Berbicaralah kepada masyarakat sehingga mereka dapat memahami, apabila kandungan pembicaraan lebih tinggi dari pada kadar  pemahaman masyarakat, maka dikhawatirkan mereka akan menolak perkataan Tuhan dan para Nabi-Nya”.

Ibn Rusyd yakin bahwa peran kitab-kitab suci, yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul Tuhan, meliputi satu makna lahir dan  beberapa makna batin. Ibn Rusyd dan juga semua orang yang percaya terhadap masalah itu, berkeyakinan atas keberadaan makna batin dimana apabila makna  batin syariat dan ajaran agama dibicarakan kepada masyarakat awam akan mengakibatkan munculnya masalah dan persoalan psikologis dan sosiologi yang terburuk. Ibn Rusyd berpandangan bahwa senantiasa terdapat kesatuan hakikat yang memiliki penafsiran-penafsiran yang beragam. Upaya Ibn Rusyd dalam menyesuaikan antara agama dan filsafat merupakan keniscayaan sejarah, kondisi dimana para filosofnya berupaya menjaga eksistensi filsafat dari serangan para tokoh-tokoh Islam yang menentangnya. Alternatif terbaik yang dapat diambil oleh para filosof muslim adalah berupaya melakukan  penyesuaian antara agama dan filsafat. Secara mendasar dan dengan pendekatan yang sama sekali baru dibanding para filosof pendahulunya, berupaya melakukan  pembelaan a
tas filsafat dengan menempatkannya pada posisi yang tidak  berlawanan dengan agama, bahkan menjadikannya sebagai salah satu keharusan dalam upaya memahami agama secara baik.

Ibn Rusyd dalam usahanya menyesuaikan agama dan filsafat didasari pada empat prinsip dasar yaitu pertama keharusan berfilsafat menurut Syara’, kedua pengertian lahir dan pengertian batin serta keharusan ta’wil, ketiga aturan-aturan dan kaidah ta’wil dan yang keempat Pertalian akal dengan wahyu. Dengan keempat prinsip tersebut, yang dijabarkan secara sistematis dalam karya-karya utamanya, Ibn Rusyd berhasil menempatkan filsafat sebagai bagian dari keberagamaan yang tidak perlu dipertentangkan. Namun demikian, Ibn Rusyd tetap memberikan otoritas kepada wahyu di atas filsafat, sehingga dengan demikian Ibn Rusyd sesungguhnya bukanlah rasionalis tulen yang menafikan wahyu.
___________________________________________________

Referensi:

Madkour, Ibrahim. 2006.  Aliran Teori Filsafat Islam. Jakarta:  Bumi Askara.

Maftukhin. 2012. Filsafat Islam. Yogyakarta: Teras.

Manzhur, Ibn. 1992. Lisan al-‘Arab. Jilid V. Bairut: Dar Ihya al-Turast al-‘Araby.

Nasution, Harun. 1995.  Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Syarif, M.M. 1996. Para Filosof Muslim. Cet. VIII. Bandung: Mizan.

Mybllshtprspctv®

Renaisans: Kelahiran Kembali Filsafat

Sumber Gambar: ArtHistory
Oleh: Galih Rio Pratama

Tahun 1300/1400 pengaruh Islam masuk ke Eropa bersama lasykar Perang Salib (Salam, 2000 : 123-124).Pengaruh lain masuknya Islam ke Eropa terjadi setelah bangsa Turki merebut kota Istambul yang dulunya dikenal sebagai Konstatinopel pada tahun 1453 dari tangan umat Kristen. Sarjana-sarjana di Istambul mengungsi ke Eropa dan hubungan Prancis dengan daerah Islam di Spanyol makin berkembang. Zaman ini disebut Zaman renaissance. Pada zaman inilah terjadi penemuan kembali kepribadian manusia, yang menimbulkan pemikiran individualisme/liberalisme, yang menjadi pandangan hidup bangsa barat sampai sekarang (abad ke 13- sampai dengan 16) (Salam, 2000 : 124).

Kata renaissance digunakan sejarawan untuk menunjukkan berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di benua Eropa. renaissance sendiri memiliki arti secara etimologi menurut bahasa Prancis adalah kebangkitan kembali. Pada zaman renaissance orang Eropa semakin mengerti akan pentingnya ilmu pengetahuan dan mencoba untuk melepaskan diri dari belenggu gereja. Gerakan seperti ini semakin menguat dan berkembang dengan pesat setelah mereka sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuan mereka dapat menuju suatu masa yang lebih baik dan lebih maju. Dengan kesadaaran inilah mereka membuka halaman baru sejarah dan menutup masa kegelapan yang selama ini telah mengikat dan membatasi kemajuan mereka.

Gerakan renaissance  merupakan sebuah gerakan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan dan kemajuan manusia pada zaman itu hingga zaman sekarang. Dengan adanya gerakan ini manusia mempunyai kebebasan dalam mengembangkan diri dalam segala aspek dan segi tidak hanya dalam segi keagamaan saja, tetapi juga dalam segi ilmu pengetahuan, seni, budaya, penjelajahan, filsafat, dan berbagai macam disiplin ilmu lainnya.

Pada zaman renaissance  muncul aliran yang menetapkan kebenaran berpusat pada manusia, yang kemudian disebut dengan humanisme. Aliran ini lahir disebabkan kekuasaan gereja yang telah menampikkan berbagai penemuan manusia, bahkan dengan doktrin dan kekuasaannya, gereja telah meredam para filosof dan ilmuwan yang dipandang dengan penemuan ilmiahnya telah mengingkari kitab suci yang selama ini diacu oleh kaum kristiani.

Berdasarkan uraian di atas mengingat pentingnya zaman renaissance dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat, maka penulis tertarik untuk menulis masalah ini dalam sebuah makalah. Diharapkan dengan penulisan makalah ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai zaman renaissance dan perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang terjadi pada zaman tersebut.

Apa Itu Renaisans?

Renaissance, berasal dari kata prancis yang berarti kelahiran kembali (rebirth). Kata kelahiran kembali (rebirth) digunakan karena masyarakat pada zaman tersebut percaya bahwa gangguan yang diterima dari pihak gereja akan menghilang sehingga dapat melanjutkan kembali peradaban kearah yang lebih baik. Nama renaissance pertama kali diterima dari semangat kebangkitan manusia untuk mau berpikir pada zaman kegelapan yang terjadi di benua Eropa. Renaissance, merupakan paham sejarah baru yang membangun dan menguhubungkan konsep sejarah dari zaman kuno ke zaman modern, yang dipisahkan oleh periode yang sangat lama dengan perbedaan gaya hidup yang sesuai disebut zaman pertengahan (Palmer. dkk , 2007 : 56). Menurut Rini (2013 : 29) dalam tulisannya menyatakan secara etimologi, renaissance berarti “kelahiran kembali” atau “kebangkitan kembali”. Kata ini berasal dari prancis yaitu “re”artinya lagi atau kembali dan naissance artinya kelahiran. Dalam bahasa latin , istilah renaissance berasal dari kata nascentia, nascor, a
tau natus yang setara kelahiran, lahir atau dilahirkan.

Salam (2000 : 131) menuliskan bahwa masa kebangkitan atau renaissance berarti masa untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik (Yunani-Romawi) dengan meninggalkan kebudayaan tradisional yang bernapaskan kristiani. Renaissance merupakan sebuah periode penemuan manusia dan dunia, bukan sekedar kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern. Renaissance merupakan sebuah masa antara zaman pertengahan dan zaman modern yang ditandai oleh terjadinya sejumlah perkembangan pola dalam bidang pemikiran manusia.

Zaman renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang menginginkan pemikiran yang bebas tanpa terikat dari dogma-dogma agama. Manusia ingin mencapai kemajuan sendiri tampa melibatkan campur tangan sang pencipta/Ilahi. Pada zaman ini ilmu pengetahuan sudah mulai dirintis (Surajiyo, 2007 : 86).

Menurut Bakhtiar (2012 : 49-50) zaman renaissance terjadi pada abad 15-16. Renaissance sendiri berarti sebuah era sejarah yang penuh dengan perkembangan kemajuan dan perubahan dalam bidang ilmu. Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam filsafat. Zaman Renaissance terkenal dengan era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir seperti pada zaman Yunani kuno.

Zaman ini juga sering disebut sebagai zaman humanisme yang mana manusia diangkat dari abad pertengahan. Pada abad tersebut manusia kurang di hargai kemanusiaannya. Kebenaran di ukur berdasarkan ukuran gereja, bukan menurut ukuran yang di buat oleh manusia sendiri. Humanisme menghendaki ukurannya haruslah manusia, karena manusia mempunyai kemampuan berpikir. Bertolak dari sini, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya sendiri dan mengatur dunia. Karena semangat humanisme tersebut  akhirnya agama Kristen semakin di tinggalkan, sementara pengetahuan rasional dan sains berkembang pesat terpisah dari agama dan nilai-nilai spiritual.

Berdasarkan uraian tulisan dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kata renaissance dari zaman renaissance diambil dari kata dalam bahasa Prancis yakni “re” yang berarti lagi atau kembali dan naissance artinya kelahiran atau kebangkitan. Jadi apabila kedua kata tersebut digabungkan maka renaissance berarti kelahiran kembali atau kebangkitan kembali. Zaman renaissance merupakan suatu zaman yang berada pada abad 15-16 (abad pertengahan). Zaman ini merupakan zaman peralihan dari zaman pertengahan ke zaman modern. Pada zaman ini manusia ingin memiliki pemikiran yang bebas tanpa terikat dari dogma agama kristen dan pada zaman ini pula dimana ilmu pengetahuan modern yang ada saat ini sudah mulai dirintis.

Penyebab Munculnya Renaisans

Penyebab munculnya zaman renaissance menurut Acmadi (2012 : 67-80) adalah sebagi berikut.

Filsafat barat abad pertengahan (476-1492) juga dikatakan sebagai abad kegelapan. Pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi diri. Para ahli pikir pada saat itu pun tidak tidak memiliki kebebasan berpikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang mengemukakannya akan mendapat hukuman berat. Pihak gereja melarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Ciri pemikiran filsafat barat abad pertengahan yaitu (1) cara berfilsafat dipimpin oleh gereja, (2) berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles, (3) berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain. Masa abad pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia ke dalam kehidupan /sistem kepercayaan fanatik dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Karena itu perkembangan ilmu pengetahuan menjadi terhambat. Masa pada abad pertengahan penuh dengan dominasin gereja tanpa memkirkan martabat dan kebebasan manusia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.

Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu masa patristik dan masa skolastik. Masa skolastik terbagi menjadi masa skolastik awal, puncak dan skolastik akhir.

1. Masa patristik

Istilah patristik berasal dari kata latin yang berarti pater atau bapak, yang artinya para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir. Dalam golongan ahli pikir ini lahir berbagai perbedaan pemikiran tentang penolakan filsafat Yunani atau menerimanya berbaur dengan ajaran kristen yang berdasarkan firman tuhan.    

Perbedaan  pemikiran tersebut terus berkelanjutan, sehingga orang-orang yang menerima filsafat Yunani menuduh bahwa mereka (orang-orang Kristen yang menolak filafat Yunani) itu munafik. Kemudian orang-orang yang dituduh munafik tersebut menyangkal, bahwa tuduhan tersebut dianggap fitnah. Dan pembelaan dari orang-orang yang menolak filsafat Yunani mengatakan bahwa dirinyalah yang benar-benar hidup sejalan dengan Tuhan. Perbedaan ini melahirkan para apologis (pembela iman Kristen) dengan kesadarannya membela iman kristen  dari serangan filsafat Yunani. Tokoh-tokohnya ialah Justinus Martins, Klemens, Tertullianus dan Agustinus.

2. Masa skolastik

Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah fisafat abad pertengahan. Filsafat skolastik dapat tumbuh dan berkembang karena faktor religius dan pengetahuan.

Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, sebagai berikut.
  1. Filsafat skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama.
  2. Filsafat skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, dan baik buruk.
  3. Filsafat skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan kedalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara akal dan kepercayaan.
  4. Filsafat skolastik adalah filsafat Nasrani karena banyak dipengaruhi oleh gereja.
Masa skolastik terbagi menjadi tiga periode. Berikut uraian mengenai tiga periode dalam masa skolastik.

Masa Skolastik Awal

Masa skolastik awal berlangsung dari tahun 800-1200 atau berlangsung sejak abad ke-5 hingga ke-8, pemikiran filsafat patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan ke-7 dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan terhadap romawi sehingga kerajaan romawi berserta peradabannya runtuh. Baru pada abad ke-8 masehi, kekuasaan berada di bawah Karel Agung dapat memberikan suasana ketenangan dalam bidang politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termasuk kehidupan manusia serta pemikiran filsafat yang semuanya menampakkan mulai adanya kebangkitan.

Saat ini merupakan zaman baru bagi bangsa Eropa. Hal ini ditandai dengan skolastik yang didalamnya banyak diupayakan pengembangan ilmu pengetahuan disekolah-sekolah. Pada mulanya skolastik ini timbul pertama kali di Italia Selatan dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda. Tokoh-tokoh yang terlibat pada zaman skolastik adalah  Aquinas, Johanes Scotes Eriugena, Peter Lombard, dan  Peter Abaelardus.

Masa Puncak Skolastik

Pada masa ini ditandai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersama-sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Berikut beberapa faktor mengapa masa skolastik mencapai pada puncaknya.
  1. Adanya pengaruh Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh  menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
  2. Tahun 1200 didikrikan beberapa Universitas Almameter di Prancis.
  3. Berdirinya ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan  yang kuat untu memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13.
Peristiwa penting yang juga terjadi pada zaman ini adalah pristiwa kristenisasi ajaran Aristoteles. Kristenisasi ajaran Aristoteles ini terjadi untuk menghindari adanya pencemaran ajaran Aristoteles oleh ahli pikir arab (Islam). Hal itu dianggap sangat membahayakan ajaran kristen kemudian Albertinus Magnus dan Thomas Aquinas sengaja menghilangkan unsur-unsur atau selipan dari Ibnu Rusyd dan mengganti bagian-bagian ajaran Aristoteles yang bertentangan dengan ajaran Kristen.

3. Masa Akhir skolastik

Pada masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat (filsafat skolastik) yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan stagnasi (kemandegan).

Setelah abad pertengahan berakhir sampailah pada zaman renaissance. Pada zaman renaissance ini manusia memiliki kebebasan dalam berpikir dan berfilsafat tanpa harus terikat pada aturan keagamaan. Pada zaman ini pengetahuan mulai berkambang lagi.

Selanjutnya penyebab munculnya zaman renaissance juga turut diutarakan oleh (Rini 2013 : 30) sebagai berikut: Zaman pertengahan adalah zaman dimana Eropa sedang mengalami masa suram. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasi gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Kristen sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Berbagai hak diberlakukan demi kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang merugikan gereja akan mendapat balasan yang sangat kejam. Pemikiran manusia pada abad pertengahan ini mendapat doktrin dari gereja. Pemikiran tentang ilmu pengetahuan banyak diarahkan pada kajian teologi. Pemikiran filsafat berkembang sehingga lahir filsafat skolastik yaitu suatu pemikiran filsafat yang dilandasi pada agama dan untuk alat pembenaran agama. Oleh karena itu disebut dark age atau zaman kegelapan.

Dengan adanya berbagai pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah atas saran dari gereja, maka timbulah sebuah gerakan kultural, pada awalnya merupakan pembaharuan dibidang kejiwaan, kemasyarakatan dan kegerejaan di Italia pada pertengahan abad ke-14. Dengan munculnya gerakan kultural ini maka turut memunculkan gerakan renaissance. Selain itu sebelum gereja mempunyai peran penting dalam pemerintah, golongan-golongan elit hidup dengan kemewahan, kemegahan, keperkasaan dan kemasyuran. Namun ketika dominasi gereja mulai berpengaruh, maka hal seperti itu tidak diperoleh mereka, sehingga menimbulkan semangat renaissance.

Selain dari Sari, Salam (2000 : 128-130) juga mengutarakan penyebab munculnya zaman renaissance sebagai berikut: Situasi umat kristen Eropa, pada abad 6-12 dikenal sebagai abad kegelapan hal itu karena tidak ada perkembangan dalam hal ilmu pengetahuan. Selama kekuasaan kerajaan Romawi dan kekuasaan Katolik-Romawi perkembangan ilmu pengetahuan sendiri tidak ada tambahan apapun. Selama 1400 tahun samapai 1500 taqhun  segalanya masih dilandaskan pada penemuan pengetahuan bangsa Yunani, Aristoteles.

Pemikiran yang dalam jangka waktu ±1000 tahun berkuasa dalam masyarakat Eropa adalah pemikiran tentang agama dan sikap kehidupan yang mengakui adanya suatu hukum yang berkuasa dalam masyarakat dan alam semesta. Soal ini berlandaskan pada adanya hukum kerajaan romawi, yang kemudian disusul hukum yang berlandaskan dogma agama.

Bangsa Romawi mulai menyusun kerajaannya kira-kira tahun 295 sebelum masehi. Seiktar 27 sebelum masehi, kerajaan itu menjadi kekaisaran dengan roma sebagai ibukota bagian Barat. Kekaisaran Romawi bagian Barat ini berakhir pada tahun 476. Kekaisaran bagian timur kerajaan Romawi, dengan ibukota Konstatinopel atau Istambul baru lenyap pada tahun 1453, dan jatuh kedalam kekuasaan bangsa Turki yang memeluk agama Islam.

Pada waktu kasisar Constatinus berkuasa, agama katolik menjadi agama resmi dalam kerajaan Romawi, yaitu kira-kira tahun 313 masehi. Setelah kerajaan Romawi runtuh maka daerah di sebelah Utara Laut Tengah jatuh ke dalam pengaruh agama Katolik Romawi. Sekalipun dikuasai bangsa Romawi, Namun di daerah Selatan Lautan Tengah ilmu pengetahuan tetap diusahakan oleh orang-orang keturunan bangsa Yunani.

Betapapun terkenalnya bangsa Romawi, Namun dalam lapangan ilmu pengetahuan mereka praktis tidak memberikan sumbangan apapun. Mereka hanya disibukkan dengan masalah-masalah keagamaan dan terus menerus mempelajari masalah dosa, penghapusan dosa soal ketuhanan tanpa memperhatikan soal duniawi dan ilmu pengetahuan.

Karena tidak memperhatikan soal pengetahuan dan soal duniawi yang wajar maka dari mulai runtuhnya kerajaan Romawi dan mulai berkembangnya agama Katolik-Romawi sampai kira-kira tahun 1300/1500, benua Eropa terjerumus dalam apa yang disebut abad kegelapan (The Dark and Middle Age).Eropa dilanda oleh apa yang dalam zaman sekarang disebut takhayul. Mereka tunduk pada hukum yang berlandaskan dogma agama. Sepanjang masa itu, di Sebelah Selatan Laut Tengah berkembang kerajaan bangsa Arab, terutama dalam pengaruh Islam. Baru sekitar tahun 1300 dan 1400 pengaruh dari daerah kebudayaan Islam mamasukki benua Eropa, pengaruh tersebut masuk bersama lasykar perang salib.

Arus pengaruh lainnya terjadi setelah bangsa Turki merebut Istambul dari tangan umat Kristen. Sarjana-sarjana dari Istambul mengungsi ke Eropa, sedangkan di Spanyol hubungan Prancis dengan Islam lambat laun berkembang. Zaman inilah disebut zaman renaissance.

Berdasarkan uraian di atas penyebab munculnya zaman renaissance adalah karena terjadinya masa kegelapan di Eropa pada abad ke 6-12, dimana pada saat itu pemikiran manusia dikekang dan pada saat itu orang-orang tidak dapat berfilsafat secara bebas. Pemikiran mereka hanya berkutat pada pemikiran tentang keagamaan saja sedangkan pada ranah duniawi dan ilmu pengetahuan tidak diperhatikan. Baru pada akhir zaman skolastik masyarakat Eropa mulai jemu dengan kemandegan pemikiran filsafat dan ilmu pada saat itu. Rasa jemu dari kemandegan ini melahirkan zaman baru untuk merubahnya yakni dikenal sebagai zaman renaissance.
___________________________________________________

Referensi:

Poedjawijatna.1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. PT. Pembangunan: Jakarta

Hadiwijjono, Harun. 1980 .Sari Sejarah Filsafat Barat I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Bertens, Kees. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Magee, Bryan. 2008. The Story of Philosophy. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Mybllshtprspctv®

Dark Age Philosophy: Matinya Pengetahuan

Sumber Gambar: Deviantart
Disusun oleh: Galih Rio Pratama
Disadur dari: Web Mahasiswa

Abad pertengahan adalah periode sejarah yang terjadi di daratan Eropa yang ditandai sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga munculnya monarkhi-monakhi nasional. Dimulainya penjelajahan samudera, kebangkitan humanisme, serta reformasi Protestan dengan dimulainya renaissance pada tahun 1517.

Abad pertengahan sering diwarnai dengan kesan-kesan yang tidak baik. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya kalangan yang memberikan stereotipe kepada abad pertengahan sebagai periode buram sejarah Eropa mengingat dominasi kekuatan agama yang begitu besar sehingga menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, prinsip-prinsip moralitas yang agung membuat kekuasaan agama menjadi begitu luas dan besar di segala bidang.

Abad pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di zaman klasik dipinggirkan dan dianggap sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari pemikiran ketuhanan.
Eropa dilanda Zaman Kegelapan sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Yang dimaksud Zaman Kelam atau Zaman Kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan Menurut Ensikopedia Amerikana, zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.

Gelap juga dianggap sebagai tidak adanya prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Keadaan ini merupakan wujud kekuasaan agama, yaitu gereja Kristiani yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains merasa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka pun ditolak dan timbul ancaman dari gereja, yaitu siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera, malah ada yang dibunuh. segala keputusan pemerintah dan  hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman kekasiaran Roma. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat-keputusan adalah para ahli agama. (lihat perilaku kaum Salafy yang kini justru meniru mereka) Bahkan segala sesuatu yang bertentangan dengan penafsiran dewan gereja merupakan pelanggaran hukum berat.

Akibatnya setiap inovasi yang berasal dari kaum ilmuan selalu digagalkan oleh dewan gereja. Ya itu tadi pokoknya bila dewan gereja tidak paham dan tidak memiliki dasar argumen yang kuat di dalam injil maka inovasi tersebut merupakan perkara pelanggaran agama berat. Salah satu yang menjadi korbannya adalah Nicholas Coppernicus yang berakhir tragis akibat teorinya yang mengataAkibat terlalu banyak intervensi dewan Gereja pada sendi-sendi kehidupan, termasuk juga pelarangan terhadap temuan maupun inovasi baru yang tidak ada pada injil maka akhirnya terjadi stagnasi secara multi dimensi yang lambat laun berimbas pada timbulnya krisis multi dimensi.

Abad  kegelapan merupakan sebuah zaman antara runtuhnya Kekaisaran Romawi dan Renaisannce atau munculnya kembali peradaban lama. Dari masa sebelum masehi yang kental dengan Filsafat Relativisme (Kebenaran) Sofisme Yunani Kuno, berlanjut ke apa yang kemudian dinamakan Jaman Abad Pertengahan yang berlangsung lama, kurang lebih selama lima belas Abad, dari sekitar Abad I sampai Abad XV M.

Masa ini disebut juga sebagai Era atau masa Medieval atau juga Abad Kegelapan atau Dark Ages) dan dimulai setelah masa Nabi Isa bin Maryam ‘alaihis salam menapakkan kaki di muka Bumi dan berdakwah. Beliau dikenal juga sebagai Isa bin (anak) Maryam, yang dengan sejumlah perkecualian dan catatan perbedaan mendasar adalah hampir dapat dikenal sama juga sebagai Yesus Kristus atau Yesus dari Nazareth dalam khazanah Kristen.

Kegemparan akan datangnya ’Yesus dari Nazareth’ yang tak memiliki ayah dan nasabnya ditahbiskan kepada Maryam (Maria), ibunya, dan dalam hidup singkatnya menampilkan berbagai mukjizat luar-biasa itu, mengguncang peradaban manusia di sekitarnya saat itu, dan banyak orang yang kemudian berspekulasi akan kenyataan ini.

Di masa ini, lahir pula agama Kristen, dan ide-idenya mendominasi relung kehidupan masyarakat Eropa dan pengikutnya, termasuk para Pemikirnya. Dan wajah peradaban Barat pada Abad Pertengahan ini, karenanya, didominasi oleh Filsafat Kristen.

Filsafat Kristen atau Abad Pertengahan ini, antara lain bertokohkan Filsuf Plotinus, (Santo atau Saint) Augustinus atau Augustine, (Saint) Anselmus, Robert Grosseteste, Roger Bacon, Albert Agung, Thomas Aquinas, dsb. Yang kesemuanya sepakat mengedepankan iman dogmatis (tak boleh dibantahi) Kristiani, dan telaahnya pun bersifat religius-dogmatis.Akibat pengaruh hebat dan dominan Agama Kristen yang didominasi oknum kaum Gerejawan dan Monarki Baratnya dengan segala ragam tafsir dogmatisnya.

Dan tak pelak pemanfaatan Platonisme ala Yunani Kuno (dicetuskan Plato) yang mengajarkan bahwa kebenaran itu sudah ada dengan sendirinya dan berpusat kepada Tuhan namun berjenis dan berbungkus baru, yang disebut sebagai Neo-Platonisme, menjadi gencar dan ditahbiskan sepenuhnya tanpa telaah kristis kepada iman Kristiani. Ini, mau tak mau mendukung pula klaim dogmatis akan kebenaran Kristen.

Para ahli Filsuf dan Agamawan mereka di saat itu karenanya teguh bermottokan ”Credo et intelligam” atau ”Keyakinan (keimanan agama) berkedudukan di atas pemikiran (logika), keyakinan mengungguli pemikiran” atau lebih mudahnya, ”Yakini dulu sesuatu, baru carikan alasan untuk menjelaskannya”.

Maka, dengan sendirinya, Akal (di Barat) benar-benar kalah pada masa ini (terutama terlihat pada isi Filsafat dari Plotinus, Augustinus, Anselmus). Bahkan potensi pemanfaatan akal diganti mutlak oleh Augustinus dengan Iman dogmatis, sebelum penghargaan terhadap potensi Akal sempat muncul kembali kemudian pada masa Thomas Aquinas di akhir masa Abad Pertengahan itu.

Dan karenanya pula, Aquinas kemudian ditentangi hebat dan dibenci sebagian besar masyarakat gereja yang terlanjur menjadi pendukung jalur hati iman Kristiani  yang dalam hal ini sebagaimana telah disebutkan di atas adalah iman mutlak dogmatis kristiani yang tidak mengindahkan telaah kritis akal.

Ini juga tak pelak menyebabkan masyarakat Barat di masa itu secara luas menjadi percaya dan beriman dogmatis akan ‘rasa hati’ (atau yang adalah agama, Kristen, lebih tepatnya Kristen Katolik, bagi mereka), karena menurut mereka agama adalah rasa hati dan Filsafat adalah pemikiran. Filsafat dan Agama itu sendiri, satu hal yang di masa sesudahnya terutama masa Thomas Aquinas, dicoba untuk disatu-padukan namun menemui sejumlah kendala sampai masa Modern merebak.

Keyakinan Kristiani yang mendominasi di masa Abad Pertengahan ini, menjadikannya tidak boleh atau tidak mudah untuk dapat dikritiki, sekaligus membuat kedudukan mereka yang berada dalam struktur otoritas agamanya menjadi tinggi dan tak dapat disalahkan. Dan karenanya ini juga membuat mereka makmur secara ekonomi juga sebagai pemegang mandat negara dengan mandat Otokrasi dan Teokrasi Kristiani.

Dan kenyataan ini bagi sebagian orang lain, misalnya rakyatnya yang mereka pimpin, artinya juga adalah kesemena-menaan yang diorganisasikan. Kekuasaan absolut negara dan pusat-pusat kesejahteraan masyarakat saat itu dipegang mutlak oleh Gereja dan Kerajaan, dengan pajak sistem Feodalisme berdasarkan tafsir mereka terhadap iman Kristiani dan bahwa Gereja adalah wakil Tuhan di Bumi dan bahwa sistem pemerintahan yang terbenar adalah Kerajaan Kristiani penyokongnya. Golongan Ksatria, dan Raja adalah pelindung rakyat dan rakyat harus membayar pajak kepada mereka yang penafsirannya seringkali dianggap semena-mena oleh rakyat.

Tak pelak juga, maka, perkembangan ilmu-pengetahuan yang biasanya berdasarkan kepada gelitikan pemikiran, rasa penasaran, kebertanya-tanyaan  pemikiran pun menjadi lambat pula. Pendeknya, potensi telaah akal pada masa ini dihambati.

Di saat Zaman Kegelapan, segala keputusan pemerintah dan hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman Kekaisaran Romawi. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat keputusan adalah para ahli agama. Gagasan tentang Dark Age berasal dari Petrarch (seorang humanis,cendekiawan dan penyair Italia) pada tahun 1330-an. Dia menulis tentang orang-orang yang hidup sebelum dia, ia berkata: "Di tengah  kesalahan bersinar seorang genius, mata mereka melihat dengan  tajam meskipun mereka dikelilingi oleh kegelapan yang sangat pekat ".  Para penulis yang beragama Kristen, termasuk Petrarch sendiri telah lama menggunakan kiasan " terang melawan gelap "untuk menggambarkan" kebaikan melawan kejahatan ". Petrarch adalah orang pertama yang menggunakan kiasan dan memberikan makna sekuler dengan membalikkan penerapannya. Zaman klasik telah lama dianggap sebagai zaman "gelap" karena kurangnya kekristenan yang dilihat oleh Petrarch sebagai zaman "cahaya" karena prestasi dan pencapaian kultural, sedangkan pada zaman Petrarch, diduga kurang prestasi budaya sehingga Petrarch memandangnya sebagai zaman kegelapan (dark age).

Abad pertengahan merupakan zaman dimana Eropa sedang mengalami masa suram. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasi gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Kristen sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Seolah raja tidak mempunyai kekuasaan, justru malah gereja lah yang mengatur pemerintahan. Berbagai hal diberlakukan demi kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang merugikan gereka akan mendapat balasan yang sangat kejam. Contohnya, pembunuhan Copernicus mengenai teori tata surya yang menyebutkan bahwa matahari pusat dari tata surya, tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus dibunuhnya.

Pemikiran manusia pada Abad Pertengahan ini mendapat doktrinasi dari gereja. Hidup seseorang selalu dikaitkan dengan tujuan akhir (ekstologi). Kehidupan manusia pada hakekatnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Maka tujuan hidup manusia adalah mencari keselamatan. Pemikiran tentang ilmu pengetahuan banyak diarahkan kepada theology. Pemikiran filsafat berkembang sehingga lahir filsafat scholastik yaitu suatu pemikiran filsafat yang dilandasi pada agama dan untuk alat pembenaran agama. Oleh karena itu disebut Dark Age atau Zaman Kegelapan.

Abad pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di zaman klasik dipinggirkan dan dianggap sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari pemikiran ketuhanan.
Eropa dilanda Zaman Kegelapan sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Yang dimaksud Zaman Kelam atau Zaman Kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan Menurut Ensikopedia Amerikana, zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.

Gelap juga dianggap sebagai tidak adanya prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Keadaan ini merupakan wujud kekuasaan agama, yaitu gereja Kristiani yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains merasa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka pun ditolak dan timbul ancaman dari gereja, yaitu siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera, malah ada yang dibunuh. segala keputusan pemerintah dan  hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman kekasiaran Roma. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat-keputusan adalah para ahli agama. (lihat perilaku kaum Salafy yang kini justru meniru mereka) Bahkan segala sesuatu yang bertentangan dengan penafsiran dewan gereja merupakan pelanggaran hukum berat.

Akibatnya setiap inovasi yang berasal dari kaum ilmuan selalu digagalkan oleh dewan gereja. Ya itu tadi pokoknya bila dewan gereja tidak paham dan tidak memiliki dasar argumen yang kuat di dalam injil maka inovasi tersebut merupakan perkara pelanggaran agama berat. Salah satu yang menjadi korbannya adalah Nicholas Coppernicus yang berakhir tragis akibat teorinya yang mengatakan akibat terlalu banyak intervensi dewan Gereja pada sendi-sendi kehidupan, termasuk juga pelarangan terhadap temuan maupun inovasi baru yang tidak ada pada injil maka akhirnya terjadi stagnasi secara multi dimensi yang lambat laun berimbas pada timbulnya krisis multi dimensi

___________________________________________________

Referensi:

http://siti-alvi-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-91431-Umum-Latar%20Belakang%20lahirnya%20Zaman%20Kegelapan.html

Mybllshtprspctv®