Samaun Samadikun Ilmuwan Chip Indonesia

Oleh: I Wayan Budiartawan

Semasa hidupnya Samaun Samadikun mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendorong berkembangnya teknologi chip di tanah air. Pria berpenampilan sederhana dan bertutur kata lemah lembut ini lahir di Magetan – Jawa Timur pada tahun 1931. Beliau adalah guru besar terbaik yang dimiliki ITB dalam bidang teknologi chip.

Pada masa mudanya, mulai tahun 1950, beliau menempuh pendidikan di ITB sampai lulus dan memperoleh  gelar insinyur. Semasa menjadi mahasiswa beliau aktif dalam kegiatan-kegiatan di kampus ITB. Ketika itu  beliau  menjadi salah seorang anggota senat

Selanjutnya beliau memilih berkarir sebagai dosen pada almamaternya yaitu lTB. Lalu sebagai tenaga akademis muda pada masa itu beliau pun mendapat kesempatan untuk  kuliah di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu beliau mendalami teknologi chip sampai mendapat hak cipta di sana.

Sekembalinya ke tanah air, di samping mengajar di ITB, putra gubernur pertama Jawa Timur ini mendapat kepercayaan dari pemerintah RI untuk menjadi pejabat. Berbagai jabatan pernah beliau emban antara lain salah satu direktur di DIKTI, kemudian  menjadi dirjen di departemen pertambangan dan energi. Sementara itu  instansi seperti  LIPI juga pernah diketuai oleh beliau. Terakhir beliau terpilih sebagai  anggota MPR utusan golongan.

Kepemimpinan beliau diakui oleh semua kalangan. Beliau pernah ditunjuk untuk mengelola bantuan Pemerintah Perancis yang terdiri dari pembangunan gedung, instalasi peralatan laboratorium dan beasiswa untuk kuliah di Perancis untuk dosen muda ITB. Kemudian beliau mendirikan kelompok penelitian dalam bidang teknologi chip dengan dana bantuan dari Bank Dunia. Gedung penelitian berstandar internasional pun dibangun dan disusul dengan pembelian peralatan-peralatan laboratorium yang baru. Staf muda dikirim  tugas belajar ke negara-negara yang ditunjuk proyek Bank Dunia seperti Kanada, Inggris dan Amerika Serikat.

Berkat sentuhan tangan dingin beliau, sekelompok peneliti di ITB bisa merancang chip sendiri seperti di negara maju. Jasa-jasa beliau perlu dikenang oleh generasi muda. Kegigihan dan semangat juang beliau pantas ditiru. Beliaulah yang meletakkan pondasi dan merintis jalan bagi terbentuknya sebuah lembaga yang mempelopori penguasaan teknologi chip untuk kemajuan negeri ini.

Kini sang guru besar telah berpulang. Beliau tutup usia pada tahun 2006 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

I  Wayan Budiartawan

6 September 2016

Pemandangan Indah di Bukit Jambul

Oleh: I Wayan Budiartawan

Aku tinggal di Desa Pesaban. Letaknya jauh di pedalaman. Jaraknya kira-kira 50 kilo meter dari Kota Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Kalau lalu lintas lancar, perjalanan sepanjang ini memakan waktu sejam dengan kendaraan beroda empat.

Desaku termasuk wilayah dataran tinggi, kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut. Pagi hari udara sangat sejuk. Di sekeliling pemukiman penduduk terhampar lahan-lahan pertanian yang luas dan subur. Kecamatan Rendang adalah  pusat pemerintahan yang melingkupi segenap urusan kerakyatan di desaku.

Sebagian besar penduduk di desaku mata pencahariannya adalah bercocok-tanam. Petani menanam padi di sawah. Sayang, hampir semua penduduk di desaku tergolong petani gurem. Hal ini disebabkan oleh sempitnya sawah yang menjadi sandaran setiap kepala keluarga.

Tanaman bunga yang dikembangkan di desaku beberapa dasawarsa terakhir, menjadi tumpuan harapan bagi petani kecil. Selain tidak membutuhkan banyak lahan, bunga harganya sangat bagus di pasaran. Petani dapat menanam bunga sebagai selingan seusai panen padi di sawah.

Orang-orang muda di desaku sekarang banyak yang berlayar, menjadi awak kapal pesiar. Tidak sedikit yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang besar.Di samping tentu saja bisa singgah di negeri-negeri asing di mana pun di seluruh dunia. Sebuah petualangan tersendiri sebagai anak buah kapal yang mengasyikkan bagi anak muda yang mengalaminya.

Kabupaten Karangasem melingkupi pemerintahan di tingkat   kecamatan. Kabupaten ini termasuk wilayah ujung timur Pulau Dewata. Orang-orang berpendidikan tinggi dapat bekerja sebagai pegawai negeri / swasta di Kota Amlapura, yang merupakan ibu kota kabupaten.

Bukit Jambul adalah kawasan wisata yang menjadi primadona desaku. Jalan menuju ke tempat ini berliku-liku, menanjak dan banyak tikungan bila di tempuh dari arah selatan. Sawah-sawah bertingkat di sebelah jalan, tampak hijau ketika musim tanaman padi.

Panorama di Bukit Jambul sangat indah. Para pengunjung sering mengabadikannya dengan kamera / handicam sebagai kenang-kenangan. Di tempat ini ada rumah-makan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati hidangan masakan tradisional.

Bukit Jambul adalah tempat singgah sementara sebelum berangkat menuju daerah tujuan wisata Pura Besakih, yang terbesar  di Bali.

– I Wayan Budiartawan –

6 September 2016

Dari Mana Asal Orang Bali?

Oleh: I Wayan Budiartawan

Penduduk yang kini menghuni Bali dulu berasal dari dua golongan. Yang pertama adalah orang Bali asli  atau dikenal dengan nama Bali Aga dan yang kedua adalah pendatang dari Jawa atau lebih dikenal sebagai Bali Majapahit.

Bali Aga sekarang dapat dilihat di Desa Trunyan. Jika ada kematian orang-orang di desa ini menaruh mayat di bawah pohon ”Taru Menyan”. Menurut kepercayaan masyarakat setempat bau mayat dihilangkan oleh aroma yang keluar dari pohon itu.

Desa Tenganan juga termasuk desa Bali Aga. Penduduk desa ini dikenal oleh masyarakat luas karena mempunyai hasil kerajinan kain tenun Pegeringsingan. Pewarna alami dari daun-daunan menyebabkan kain tenun tradisional ini sangat indah. Tenunan khas masyarakat Bali ini banyak dicari dan harganya mahal.

Bali Majapahit adalah keturunan pendatang dari Jawa. Pada saat Kerajaan Majapahit jatuh karena perang saudara, banyak pengikut-pengikut setia sang raja yang melarikan diri ke arah timur menyeberangi perairan Selat Bali.

Di samping alamnya yang indah, Bali memiliki pesona budaya yang kuat untuk menarik minat para turis. Banyak tamu yang berkunjung ke Bali terutama terpikat dengan tradisi dan adat istiadat yang dipegang teguh oleh rakyat Bali

Di Bali orang-orang Majapahit ini meneruskan tradisi leluhur. Berbagai upacara adat yang bercampur dengan ajaran keagamaan dipertahankan secara ketat. Tempat-tempat ibadah seperti pura, sanggah, merajan dibangun  dengan megah.

Di kemudian hari kebudayaan Bali tersohor di seluruh dunia berkat kunjungan wisatawan yang kian meningkat. Sebagian besar penduduk Bali adalah keturunan Bali Majapahit dan perkembangan aneka seni dan budaya yang menyertainya menjadi santapan dan hiburan bagi pelancong-pelancong dari negeri asing yang berkunjung.



Baca tulisan I Wayan Budiartawan lainnya di sini.

Mybllshtprspctv®

Mutiara dari desa

Oleh: I Wayan Budiartawan

Aku dilahirkan di Desa Pesaban, Karangasem-Bali pada tanggal 1 Oktober 1968.

Desa Pesaban terletak tidak jauh dari Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Bali. Di kaki gunung inilah terdapat Pura Besakih yang merupakan pura terbesar bagi umat Hindu di Pulau Dewata. Setiap hari raya keagamaan banyak orang yang datang untuk bersembahyang ke pura ini. Upacara diadakan secara besar-besaran dan meriah dilengkapi dengan gamelan dan tari-tarian.

Udara di desaku amat sejuk. Cuaca cukup ramah sepanjang tahun. Sebagai bagian dari daerah tropis, desaku mengalami pergantian musim panas dan musim hujan silih berganti.Pada tahun 1963, Gunung Agung meletus. Hujan abu gunung berapi sampai ke desaku. Hal ini mengakibatkan lahan pertanian di desaku sangat subur.

Sebagian besar penduduk di desaku hidup dari tanah pertanian. Para petani menanam padi di sawah. Beras yang dihasilkan cukup melimpah;sebagian untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan sebagian lagi dijual untuk mendapatkan uang. Di desaku ada dua tempat penyosohan gabah; satu milik BUUD/KUD, satu lagi milik perseorangan.

Bibit padi unggul didatangkan ke desaku. Demikian juga obat pembasmi hama (pestisida). Dan tentu saja dipasok pupuk yang cukup bagi para petani. Penyuluhan dari kantor balai pertanian sering dilakukan dengan harapan agar panen dapat berhasil. Para petani di desaku mengolah tanah pertanian pada setiap musim tanam tiba. Pemupukan dan penyemprotan hama dilakukan setelah padi tumbuh.

Sawah diolah dengan membajak dan mencangkul. Di desaku para petani menggunakan bajak yang ditarik dengan sapi. Orang-orang yang lebih modern menggunakan traktor. Tetapi sapi juga dipelihara untuk dijual. Sapi disembelih dan dagingnya diambil untuk dikonsumsi oleh manusia. Daging sapi bernilai gizi tinggi. Sedangkan mesin traktor memerlukan bahan bakar solar untuk menggerakkannya.

Pada saat  mulai berbuah, burung-burung pipit datang menyerbu dan memangsa bulir-bulir padi yang masih hijau. Para petani mengusir burung-burung pipit ini supaya panen tidak gagal karena butir-butir padi habis termakan. Ketika masih kanak-kanak aku sering disuruh ayahku untuk menjaga sawah dan mengusir burung-burung pipit. Para petani sering memasang orang-orangan yang dapat digerak-gerakkan untuk menakut-nakuti burung-burung pipit.

Sistem pengairan di desaku diurus oleh organisasi tradisional yang disebut subak dan para pekaseh. Sistem irigasi meliputi bendungan di sungai, selokan tempat mengalirkan air serta parit-parit kecil yang dipakai untuk menyalurkan air ke petak-petak sawah. Ayahku sendiri selama tiga puluh lima tahun mengabdikan dirinya sebagai kelian pekaseh.

Tananaman selingan setelah musim padi adalah tanaman bunga. Sekarang ini harga bunga di pasaran cukup bagus. Bunga diperlukan dalam berbagai bentuk upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh  penduduk Bali yang sebagian besar menganut agama Hindu. Ketika menjadi murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku pernah diajari guru cara untuk membuat minyak wangi dari bunga. Adapun minyak wangi ini terbentuk dengan proses penyulingan.

Tanaman keras yang ditanam oleh para petani di desaku adalah cengkeh. Cengkeh banyak diserap oleh industri rokok kretek. Dulu harga cengkeh di pasaran jatuh sehingga tidak bisa diharapkan lagi untuk menambah penghasilan. Tetapi, akhir-akhir ini pelan-pelan harga cengkeh naik lagi. Tentu saja para petani di desaku memetik keuntungan.

Cengkeh termasuk tanaman jangka panjang. Pada masa kecilku, ayah menanami tanahnya dengan bibit cengkeh. Ayahku merencanakan pohon-pohon cengkehnya bisa membiayai kuliah diriku dan adikku. Tetapi ketika aku menjadi mahasiswa harga cengkeh sedang anjlok-anjloknya. Terpaksa aku minta biaya kuliah dari seorang paman yang bekerja di sektor wiraswasta dan bergerak dalam bidang pariwisata.

Tanaman keras lainnya yang cocok tumbuh di desaku adalah kopi. Penduduk menanam kopi untuk dikonsumsi sendiri dan sisanya dipasarkan untuk menambah pendapatan keluarga. Saat panen, buah kopi dipetik dan dikeringkan dengan menjemurnya di bawah terik matahari. Setelah benar-benar kering, kopi dibawa ke tukang giling untuk digiling dengan mesin. Di beberapa tempat di Pulau Bali, kopi adalah tanaman primadona karena hasil produksi kopi bisa menjadi sumber penghasilan pokok bagi para petani daerah tersebut.

Ayahku pada masa mudanya tidak ketinggalan juga ikut menanam kopi. Kini pada masa tuanya, ayahku tinggal memetik buah hasil dari pohon-pohon kopi yang ditanamnya dulu. Tetapi seperti  halnya  tanaman pertanian lainnya, harga kopi di pasaran juga mengalami pasang surut. Kadang-kadang jika padi di sawah mengalami masa paceklik, kopi dapat ditukar dengan uang untuk membeli beras.

Di desaku, para petani menanam jagung untuk dijadikan makanan ayam jago (ayam aduan). Biji-biji jagung yang bernas dapat membuat ayam jago kuat berlaga. Jagung dapat juga dijual ke kota. Pedagang-pedagang menjajakan jagung-jagung rebus di pusat-pusat keramaian. Di samping itu jagung muda juga dapat dinikmati orang-orang sebagai jagung bakar di pinggir-pinggir jalan di kota.

Di daerahku, menurut statistik yang dikumpulkan pemerintah, pendapatan terbesar adalah dari hasil panen buah kelapa. Pohon-pohon kelapa ada yang sampai berusia puluhan tahun tetapi masih menghasilkan buah. Penduduk desaku mengolah buah kelapa menjadi minyak. Ada dua jenis minyak yang dapat dihasilkan dari kelapa, yakni minyak kelapa tradisional dan minyak kelapa hasil olahan pabrik.

Minyak kelapa secara tradisional dibuat dengan memarut buah kelapa. Hasil parutan kelapa kemudian diperas untuk mendapatkan santannya. Santan ditaruh pada wadahnya dan dimasak di atas tungku. Kemudian setelah matang, minyak dipisahkan dari air. Setelah ditiriskan, minyak dimasukkan ke dalam botol. Masyarakat tradisional mengerjakan proses pembuatan minyak kelapa dengan tangan.

Di pabrik minyak kelapa dihasilkan dengan mesin pengilangan minyak. Buah kelapa dibelah dan kemudian dijemur untuk dijadikan kopra. Kopra dimasukkan ke mesin press sehingga keluar minyaknya. Minyak yang dihasilkan dengan cara ini masih kotor sehingga perlu disaring lagi supaya bersih. Pada proses ini pembuatan minyak dilakukan secara otomatis oleh mesin.

Bagi wiraswastawan yang kreatif, kelapa dapat dinikmati ketika masih muda sehingga terbuka peluang untuk menghasilkan rupiah dengan berjualan es kelapa muda. Kelapa muda juga disajikan di restoran-restoran untuk diminum oleh tamu-tamu asing/dalam negeri. Pada siang hari, di tengah panasnya matahari tropis, es kelapa muda dapat menjadi pelepas dahaga. Di pinggir-pinggir pantai bisa disaksikan para wisatawan melepas lelah sambil menikmati kelapa muda.

Permintaan pasar akan buah coklat dewasa ini meningkat dengan tajam. Kebutuhan coklat di pasok dari desa.Coklat digunakan pada berbagai olahan kue termasuk kue bolu dan terutama biskuit. Di samping itu ada juga produk susu coklat dengan berbagai merek yang dipajang di swalayan-swalayan. Coklat-coklat batangan telah dijual di warung-warung sampai ke pelosok-pelosok tanah air.

Petani coklat di desaku juga eksis. Ayahku bisa bernafas lega karena coklat yang ditanamnya telah dapat dipanen. Para pedagang perantara di desaku mencari coklat sampai ke rumah-rumah penduduk untuk dibeli dengan harga bersaing. Ayahku setiap habis memetik buah coklat langsung bisa mengantungi uang tunai dari pedagang. Rezeki di tangan Tuhan. Ayahku bisa mendapatkan uang untuk membeli bumbu dapur dan kebutuhan mendesak lainnya.

Pada masa kanak-kanak aku sering pergi ke sawah untuk menanam kacang panjang. Kacang panjang dapat dipakai sebagai bahan sayur hijau. Biji kacang panjang ditanam di atas lahan. Di samping itu ditancapkan juga batang kayu/bambu sebagai penyangga tempat menjalarnya tanaman kacang panjang. Buah kacang panjang yang telah dewasa dapat dipetik langsung dari pohonnya. Kacang panjang dapat dinikmati dengan menumisnya.

Hingga belasan tahun yang silam aku masih bisa menyaksikan kacang panjang semobil penuh di jalan raya  yang hendak dipasarkan ke kota terdekat. Di tempat lain rupanya kacang panjang diproduksi dalam jumlah yang besar oleh para petani. Kacang panjang telah menjadi produk sayuran unggulan sampai saat itu. Sekarang ini kacang panjang dijual eceran per ikat di warung-warung di desaku.

Di pekarangan rumahku ditanam sayuran bayam. Bayam, karena mengandung vitamin,  sangat dianjurkan dimakan oleh puskesmas. Daun bayam dapat dibuat menjadi sayuran yang lezat bila dicampur dengan kacang merah. Dulu pada waktu kuliah sayur sejenis ini disediakan oleh kantin kampus. Harganya cukup murah untuk kocek mahasiswa anak indekosan.

Bayam pun di jual di pasar per ikat. Ada berbagai produk sayuran dari lahan pertanian yang bisa menghasikan uang. Bayam adalah salah satunya yang gampang ditanam di lahan kosong. Karena curah hujan di desaku cukup besar maka tanaman bayam dapat tumbuh dengan subur. Lain halnya jika lahan kering tanaman bayam perlu disiram dengan air.

Dulu tanaman vanili pernah menjadi produk andalan di desaku. Di mana-mana para petani menanam vanili yang kala itu bernilai jual tinggi di pasaran. Tetapi, kini mungkin karena telah ditemukan bahan kimia sintetik untuk membuat rasa vanili, tanaman vanili alami mulai digeser. Seperti disiarkan kejadiannya di televisi beberapa waktu yang lalu, di sebuah negara di Afrika, vanili sintetik telah menggantikan tanaman vanili  alami.

Untuk sarapan pagi pada masa kecilku sering disediakan talas, ubi, ketela rambat, dan ketela pohon. Semuanya disajikan oleh nenekku dengan merebusnya sampai matang. Ketika itu kakekku menanam produk-produk pertanian tersebut pada lahan yang tersedia. Belum lama berselang makanan kecil ini dipamerkan di televisi oleh wali kota Tangerang sebagai makanan Era Reformasi. Pada jaman Orde Baru peranannya digantikan oleh beras.

Salah satu kue khas Indonesia terbuat dari singkong. Namanya kue getuk lindri. Kue ini dibuat dengan merebus / mengukus singkong sampai matang. Tentu saja terlebih dahulu singkong dikupas, dipotong-potong kemudian dicuci bersih. Singkong yang telah matang ditumbuk sampai halus. Gula merah juga ditumbuk bersama singkong rebus/kukus. Jadilah kue getuk lindri.

Ibu-ibu di desaku suka membuat penganan pisang goreng. Pisang goreng dibuat sebagai persembahan (sesajen) pada upacara pemujaan leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Hindu Bali. Setelah selesai upacara pisang goreng dapat dimakan anggota keluarga. Sisanya bisa diberikan pada tetangga/kerabat yang membutuhkannya. Pisang goreng umum dijadikan bahan sesajen di desaku karena mudah dibuat dengan bahan-bahan yang dihasilkan sendiri.

Masih teringat aku waktu kecil diajak oleh ibuku untuk berjualan pisang goreng. Buah pisang diiris-iris dengan pisau. Kemudian dicampurkan dengan adonan tepung beras. Irisan buah pisang yang telah dilumuri tepung beras kemudian digoreng dengan minyak kelapa. Pisang goreng kemudian diangkat dari kuali dan telah siap disajikan kepada pembeli.

Beberapa orang di desaku beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai negeri. Mereka menjadi aparatur negara. Ada yang menjadi guru di sekolah-sekolah dan ada juga yang bekerja sebagai pamong di lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Tidak kalah hebatnya satu atau dua orang ada saja yang diterima menjadi anggota TNI. Mereka bertugas sebagai penegak hukum.

Perusahaan-perusahaan swasta terutama yang bergerak di bidang pariwisata juga banyak membutuhkan tenaga kerja. Tetapi mereka terlebih dahulu harus dididik menjadi tenaga terampil di sekolah-sekolah pariwisata yang jumlahnya menjamur di Pulau Bali ini. Mereka jika telah bekerja mendapatkan imbalan berupa uang yang sepadan, sesuai dengan jasa pelayanan yang diberikan kepada tamu-tamu asing/dalam negeri.

Generasi muda di desaku pada masa kini sebagian pernah melanglang buana ke seantero dunia. Mereka bekerja sebagai awak kapal persiar. Tantangan untuk bertualang banyak ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan pelayaran (dalam hal ini kapal pesiar). Mereka bekerja keras, maju terus dan pantang mundur. Pada masa muda mereka berlayar untuk mengumpulkan uang. Ada yang sukses dan ada juga yang gagal seperti halnya lumrah terjadi pada profesi apapun yang ditekuni orang.

Di antara ribuan penduduk di desaku hanya sebagian kecil yang memilih hidup berwiraswasta. Ada yang berwirausaha menjadi pemasok bahan bangunan. Ada juga yang mendirikan biro perjalanan untuk menyediakan angkutan bagi para wisatawan mancanegara dan dalam negeri. Pamanku sendiri melihat kesempatan dan peluang untuk mendirikan usaha percetakan. Wiraswasta membutuhkan kejelian. Bidang pekerjaan ini banyak menanggung resiko kegagalan.

Petani di desaku termasuk petani gurem. Mereka terpaksa harus berjuang di lahan yang sempit. Jarang ada petani yang mempunyai sawah lebih dari 25 are sebagai syarat untuk dapat hidup layak. Dulu puluhan penduduk desaku memilih ikut program transmigrasi. Mereka pindah ke Sulawesi untuk mendapatkan tanah garapan yang lebih luas. Mereka menjual tanah serta harta benda mereka di desa dan berangkat untuk mengubah nasib mereka. Mereka ada yang mampu membeli tanah seluas 1 hektar di daerah transmigrasi. Mereka termasuk transmigran swakarsa karena berangkat dengan biaya sendiri.

Itu puluhan tahun yang silam. Kini petani di desaku menanam bunga sebagai tanaman selingan sehabis bertanam padi. Tanaman bunga selain harganya di pasaran cukup bagus juga membutuhkan lahan yang tidak terlalu luas. Banyak petani yang bisa bertahan hidup (survive) di tanah yang sempit dengan menanam bunga. Bahkan hingga saat ini ada kira-kira dua ratus orang yang menanam bunga sebagai sumber penghidupan mereka. Alam memang adil.

Bukit Jambul adalah kawasan pariwisata terkenal yang terdapat di desaku. Wisatawan mengunjungi tempat ini karena terpaku pada panoramanya yang indah Sejauh mata memandang tampak bukit dan perbukitan di celah-celah angkasa dengan langit yang membiru. Awan tipis menyelimuti udara dan bertebaran ke mana-mana. Di lembah-lembah tampak persawahan yang tertata rapi bertingkat tingkat.

Angin bertiup lembut bila menerpa kulit. Matahari bersinar cerah. Sinarnya yang berkelip-kelip terpantul pada dedaunan dan bunga-bunga tanaman tropis yang tumbuh di sini. Hawa pegunungan yang sejuk menjadi ciri khas kawasan wisata ini. Sungguh sangat eksotis, makanya terkenal ke seluruh penjuru dunia.

Wisatawan mancanegara / dalam negeri banyak yang membawa kamera untuk memotret pemandangan. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang memakai handicam untuk merekam keindahan kawasan ini dan alam di sekelilingnya. Tidak bosan-bosannya mereka menyaksikan kawasan ini dari jarak dekat. Terbersit rasa kagum mereka pada kawasan pariwisata yang menjadi tempat favorit mereka ini.

Di kawasan wisata pedesaan ini ada dua atau tiga restoran yang buka tiap hari, yang menawarkan  aneka rupa hidangan khas. Wisatawan dapat menyantap makanan sambil menikmati minuman yang disajikan.Ketika sedang makan dan minum, mereka dapat melihat hamparan sawah hijau yang terletak di kawasan wisata ini. Kawasan wisata ini adalah ladang emas bagi warga desa. Pemilik restoran menyerap tenaga kerja yang berasal dari warga desa sehingga jumlah pengangguran bisa ditekan.

Para wisatawan singgah di kawasan ini dalam perjalanan menuju Pura Besakih. Mereka mengendarai berbagai macam alat transportasi. Lahan parkir yang tersedia cukup untuk menampung bus-bus pariwisata yang berukuran besar. Mereka beristirahat di sini untuk menghirup udara segar sejenak serta untuk menghilangkan rasa jenuh dalam perjalanan panjang yang mereka harus tempuh agar sampai di tujuan.

Sekarang desaku telah mendapatkan fasilitas dari pemerintah yang berupa aliran listrik PLN, sambungan telepon Telkom, dan saluran air bersih PAM. Dulu penduduk menggunakan lampu templek yang menggunakan bahan bakar minyak tanah sebagai sumber penerangan di malam hari. Warga desa mencari air ke mata air yang terdapat di tepi sungai. Jaraknya sangat jauh dari lokasi pemukiman.

Warga desaku sekarang dapat menikmati pelayanan kesehatan pada Puskesmas Cabang Pembantu yang didirikan Departemen Kesehatan RI. Puskesmas Cabang Pembantu di desaku diurus oleh tenaga perawat/bidan yang menyandang status pegawai negeri sipil. Dulu orang-orang di desaku jika sakit harus berobat ke Poliklinik yang terdapat di Desa Nongan. Atau sering terjadi mereka harus berobat ke puskesmas kecamatan.

Pendidikan di desaku dimulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Selanjutnya pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang juga terletak di desaku. Jika ingin meneruskan sekolah para siswa dapat masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terletak di kecamatan. Wajib belajar 9 tahun yang didengung-dengungkan pemerintah pusat telah sampai ke desaku.

Bermain-main pada masa kecilku

Oleh: I Wayan Budiartawan

Tanaman petai cina tumbuh dengan rindang di ladang-ladang di desaku. Jika sudah cukup umur, pohon-pohon petai cina ini pun ditebang. Kayunya diambil untuk bermacam-macam keperluan terutama dipergunakan sebagai kayu bakar. Penduduk di desaku, bahkan di abad modern ini, masih ada yang memasak di dapur  memakai kayu bakar. Kayu petai cina sangat ringan dan mudah dikeringkan sehingga bagus untuk kayu bakar.

Aku suka bermain dengan baling-baling yang terbuat dari buah petai cina yang telah kering. Mainan ini bisa berputar-putar ditiup angin asalkan diarahkan pada angin yang lagi bertiup. Putarannya ringan, kadang-kadang cepat dan kadang-kadang lambat, sesuai dengan kencangnya tiupan angin. Bermain-main dengan baling-baling buah petai cina kering sangat mengasyikkan bagiku kala itu. Masa kanak-kanak yang indah untuk dikenang.

Buah petai cina yang telah kering berjatuhan dari pohonnya. Alam melengkapi tanaman ini dengan buah untuk berkembang biak. Buah petai cina mengandung biji yang dapat tumbuh kembali menjadi pohon petai cina baru. Dengan demikian  tanaman petai cina dapat dikembangkan oleh para petani untuk dijadikan tanaman lindung.

Tanaman petai cina adalah sejenis tanaman lindung. Oleh karena itu banyak dibudidayakan. Jika hujan deras turun, dedaunan dan pohon serta akar tanaman petai cina dapat menyerap air. Akibatnya lahan pertanian terlindung dari banjir. Kesuburan tanah tidak terkikis oleh jatuhnya hujan. Erosi pada lahan pertanian dengan demikian bisa dihindari.

Tetapi bagiku dan juga bagi anak-anak yang lain yang seusia dengan diriku, buah petai cina adalah bahan untuk membuat mainan. Aku setiap kali memungut buah petai cina yang telah kering yang jatuh dari pohonnya. Buah petai ini lalu dikupas dan bijinya dipisahkan dari kulitnya. Kulit ini dilubangi di tengah-tengahnya. Lalu dipasangi sumbu dari lidi/bambu dan biji petai ditusuk dengan sumbu untuk menahan kulit buah petai agar tetap bertahan di sumbunya. Jadilah baling-baling mainan.

Di desaku angin sering bertiup. Anak-anak memanfaatkan angin ini untuk bermain layang-layang. Jika arah angin diikuti, layang-layang dapat melesat naik ke udara. Anak-anak menarik layang-layang dengan benang. Di ketinggian, layang-layang dapat mengapung di udara berlama-lama. Dari bawah, di tanah anak-anak memandang ke langit sambil menikmati mainannya ini.

Sering kali aku bermain layang-layang di lapangan. Aku mengulur benang dari gulungannya serta menarik-narik layang-layang agar dapat menanjak naik di udara. Bermain layang-layang adalah hiburan yang menyenangkan. Aku sangat asyik bermain-main. Berjam-jam lamanya, tidak terasa waktu berlalu. Tetapi ada kalanya tali layang-layang putus. Layang-layang melambung di udara dan lama kelamaan lenyap dibawa angin.

Mainan layang-layang dapat dibuat dari kertas rayon. Sebagai kerangkanya dapat digunakan bambu. Kerangka layang-layang  dibikin berbentuk segi empat persegi. Kemudian kertas rayon, yang telah dipotong sesuai dengan bentuk kerangka, dipasang dengan menempelkannya pada kerangka memakai lem perekat. Kemudian diberi tali penyeimbang. Selesailah layang-layang mainan.

Di kawasan pariwisata tertentu di Pulau Bali, layang-layang dipertunjukkan kepada tamu-tamu asing/dalam negeri sebagai hiburan menarik. Umumnya di tepi pantai, para wisatawan dapat menonton layang-layang di udara bebas. Layang-layang yang ditampilkan dibuat berwarna-warni. Bentuknya pun dibuat bermacam-macam. Ada layang-layang berbentuk seperti ikan, ada yang berbentuk rumah-rumahan dan lain-lain.

Setiap tahun di Pulau Bali diadakan kontes layang-layang. Lumayan banyak perserta yang berminat dalam perlombaan ini. Peserta berasal baik dari mancanegara maupun dalam negeri. Panitia dan juri dibentuk. Juri memberikan penilaian yang tertinggi pada kreativitas dari para peserta yang menampilkan layang-layang ciptaannya. Dan tentu saja orisinalitas (keaslian) ide dari karya layang-layang juga berpengaruh pada keputusan final untuk menentukan pemenang kontes berhadiah ini.

Bagi yang gemar berwiraswasta layang-layang juga dapat dijual untuk menghasilkan uang. Pengusaha merancang/mendesain layang-layang sesuai dengan selera konsumen. Di antara pengusaha pembuat layang-layang ada yang telah sukses mengekspor layang-layang ke luar negeri. Pasaran aneka macam mainan di manca negara dapat mendongkrak perolehan devisa.

Alam di desaku masih perawan dan belum pernah dijelajahi. Pada malam hari jengkerik berbunyi merdu.. Di sela-sela kesunyian malam, telinga yang mendengarnya menjadi lebih awas. Bunyi jengkrik yang ditimpa desau angin malam, menambah syahdu suasana alam pedesaan. Sinar rembulan menerpa bumi dengan lembutnya. Sayup-sayup terdengar suara burung pungguk memanggil-manggil.

Pada masa kanak-kanak, aku dan teman-temanku acap kali pergi ke sawah untuk mecari jangkrik. Aku berangkat sore hari menjelang malam. Jengkerik hidup bersarang di celah-celah tanah persawahan. Begitu mendengar suara jengkerik, aku berhati-hati mendekati tempat asalnya suara itu. Aku memergokinya,lalu aku menangkapnya dan memasukkannya ke dalam bumbung.

Anak-anak di desaku suka sekali memelihara jengkerik. Jengkerik ditaruh dalam sarang buatan yang terbuat dari bumbung bambu. Jengkerik dipelihara di dalam rumah untuk dinikmati suaranya yang khas dan indah. Makanan jengkerik ini adalah bunga-bunga rumput. Binatang ini akan mengeluarkan bunyi apabila bulu-bulunya digelitik dengan tangkai rumput.

Sarang jengkerik dapat dibuat dari bumbung bambu yang dirancang sedekat mungkin dengan lingkungan alaminya. Batang bambu kecil dipotong dengan gergaji. Bagian tepi batang bambu lalu diberi lubang persegi empat yang berfungsi sebagai ventilasi tempat masuknya udara untuk bernafas. Tangkai rumput dimasukkan di lubang ini untuk memberi makan jengkerik sekaligus untuk menggelitik bulu-bulu jengkerik agar mengeluarkan bunyi.

Sebagian anak-anak kecil di desaku suka menghibur diri dengan mengadu jengkerik. Mereka berkumpul dengan membawa bumbung bambu yang berisi jengkerik aduan mereka. Sambil menggelitik dengan tangkai rumput, mereka memasukkan jengkerik lawannya ke dalam satu bumbung bambu. Jengkerik beradu dan yang kalah akan lari. Suara-suara jengkerik ramai meningkahi suasana.

Sungai di desaku termasuk sungai yang bersih. Airnya jernih. Di hulu desaku sungai ini dibendung untuk mengairi sawah-sawah petani. Aliran air irigasi ini cukup untuk memasok air yang digunakan di sawah-sawah di seantero desa. Kebutuhan akan air irigasi ini sangat terasa mendesak terutama ketika musim kering. Hujan sangat jarang turun dan debit air mengecil.

Tetapi di musim hujan sungai membludak. Airnya berlumpur berwarna kecoklat-coklatan. Berbagai macam sampah dan kotoran turut hanyut bersama air. Sungai pun kotor jadinya. Air mengalir deras meluap-luap sampai ke pinggiran sungai. Banjir dan air bah dapat terjadi kapan saja bila hujan turun dengan deras. Banjir dapat menggenangi sawah-sawah yang lokasinya di dekat sungai. Tanaman-tanaman pertanian turut dirusak air banjir. Akibatnya para petani menderita kerugian.

Di masa lalu alam memang ramah dengan manusia. Tetapi, seiring dengan waktu, manusia mulai terjepit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka membabat tanaman pelindung di tepi sungai. Tanah di sana menjadi goyah dan labil sehingga mudah longsor bila hujan mengguyur dengan derasnya. Diperlukan kesadaran yang mendalam untuk menanami tanah-tanah dengan hutan lindung. Hal ini sesuai dengan ajaran filsafat ajaran agama Hindu di Bali, yakni Tri Hita Karana.

Jalan menuju sungai sangat panjang dan berliku-liku. Jalan ini adalah jalan setapak yang ukurannya sangat sempit dan kecil. Penduduk menempuh perjalanan ke sungai dengan berjalan kaki dan memakan waktu yang lumayan lama. Dulu penduduk mencari air untuk diminum di mata air yang terdapat di tepi sungai. Tetapi sekarang saluran air PAM telah dapat memenuhi kebutuhan penduduk akan air bersih.

Berenang di sungai adalah permainan yang cukup menantang. Dulu aku sering melakukannya pada sore hari, menjelang matahari terbenam. Aku sering berenang bersama teman-teman masa kecil, menguras tenaga dengan melakukan gerakan dari hulu ke hilir. Hatiku gembira dan beban dalam pikiran pun lenyap seketika. Setelah selesai, lalu aku membersihkan diriku dan membasuh tubuhku dengan air pancuran.

Di sawah-sawah di desaku terdapat dangau yang terbuat dari jerami. Fungsinya adalah sebagai kandang sapi. Petani memelihara sapi untuk membantu bekerja di sawah. Sapi digunakan untuk menarik bajak. Di samping itu ternak sapi bernilai jual tinggi. Daging sapi cocok untuk dikonsumsi karena kandungan proteinnya tinggi. Petani menyabit rumput dan memberi makan sapi di kandangnya.

Tanaman padi juga menghasilkan jerami. Jerami sering dijadikan pakan sapi oleh petani di desaku. Tetapi jerami dapat juga diikat dan dibentuk untuk membuat dangau yang dipakai sebagai kandang sapi. Jerami bisa dijadikan dinding dan juga atap kandang. Kerangka bangunan kandang dapat dibuat dari bambu dan kayu supaya dangau dapat berdiri tegak.

Anak-anak di desaku suka sekali meniup terompet yang terbuat dari jerami. Terompet ini dibuat dengan memotong jerami dengan sabit. Di dekat bukunya, batang jerami diiris untuk membuat lubang tempat udara masuk. Terompet jerami pun siap ditiup. Anak-anak masing-masing meniup terompet jerami di tengah-tengah sawah. Suaranya ramai dan bersahut-sahutan. Aku diajari ayah membuat terompet dari jerami. Itulah pelajaran pertama dalam hidupku yang tak pernah aku lupakan.

Di desaku mainan mobil-mobilan dari pabrik jarang ada yang sanggup memilikinya. Harganya sangat mahal bila dibandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat di desa. Mainan mobil-mobilan ada yang terbuat dari bahan plastik dan ada juga yang terbuat dari logam. Ada yang harus ditarik dengan benang dan yang paling canggih bisa bergerak sendiri dengan daya yang tersimpan pada pegas.

Mainan mobil-mobilan dari pelepah pisang sangat digandrungi oleh anak-anak seusiaku di desa. Batang pelepah pisang dipotong sesuai dengan bentuknya. Ada yang digunakan untuk roda dan ada juga yang digunakan untuk badan mobil-mobilan. Anak-anak di desaku bermain mobil-mobilan buatan sendiri dengan ceria. Pelepah daun pisang sayang untuk dibuang.

Daun pisang dapat dijual ke pasar. Biasanya digunakan sebagai pembungkus makanan, kue-kue, bumbu-bumbu dapur dan lain-lain. Tidak seperti sekarang pembungkus makanan biasanya sudah terbuat dari karton yang dibikin oleh pabrik. Dulu, ibu-ibu di desaku menjual daun pisang untuk mendapatkan uang. Pedagang-pedagang nasi bungkus sebagian besar memakai daun pisang untuk membungkus dagangannya. Tetapi sekarang bahkan pedagang kue-kue tradisional di desaku pun sudah memakai plastik sebagai pembungkus kuenya.

Senapan mainan anak-anak yang terbuat dari bambu banyak dijumpai di desaku. Bentuknya menyerupai piston. Pelurunya terbuat dari umbi ketela rambat. Apabila tangkai ditekan masuk ke lubang senapan bambu, peluru pun meletus. Selanjutnya senapan diisi dengan peluru lagi sebelum ditembakkan kembali. Apabila ditekan dengan tenaga yang kuat, peluru yang melesat keluar ujung senapan dapat mencapai jarak kira-kira dua puluh meter.

Anak-anak di desaku suka main perang-perangan. Aku dan teman-temanku meniru-nirukan semangat pejuang-pejuang negeri ini yang bergerilya merebut kemerdekaan dari penjajah bangsa asing. Tanaman orok-orok di tengah saya menjadi medan pertempuran. Aku bermain perang-perangan di sana dengan teman-teman sebayaku.

Pelajaran sejarah di sekolahku diajarkan  untuk menanamkan nilai-nilai kepahlawanan para perintis kemerdekaan bangsa. Bacaan-bacaan di perpustakaan sekolahku sebagian besar berisi cerita-cerita pertempuran di garis depan pada tahun 1945. Aku membaca buku-buku ini dengan bersemangat dan jantungku berdegup-degup dengan kencangnya. Perjuangan belum selesai. Negeri ini mesti membangun. Keyakinan tidak boleh pudar. Semangat jangan sampai luntur.

Di televisi menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI selalu diputar film perjuangan yang mengisahkan perjuangan fisik di tahun 1945. Maksudnya tentu agar generasi muda masa kini bisa mewarisi cita-cita pejuang-pejuang bangsa ini yang mengangkat senjata untuk melawan tentara musuh. Aku sangat terharu menonton film ini. Lagu Padamu Negeri dinyanyikan secara khidmat.

Generasi muda sekarang perjuangannya jauh lebih berat. Kemerdekaan yang diperoleh bangsa ini mesti diisi dengan pembangunan di segala bidang. Jika tidak, bangsa ini akan jauh ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Anak-anak muda zaman sekarang mesti belajar dengan keras untuk menguasai ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara.

Tersebutlah Bapak Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Beliau adalah seorang pahlawan nasional yang berasal dari Bali. Pada tahun 1945 beliau memimpin pergerakan yang bertujuan untuk merebut kemerdekaan RI dari tangan penjajah Belanda. Pada tahun 1946, pesawat tempur yang ditumpangi beliau tertembak jatuh oleh tentara Belanda. Pesawat jatuh dan hancur berkeping-keping. Beliau gugur sebagai kusuma bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Semangat juang beliau sampai saat ini dikenang dalam sejarah.

Di desaku ada mainan yang disebut dengan macan-macanan. Permainan ini tentang umpan dan sang macan. Anak-anak di desaku menggunakan batu-batu kerikil  untuk memainkan macan-macanan. Batu-batu kerikil yang lebih kecil dipakai untuk memerankan umpan, sedangkan batu-batu kerikil yang lebih besar dipakai untuk memainkan macan. Medannya di buat dengan goresan kapur tulis yang berbentuk kotak-kotak kecil persegi empat.

Mainan rakyat  Bali ini diangkat oleh Teater Kukuruyuk di Denpasar. Teater Kukuruyuk dipimpin oleh Drs. I Made Taro. Beliau sering mengadakan pertunjukkan teaternya di televisi lokal. Permainan macan-macanan diangkat dan diberi latar belakang gerakan-gerakan dasar tarian bali yang dipadukan dengan bunyi-bunyian dari pentungan bambu sebagai gamelan/music yang mengiringinya. Aku sangat terpukau menonton permainan ini.

Permainan petak umpet juga dikenal juga di Bali. Permainan ini dimainkan oleh gadis-gadis kecil. Mereka bermain-main dengan melompat-lompatkan kaki di sekitar medan permainan. Medan permainan dibuat dengan mengguratkan kapur tulis di atas tanah. Bentuknya adalah kotak-kotak persegi. Permainan ini berfungsi untuk melatih ketangkasan terutama kaki dan anggota gerak tubuh lainnya.

Sebagai bagian tradisi keseharian masyarakat Bali, permainan inipun pernah diangkat oleh Teater Kukuruyuk di Denpasar. Permainan ini dikemas dalam pertunjukan teater rakyat untuk disajikan sebagai tontonan televisi. Gadis-gadis kecil dengan lincah memerankan permainan masyarakat Bali ini.  Pertunjukan Teater Kukuruyuk amat digemari rakyat Bali. Pendirinya adalah Drs. I Made Taro. Beliau  adalah guruku di SMA 2 Denpasar.

Permainan yang paling modern yang aku kenal pada masa kanak-kanak adalan yoyo dan juga kelereng.Yoyo bentuknya bundar dan sumbunya diikat dengan benang. Yoyo dimainkan dengan mengayun-ayunkan badan yoyo. Tangan menariknya ke atas dan pemain menangkap yoyo dengan telapak tangan dan kemudian melepasnya lagi dengan menyentakkannya ke bawah. Yoyo berputar sesuai gaya gerak yang diberikan tangan.

Kelereng sering dimainkan oleh gadis-gadis kecil. Kelereng dilentingkan di atas lantai bila bermain. Lantai akan memantulkan kelereng ke atas. Tangan pemain menangkap kelereng dan kemudian melepaskannya supaya melenting ke lantai lagi. Demikianlah seterusnya. Tangan pemain bergerak sambil mengambil perolehan. Perolehan yang berupa batu-batu kerikil diambil satu persatu dari lantai setiap kelereng memantul. Permainan gundu hampir sama dengan permainan kelereng.

Ilmu fisika modern ada hubungannya dengan permainan kelereng. Terutama mengenai peristiwa tumbukan. Konsep fisika modern sangat pelik dan sukar dipahami. Bagi pemula permainan seperti  kelereng pada masa kanak-kanak dapat membantu memahami teori ini. Begitu juga dengan para ahli psikologi; mereka menyarankan agar anak-anak banyak bermain. Permainan hampir menyerupai simulasi pada komputer.

Bayi yang baru lahir dibelikan balon sebagai mainan oleh ibunya. Balon ini berisi gas ringan. Jika dilepas, balon dapat melayang ke udara. Balon diikat dengan tali dan bayi menyukai mainan balonnya. Ada juga sejenis balon yang berbunyi seperti terompet. Dua balon disekat dengan bambu kecil di antaranya. Bambu ini mengeluarkan bunyi serupa terompet bila salah satu balon yang terletak di sisi bambu dipencet dengan tangan. Mainan ini ada hubungannya dengan hukum fisika mengenai tekanan yang dikemukakan oleh John Dalton.

Pada peringatan hari-hari besar yang dilangsungkan di alun-alun kecamatan ada penjual mainan anak-anak yang menjajakan dagangannya. Mereka merantau dari Pulau Jawa untuk  mendulang rezeki di daerah ini. Mainan kapal laut sangat menarik. Demikian juga mainan mobil-mobilan tidak kalah mengasyikkannya. Mainan terbuat dari karet dan logam seperti seng. Kadang-kadang ada juga yang menjual pistol mainan dan tentu saja tidak asing lagi mainan.kembang api.