Saturday, December 3, 2016

Hujan, Dingin dan Jogja


Oleh: Gusti Aditya

Sedari pukul lima, hujan terus mengguyur kota tua ini. Hujan seakan tak takut akan sakralnya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, karena terus mengguyur dan terus menyerbu tiada henti. Hujan juga tak perlu membayar mahalnya tiket masuk menuju Candi Prambanan, karena hujan tinggal masuk tanpa harus melewati lorong loket. Hujan juga hebat, bisa membuat tubuhku basah, tanpa harus pergi ke kamar mandi.

Hujan pagi ini cukup unik, pasalnya kemarin adalah hari yang spesial, setiap tanggal 2 memang spesial. Soalnya aku gajihan. Hujan pagi ini unik karena turun dengan medium yang cukup lucu. Tidak deras juga tidak pula gerimis yang membuat kantuk. Kasihan Nenekku, jadi repot saat menjemur pakaianku.

Pagi ini juga dingin. Mungkin ini ada hubungan kausalitas dengan turunnya hujan yang terus mengguyur kota ini sejak subuh atau malah aku sedang sakit? Biasanya, udara ekstrim Kaliurang saja aku kuat. Bahkan sewaktu kemah di sana, aku mandi pukul empat pagi.

Yang menjadi sorotanku bukanlah hujan yang lama, tiket masuk Candi Borobudur atau pun aku yang sedang kedinginan, lebih dari itu aku memikirkan apakah Jogja akan banjir seperti biasanya? Ataukah Jogja akan 'kelelep' karena pembangunan hotel yang kian bringas?

Jika boleh memberi usulan, aku ingin memberikan jargon baru kepada kota ini. Biarlah 'Jogja berhati nyaman', 'Jogja kota sepeda', 'Jogja kota pelajar' atau 'Jogja kota budaya' tetap menjadi lelucon yang layak ditertawai. Yang terpenting, 'Jogja ora dildo' eh 'Jogja ora didol' tetap melekat kuat sembari saya menambahkan 'Jogja ora perlu di alem'.

'Jogja ora perlu di alem' berarti Jogja tidak perlu di manja, tetapi Jogja perlu dibenahi. Telusuri para tikus di gorong-gorong Kali Mambu, cari hotel yang tidak memenuhi AMDAL, perbaiki sistem drainase yang kian edan dan berantas tuntas mafia di SunMor UGM. Hehe.

Wes, tak turu maneh.

Mybllshtprspctv®

Wednesday, November 30, 2016

Jika Aku Menjadi Pengurus PSSI: Maguwoharjo, Manahan, Pakansari, Dilema dan AFF 2016


Oleh: Gusti Aditya

"Pak, Indonesia lolos empat besar, Pak!" Seseorang cleaning service bersorak sorai kepadaku dengan nada yang sedikit bergetar. Ketika itu aku sedang membuat kopi di lobby bawah.

"Hahaha. Apa kau bercanda? Tadi terakhir aku lihat Indonesia sedang tertinggal 1-0 oleh Singapore," jawabku kepada cleaning service tersebut seusai mengaduk kopi lalu membenarkan jas yang begitu rapi dan harum yang menempel di badanku.

"Mereka berhasil membalikan kedudukan, Pak. Berkat gol Andik dan Lilipaly. Indonesia berhasil memastikan satu tempat di semi final AFF Cup 2016 usai mengalahkan Singapore 2-1, Pak. Melalui kemenangan itu membuat Indonesia melangkahi sang tuan rumah, Filipina, yang di jam yang sama bertekuk lutut menghadapi Thailand. Mereka hanya berhasil mengoleksi 2 poin hasil dari dua kali imbang dan satu kali kalah."

"Wah, ladang uang, nih. Eh, maksud saya, ladang prestasi, nih," aku menaruh kopi yang aku buat di meja lobby.

•••

Aku bergegas membuka portal berita di dunia maya. Semua memasang headline yang sama. Ya, mengenai Timnas Garuda yang berhasil mengalahkan Singapore dengan begitu dramatis. Hebat juga anak-anak, bisa mengekor sang pengoleksi piala terbanyak, Thailand.

Karena Indonesia menempati runner-up grub A, maka Indonesia akan menghadapi juara grub B, Vietnam. Tim berjuluk Ngôi Sao Vàng atau The Golden Star ini memiliki postur tubuh yang sama dengan pemain kita, kecepatan pun Andik bisa menyamai mereka, namun stamina lah yang membedakan itu semua. Vietnam bisa bermain dengan umpan-umpan pendek selama 90 menit penuh!

Itulah berbahayanya Vietnam. Itu yang membuat permainan Vietnam selalu mengalir deras tanpa henti dan mendistorsi lawan tanpa memberikan celah. Para pemain tidak lelah berlari, memberikan umpan hingga waktu pertandingan telah usai. Bahkan mereka tidak mengendurkan tempo sama sekali, terlihat ketika mereka menghabisi Malaysia dengan skor 1-0 di tanggal 23 November kemarin.

Sudahlah, itu urusan Riedl dalam mengatur komposisi yang tepat untuk membendung Vietnam. Yang dipikiranku untuk pertama kali adalah berlangsungnya leg pertama, terkait direnovasinya Stadion Utama Gelora Bung Karno. Mau main di mana? Tamu haruslah di jamu, namun tuan rumahlah yang harus diuntungkan.

•••

Hmm...baiklah, untuk leg pertama pada hari Sabtu, 3 Desember 2016 nanti, aku akan mengajukan beberapa opsi. Memang sebelumnya opsi yang paling kuat adalah Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) karena aksesnya mudah dan berada di Kota Bandung yang notabene dekat dengan ibu kota.

Namun ternyata, keputusan tersebut tampaknya urung terjadi. Hal ini dikarenakan Stadion GBLA masih dalam perbaikan. Rumput di stadion yang beberapa kali menjadi kandang Persib Bandung ini masih dalam pembenahan usai rusak pada gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) pada Oktober lalu (Sumber: Pandit Football).

Opsi tersebut memunculkan beberapa nama stadion, yaitu Maguwoharjo Sleman, Manahan Solo dan Pakansari Bogor. Satu lagi yang kabarnya siap menggelar pertandingan ini adalah Stadion Gelora Bung Tomo. Namun menurut desas-desus GBT kecil kemungkinannya mengingat area Surabaya masih 'panas' sebagai buntut Kongres PSSI di Ancol beberapa waktu lalu.

Aku akan berjuang mengusulkan Stadion Maguwoharjo Sleman atau Stadion Manahan Solo, agar keluargaku yang berada di Daerah Jawa Tengah bisa merasakan atmosfer AFF 2016 ini. Aspek pribadi memang, toh aku juga memiliki banyak faktor yang mendukung pemilihan kedua stadion ini.

Alasan yang pertama adalah kedua stadion ini lebih mempesona ketimbang beberapa stadion yang aku sebutkan di atas. Mempesona dalam hal penonton dan koreografi yang kreatif dari BCS dan Pasoepati. Terbukti dengan koreo Pasopati membentuk Bendera Palestina dalam laga uji coba melawan Malaysia. Atau BCS dengan sorak-sorai yang 'mustahil' berhenti sebelum laga selesai. Baiklah jika masalah suporter terlalu naif karena laga tarkam di tempatku pun penontonnya selalu membeludak, tetapi bukankah suporter merupakan pemain ke-12?

Kedua adalah pengalaman dan infrastruktur yang lebih baik, menjadi daya tarik kedua stadion ini. Namun di sini Stadion Manahan lebih unggul karena Manahan pernah menggelar beberapa laga Internasional. Sejumlah pertandingan Liga Champions Asia dan Piala AFC pun digunakan Persik Kediri dan Persibo Bojonegoro dengan memilih Manahan.

Secara infrastruktur, Maguwoharjo boleh berbangga. Pelatih Alfred Riedl selama ini mengandalkan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki. Makanya, saat Timnas menjalani pemusatan latihan, Stadion Maguwoharjo sempat menjadi pilihan untuk memantapkan strategi, umpan pendek dan pressing ketat. Jenis rumput Zoysia Matrella (ZM) sangat cocok untuk mengalirkan bola dengan umpan-umpan pendek. Selain itu, dukungan sistem drainase yang baik, membuat rumput stadion milik Pemkab Sleman ini tak tergenang saat hujan lebat mengguyur (Sumber: Radar Jogja).

Ketiga adalah aspek pengamanan dan hal tersebut menjadi keunggulan Manahan. Kesigapan panpel dan keamanan saat pertandingan di Manahan, memang jarang ditemui di stadion lain di Indonesia. Tak jarang sejumlah pelatih klub di Indonesia selalu menyebut "aman" bila bermain di Stadion Manahan.

Keempat sekaligus yang terakhir, Maguwoharjo adalah Mini San Siro. Dikutip dari Radar Jogja, konsep stadion ini tak terdapat lintasan atletik. Hal ini pasti membuat suasana gemuruh dan dilingkupi terror bagi lawan. Bisa menciptakan suasana gemuruh ini hanya ada di Stadion Maguwoharjo. Tanpa lintasan lari, jarak suporter di atas lapangan, namun tetap membuat pemain dan ofisial nyaman dan aman. I N I A K A N M E N J A D I T E R R O R B A G I L A W A N !

•••

"Pak? Apa kau baik-baik saja?" Tiba-tiba cleaning service tersebut mengagetkanku yang sehabis melamun banyak hal.

"Oh maaf, aku malah memikirkan stadion mana yang akan digunakan Indonesia saat leg pertama, hehe. Pasti antara Maguwoharjo atau Manahan, ya?"

"Lho, bukannya Stadion Pakansari yang telah dipilih, Pak? Pun tiket yang dijual sebanyak 27 ribu kursi, karena sudah dipotong sponsorship kuota AFF dan tamu kita. Ada persetujuan juga dengan pihak Vietnam. Untuk harga tiket sendiri, ada tiga variasi. Kategori 1 seharga 300 ribu rupiah, kategori 2 seharga 200 ribu rupiah, dan kategori 3 seharga 100 ribu rupiah. Kategori 1 terletak di barat samping VVIP. Sementara kategori 2 terletak di barat sebelah kanan/kiri gawang. Untuk kategori 3 berada di utara, barat dan selatan. VVIP sendiri dikhususkan untuk penonton undangan."

"Kau bahkan tahu banyak ketimbang aku. Ternyata kawan-kawanku tak banyak berubah, ya? Hehe," Kemudian aku melanjutkan menyeruput kopi.

•••

Baiklah, uang dan prestasi yang menjadi dilema P$$I kali ini. Prestasi dapat menghasilkan uang dan uang dapat menjadikan prestasi yang begitu instan. Jika mereka ingin mengedapankan uang, lalu menghasilkan sebuah prestasi, perlu ditekankan bahwasanya Timnas Garuda bukanlah sebuah tim semenjana dengan saudagar minyak asal Russia yang memilikinya. Bukan juga sebuah tim yang menghabiskan 32,5 juta poundsterling untuk seorang Robinho. Lebih dari itu, Timnas Garuda hanya membutuhkan didikan usia dini dan sebuah kompetisi dari level junior hingga senior yang jelas dan terarah.

Terbanglah Sang Garuda. Biarkan mereka bermain uang atau entah apa pun itu, kalian harus terus mengepakan sayap kokohmu. Basuhilah dahaga Rakyat Indonesia dengan air trophy yang belum sekalipun jatuh dalam pelukan Ibu Pertiwi.

_______________________________

Further Reading:

- http://panditfootball.com/berita/206841/RDK/161129/harga-dan-cara-mendapatkan-tiket-semifinal-piala-aff-2016-indonesia-vs-vietnam

- http://panditfootball.com/berita/206821/RDK/161127/semifinal-melawan-vietnam-kemungkinan-besar-indonesia-gunakan-stadion-pakansari

- http://www.radarjogja.co.id/ini-keunggulan-stadion-maguwoharjo-jika-jadi-kandang-timnas-di-piala-aff/

Mybllshtprspctv®

Tuesday, November 22, 2016

Sebuah Surat: Untuk Anakku



Oleh: Gusti Aditya


Hai, anakku,

Ayah langsung teringat ketika pertama kali ayah bertemu dengan bundamu. Bahkan ayah sama sekali belum pernah bertemu dengan bundamu enambelas hari pasca ayah mendapatkan bundamu. Ah, nak, lain waktu akan ayah ceritakan di secarik kertas yang lain. Kertas yang hanya bisa dibaca olehmu seorang.

Oh iya, bebas kamu memanggil ayah apa. Ayah tidak melarang, sama seperti engkau kelak menentukan agama, ideologi dan jalan hidupmu. Itu semua adalah kebebasanmu menentukan pilihan, nak. Eh tapi jika bisa agamamu Islam saja ya, biar ndak repot nanti di kartu keluarga. Juga ndak enak nanti sama tetangga. Problema hidup di negara Bhineka memang, nak. Tolong fahami saja ya.

Masalah nama, ayah ingin memberimu nama yang amanah dan merepresentasikan arti nama tersebut. Agar siapa pun yang memanggil namamu, akan kagum dan merasa hormat. Ayah juga akan sesuaikan dengan jenis kelaminmu nanti. Bebas, nak, engkau akan menjadi pria gagah atau puteri yang anggun. Karena ayah yakin, pemberian Tuhan adalah yang terbaik. Walau kadang tidak baik, namun maksudnya baik kok.

Bila engkau seorang pria, tentunya akan ayah memberikan nama yang gagah dan membuat teman-temanmu kelak menjadi bergetar karena ketakutan. Garuda Indonesia mungkin, nak? Bagaimana? Agar engkau bisa terbang bebas di angkasa serta akan menukik tajam karena tersadar menuju landasan yang halus bahwa engkau membutuhkan avtur untuk tetap bisa melaju. Tidak selamanya engkau di angkasa, sesekali harus ke bawah agar mengerti bagaimana rasanya mendarat mulus di landasan pacu. Atau namamu Buroq saja ya, nak?

Nah, jika engkau seorang wanita, tentu ayah ingin memberikan nama yang anggun namun berjiwa layaknya seorang Srikandi. Hmm mungkin nama yang tepat adalah Dora. Ayah ingin engkau menjadi puteri yang jelita dan memegang teguh pepatah "malu bertanya, sesat di jalan". Tapi saran ayah, jangan keseringan bertanya ya, nak.

Maaf kan ayah ya, nak. Ayah belum sempat berfoto dengan tulisan 'ini ayahmu sewaktu muda' dengan berlatarkan tempat-tempat yang indah nan eksotis di penjuru negeri. Bukannya ayah sok sibuk, tetapi ayah sedang disibukkan dengan jadwal padat persiapan konferensi di Malaysia beserta proyek-proyek yang sulit rasanya ayah tolak.

Nak,

Temukanlah jalanmu sendiri ya. Bila engkau seorang wanita, tentu ayah mencoba mengenalkanmu kepada alat-alat untuk bersolek. Jika tak suka, katakan saja, barangkali besarmu bukan menjadi seorang Marini Sardi, melainkan menjadi seorang Malahayati. Dan jika pria, ayah tak akan memaksamu untuk menjadi seorang Ultramen Cosmos. Walau pun sejujurnya ayah sangat menggemari tokoh tersebut. Ultramen Mebius juga boleh deh.

Nak, barangkali engkau terlahir melewati dinding rahim seorang wanita yang kuat. Bukan sedari batu yang dilumuri air hangat. Hangatnya dinding rahim tersebut akan terus menjalar hingga engkau menjadi orang sukses di kemudian hari. Pesan ayah hanya satu, jangan membuat wanita ini, bundamu, terluka ya, nak. Jika hanya membuat dia kerepotan, boleh-boleh saja lah. Patuhi dia ya, nak. Karena wanita yang akan melahirkanmu kelak, adalah wanita yang sangat galak. Engkau tahu siapa yang berani memarahi Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih? Entahlah, yang penting bukan bunda kok.

Nak,

Ketahuilah, ayah dan bunda sudah menyayangimu jauh sebelum engkau lahir. Unik ya, nak? Percayalah, ayah saat ini sedang berada di luar Galaksi Bima Sakti, sedangkan bundamu sedang meringkuk di sebuah ruangan kecil yang diberi nama oleh penduduk Bumi dengan sebutan koskosan. Ditambah, bundamu sedang kehabisan kuota.

Mybllshtprspctv®

Saturday, November 12, 2016

Danau Hijau: Bagian I




Oleh: Gusti Aditya

Satu-satunya makhluk yang pergi pagi hari menuju sebuah kereta, namun aku masih saja terjaga. Karena satu-satunya tempat pulang, bagi diriku, hanyalah wanita itu. Dan itu selalu cukup menahan mata tidak terkatup hingga matahari benar-benar nanar muncul dari sarangnya.

Aku entah berkutat dengan apa disana. Bisa jadi dengan lagu-lagu parau untuk menghalalkan suasana hatimu yang sendu dilanda rindu yang benar-benar menyiksanya beberapa minggu itu. Atau, menatap masygul foto wajah wanita cantikku yang pagi ini menungguku namun entah berkutat dengan apa saat ini.

Yang paling aku khawatirkan adalah ketika: Pikiranku tidak sedang sibuk memikirkan wanitaku. Meskipun itu sudah pasti—ketidak mungkinan yang merayap melalui dinding-dinding kereta penuh dengan luka.

Tapi kau tahu, perkiraan tadi sebenarnya hanya menyudutkanku sesudut-sudutnya suatu sudut. Aku terlalu khawatir jika wanita yang sedang aku tuju sebenarnya juga melakukan apa yang aku lakukan—sama-sama merindukan kehangatan sebuah pelukan.

Aku memikirkan hal itu selama di perjalanan. Mengulang-ulang hingga tombol replaynya rusak dan Boom! Paranoia itu menjadi hilang kendali. Oleng kesana-kemari. Dan...menabrak ruang hampa bernama hati yang selama ini merindukan dirinya untuk mengisi.

Aku kembali menatap foto seseorang yang berada ratusan bahkan ribuan kilometer di timur pulau tempat ku berpijak. Sebuah tanah yang benar-benar berbeda. Dan tanah itulah yang sedang aku tuju. Tentunya, dengan kereta yang terus berlarian tanpa tujuan yang sedang aku naiki. Begitu sunyi.

Oh Astaga! Aku lupa satu hal. Aku tak bilang kepada dia jika hari ini aku membawa sebuah kabar yang sangat tak enak untuk diberitakan.

Semoga kekasihku kuat menerimanya.

Bersambung

Mybllshtprspctv®

Wednesday, August 17, 2016

Kereta Pembawa Kabar Merdeka

Oleh: Gusti Aditya

Misi hari ini sangat mudah. Ya, menculik dia. Sukarno versi wanita.

Tak ada mandat secara langsung dari dia, namun hanya pesan tersirat khas anak muda jaman sekarang. Menegok jadwal kuliah yang longgar, yasudah, mari saya bawa anda menuju Rengasdengklok versi saya dan dia.

01:15 siang, Stasiun Lempuyangan:
"Aku ditemani kedua rekanku. Sahabatku, bahkan sudah aku anggap menjadi saudaraku. Asal kalian tahu saja, jangan ganggu mereka, soalnya mereka sudah berpacaran."

02.55 agak sore. Stasiun Purwosari:
"Dia berkata bahwa aku turun di stasiun ini. Ternyata hanya sebuah lelucon. Aku lelah, namun aku masih sanggu tertawa. Untung dia bercanda melalui pesan singkat, jika saat itu ia berada di sampingku, mungkin ia sudah tinggal nama saja. Benar! Nama yang terukir indah di impulse otak busukku.

02:56 agak sedikit mulai sore. Mencari halte BST menuju Stasiun Solobalapan:
"Di kotaku, Jogja, halte trans dijaga oleh seorang operator. Berbeda dengan di kota ini, anda tinggal duduk manis di halte. Jujur, aku bingung. Namun segera aku lupakan setelah melihat tatapan hangat dan senyuman sejuk Warga Solo."

03.45 sore, Stasiun Solobalapan. Entah balapan dengan siapa:
"Menunggu itu hal yang sulit. Ketika menunggu dia, entah mengapa yang ada hanya rasa senang. Mungkin aku saat itu sedang tidak merasa menunggu."

04.15 sore, masih di Stasiun Solobalapan:
"Aku sedang mengupil. Aku bentuk menjadi lingkaran. Aku leletkan di bawah kursi tunggu. Kelak kursi tersebut akan diduduki oleh orang -orang penting lainnya, selain aku. Percayalah."

05.30 sore menjelang Magrib, dia datang:
"Mungkin anda mengira bahwa kata-kata mendayu khas gadis Jogja yang akan terucap, nyatanya tidak. Malah yang ia katakan lebih mengiris ketimbang kasus sianida di ruang sidang selama berbulan-bulan. Ya, ia mengataka: 'Mana powerbank?!'"

05.59 surup hampir malam:
"Di dalam ruang tunggu. Biasanya bosan. Kali ini terasa menyenangkan. Karena kami membahas monyet yang doyan makan kentang di Jurug dan UNS."

06:01 malam:
"Dia hafal jadwal kereta. Aku curiga, jika dia seorang masinis."

06:11 malam, masih di ruang tunggu:
"Ada pasangan tua yang sudah renta duduk di depan kami. Memang sih, di ruang tunggu tersebut hanya ada 2 pasangan: pasangan tua tersebut dan pasangan muda (kami). Aku menunjuk pasangan tua tersebut, ia juga melihat mereka, lalu aku berkata, "Kelak kita akan seperti itu. Tapi aku menjadi yang wanita saja," Ia tertawa.

06:16 malam, aku tak mau diam:
"Aku bercerita tentang Peristiwa Rengasdengklok kepadanya. Dia hanya diam. Mungkin bosan. Aku bersandiwara dan berlagak seperti anggota persiapan kemerdekaan. Aku ambil kertas dan menuliskan kurang lebih seperti ini:

Proklamasi,
Kami (nama dia) dan (nama saya), menyatakan dengan ini akan menaiki kereta bersama,

Hal-hal yang mengenai gangguan monyet-monyet nakal, akan diselesaikan dengan penuh cinta dalam tempo selama-lamanya.

Perbatasan Solo-Jogja
16 Agustus 2016

Presiden dan pacarnya presiden

Dia bilang apa yang aku lakukan ini norak. Setidaknya ia tersenyum dan menyimpan kertas proklamasi itu. Namun belum ditanda tangani. Aku menyuruh dia menanda tangani esok hari jam 10 pagi."

06:30 malam, menunggu kereta:
"Orang-orang hanya terdiam seakan bosan menunggu datangnya kereta. Tidak begitu dengan kami, kami banyak bercerita tentang semua hal. Mulai dari dia yang suka melihat monyet, hingga aku yang sedang tidak percaya diri karena monyet-monyet tersebut."

07:30 malam, kereta datang:
"Kami masuk kereta. Duduk di depan mbak-mbak yang sibuk ngerumpi tingkahku terhadap dia. Yasudah, aku mengajak dia untuk berganti tempat duduk. Bukan karena malu, tetapi karena takut mbak-mbak tersebut naksir aku."

07:45 malam, kereta berangkat:
"Aku takut. Keretanya sangat cepat. Dia santai-santai saja, ya, karena dia seorang masinis."

07:46 malam, kereta bergerak cepat:
"Aku melihat dia sibuk dengan tasnya. Aku yakin, dia panik karena aku menyembunyikan dua tiket kereta kami di tas mahalku.

07:55 malam, dingin dan petugas tiket datang:
"Aku mengeluarkan tiket. Dan dia hanya diam. Mungkin ia sedikit marah. Namun aku beri satu tiket yang telah dilubangi oleh petugas. Ia memegang tiket yang aku beri, namun hanya diam. Aku keluarkan dompetku, aku bilang, "tiketku aku masukan ke dompetku. Aku yakin, kamu bakal melakukan hal sama seperti apa yang aku lakukan." Ia diam. Lalu cepat-cepat memasukan tiket tersebut di tasnya."

08:10 malam, ia ngantuk:
"Ia menunduk dan memeluk tasnya. Aku tenggerkan lengan ku di kepalanya yang menunduk. Ia diam saja. Lalu terbangun. Aku bilang, "kita sudah sampai Bandung," ia tidak kaget, malah tersenyum.

08:30 malam, aku dan dia terus bercandaan:
"Anda tidak boleh tau banyak. Ini sedikit rahasia. Kapan-kapan aku ceritakan."

08:45 malam, sudah memasuki daerah Klaten:
"Di depan kami ada seseorang bapak-bapak yang bermain Plane Tycoon (aku hafal theme songnya) dan ibu-ibu beralis tebal yang sedang terlelap. Namun aku tetap mengajak ia bercandaan. Mungkin orang lain bilang, "ceweknya disantet pakai apa tuh.""

08:50 malam, aku khawatir, ayahnya mencemaskan anak sulungnya yang sedang aku culik:
"Aku sedang berusaha untuk mendaratkan kepalanya di pundakku. Kalian pasti tahulah aku akan berhasil atau tidak."

09:00 malam, sudah sampai Prambanan:
"Ia bersorak karena hampir sampai. Namun aku menyusun sebuah metode: waktu berlalu cepat, karena ia menikmatinya. Jangan pura-pura senang, sayang."

09:10 malam, sudah sampai Maguo:
"Aku bertanya pada dia, "Tadi di Stasiun Prambanan tidak ada Candi. Sekarang di Stasiun Maguo, tidak ada orang bermain bola," Ia mengalihkan wajah dariku. Aku yakin, ia sedang tersenyum."

09:20 malam, sudah sampai Stasiun Lempuyangan:
"Tidak ada hal spesial. Aku hanya bilang, "Salam buat ayahmu. Terimakasih telah membuat kamu," kami tertawa dan mendapat tatapan sinis dari penumpang lain. Sejenak aku menganggap penumpang lain adalah Tentara Jepang. Santai, aku punya Sukarno versi wanita."

09:33 malam, penitipan motor:
"Misi penculikan: selesai dengan sukses. Aku berbisik pada Bella (motorku): suatu saat akan aku kenalkan kamu dengan dia, Bell."

Apakah anda menganggap apa yang aku tuliskan ini hanya sebagian imajinasiku? Terserah. Yang terpenting adalah ia saat ini sedang membaca tulisan ini sembari tersenyum manis.

Aku senang hari ini berhasil menculik dia. Menghabiskan setengah hari bersamanya. Semoga dia juga merasakan hal yang sama. Maaf tidak bisa memberimu permata. Aku hanya sanggup memberimu rasa malu karena segala tingkah lakuku yang sulit diterima akal dan logika.

Semoga kamu menanda tangani teks proklamasiku dan menyimpan tiket kita.

Mybllshtprspctv®